
"Kamu yakin Airy? Mau ajak aku nangkring di pohon setinggi ini?" tanya Adam.
Airy mengangguk.
Sebenarnya Adam ini tidak bisa memanjat, tetapi malu untuk mengakuinya kepada Airy, sudah keringat dingin tubuh Adam, untung saja Raihan sudah pulang, dan pulang bersama dengan Keny.
"Assallamu'alaikum, lagi pada ngapain nih pagi-pagi dibawah pohon aja deh kalian, hayoo ngapain!" seru Keny.
"Wa'alaikum sallam, Om Keny, waah Om gantengku ini apa kabar?" teriak Airy manja.
"Wooo, udah jangan sok manja gini. Udah mau nikah juga, Uti ada?" tanya Keny.
"Di dalem, masuk aja. Bang Raihan juga udah pulang?"
Seketika hati Adam sangat lega melihat kedatangan Raihan. Ia akan sangat malu jika Airy tahu bahwa dia tidak bisa msmanjat pohon. Langsung saja Adam mengajak segera Raihan untuk berangkat.
"Kalian mau berangkat sekarang? Sebenarnya mau kemana sih? Lima hari kan lama, lagian Abang nggak sekolah?" Tanya Airy.
__ADS_1
"Kenapa? Takut kangen sama Abang?" Tanya Raihan menaik turunkan alisnya.
"Bodo ah, udah sana, cepat berangkat dan cepat kembali. Aku nggak jadi nangkring, tapi mau pulang aja, kalian hati-hati di jalan ya, Assallamu'alaikum warohmatullahi wabbarokatuh." Ucap Airy sembari berlari.
"Wa'alaikum sallam warohmatullahi wabbarokatuh, huh lega. Kamu datang di waktu yang tepat Raihan, ayo kita berangkat." Ajak Adam.
Entah rasa apa yang Airy rasakan, dadanya seperti sesak saat pergi meninggalkan Adam, bahkan seperti ingin nangis saat Adam pamit selama lima hari akan pergi.
"Aku iki pendekar wani perih, kok nyesek gini sih, rasanya nggak enak. Sama rasanya seperti pohon kesayangan di samping rumah di tebang," kata Airy dalam hati.
"Opo sih iki? Seperti ada yang egh gitu di hati," Airy bergumam sendirian.
"Wahahaha mbake edan, ngomong sendiri hahaha sadar mbak," ada beberapa gerombolan anak kecil yang mengejek Airy.
"Mbak ciloknya,"
Seorang tukan cilok lewat di depan Airy, lalu menawari Airy cilok dengan berbagai isian di dalamnya. Karena Airy suka dengan telur puyuh, maka ia beli cilok yang isinya telur puyuh.
__ADS_1
"Heih, emejing, kebanyakan bakso Bang isi telur puyuh, ini cilok juga isi telur puyuh. Kalau gitu aku kau deh, 20 ribu ya. Bumbu pisah, ini uangnya!" seru Airy dengan gaya sok arab.
"Wah uangnya kegedean nduk, tak tuker dulu ya" kata Abang cilok itu.
Karena tidak mau menunggu lama, Airy memberikan semua uang itu kepada tukan cilok. Tanpa Airy sadari jika ia tidak bawa uang lagi, dan bahan bakar dari motornya habis.
"Yah, bensinnya habis, haduh! Mana nggak bawa uang lagi aku, Subhanallah, cobaanmu ini ya Allah, terima kasih Engkau masih sayang padaku!" Airy tidak mengeluh sama sekali.
Ia turun dari motornya, dan mendorong sampai jauh, bahkan tidak ada satu orangpun yang menolongnya. Akhirnya ia mendorong sendiri sampai kerumah. Dengan nafas yang terengah-engah Airy masuk ke rumah langsung masuk kedapur.
"Assallamu'alaikum, Ami belum berangkat ke rumah sakit?" tanya Airy mengambil air dingin di kulkas.
"Wa'alaikum sallam, sebentar lagi. Minumnya duduk dong Airy, nggak baik seperti itu, mana kunci motornya?" Nampak Aisyah sangat terburu-buru, karena ia ingin mengantarkan sarapan Rifky yang belum sempat ia makan.
"Habis bensin, huh aku dorong dari lampu merah pertama tadi, bawa mobil saja lah Ami. Aku tinggal dulu ya, mau mandi lagi, gerah." Airy ini sangat tidak jelas.
Baru sehari saja Airy dirumah sudah membuat Aisyah pusing. Ini Adam dan Raihan meminta Airy untuk di rumah sampai puasa kedua, baru berangkat ke pesantren.
__ADS_1