
"Abaikan mereka, Suf! Memang mereka ini tak tau adab!" kilah Aminah.
"Aminah!" seru Airy dan Laila bersamaan.
Airi dan Laila pun mengejar Aminah dan terjadilah mereka saling berkelahi dan saling memukul satu sama lain. Meskipun bukan mukul beneran, tapi memang saat ini mereka sedang berantem. Ada yang saling jambak menjambak jilbab, ada juga yang saling tarik-menarik baju. Yusuf dan juga Naira sudah sangat kewalahan untuk memisahkan mereka bertiga, sementara Rafa dan Zahra malah tertawa terpingkal-pingkal melihat Mama dan tantenya berkelahi.
"Mama, aku pilih Mama. Ayo Ma, semangat!" teriak Rafa.
"Baiklah kalau gitu, aku pegang Tente manis, Tante Laila! Ayo semangat Tente!" sahut Zahra.
"Heh, selama ini, yang ngurus kalian itu siapa? Me! Tante galak harusnya yang kalian dukung, bukan Tante yang ini..... "
Belum juga Aminah menyelesaikan ucapannya, mulutnya sudah dicomot saja oleh tangan, Laila. Mereka kembali bertempur hingga membuat Yusuf dan Naira ikut serta di dalamnya. Terbukalah pintu, jeng jeng jeng, ternyata yang datang adalah Adam dan Raihan.
"Astaghfirullah hal'adzim," ucap Adam.
"Berhenti!" seru Raihan.
Semua pun berhenti. Jilbab mereka acak-acakan, bajunya juga lusuh, dan ada bekas merah-merah di wajah masing-masing. Sementara Yusuf, ia sedang merapikan pecinya.
__ADS_1
"Nggak yang tua, nggak yang muda. Ribut aja bisanya, ada anak-anak di belakang! Ajarin yang bener, dong!" tegas Raihan.
Munculah Syakir, ia membawakan beberapa makanan dari aula untuk Rafa, Zahra dan yang lainnya. Adam pun meminta Syakir untuk membawa anak-anak bersamanya. Karena mereka berdua tidak boleh melihat Mama dan para Tante nya di hukum.
"Baik! Ayo anak-anak, ikut ke rumah kakek, yuk! Kakek punya gulali enak," ajak Syakir.
"Nggak ada! Mereka nggak boleh ma..... " teguran Airy terpotong.
"Ssstt,"
"Bawa mereka, Pak Lek. Tapi jangan kasih makanan manis terlalu banyak, ya. Ndak sakit gigi nanti," ucap Adam dengan sopan.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."
Masa hukuman akan segera berlanjut. Airy, Laila, Mainan, Naira dan Yusuf di minta mengikuti Raihan dan Adam ke ke belakang rumahnya.
"Yusuf dan Aminah nimba air, masukkan ke dalam ledeng sampai penuh!"
"Naira dan Laila harus bersihkan gudang lama pesantren! Sedangkan Airy, hukumanmu, ada pada suamimu!"
__ADS_1
"Tapi aku kan nggak ikutan, Bang. Aku cuma mau melerai mereka bertiga aja, nih!" protes Yusuf.
Naira mengangguk-angguk. Tapi sayang, protesan dari Yusuf t'lah di tolak mentah-mentah. Keputusan Raihan tak bisa di ganggu gugat lagi.
"Tapi kenapa Airy nggak di hukum juga? Nggak adil, dong!" protes Laila lagi.
"Em, kalau itu udah ada yang siap hukum. Kalian cepatlah lakukan!" tegas Raihan.
Aminah terus menggerutu, malam-malam mereka harus menimba dan mengisi ledeng sampai penuh. Kelihatan Aminah membuat Yusuf semakin kesal.
"Astaghfirullah hal'adzim... Amin! Kamu kenapa, sih? Ngersulo anggonmu nepakke! Lakukan semuanya dengan ikhlas hati, biar cepat selesai gitu, loh." Yusuf mulai gemas dengan tingkah Aminah.
"Terus... Terusno leh mu nyeluk aku, Amin! Astaghfirullah hal'adzim, La Illahi Haillallah.... Paringono sabar kulo gusti, mugi enggal kulo angsal jodoh sek bagus kalih sholih, kulo pun mboten tahan kaleh, Yusuf!" seru Aminah dengan menunjuk Yusuf.
"Karepmu!" sahut Yusuf meraih ember untuk menimbanya.
Beberapa kali timbaan, mereka baru menyadari kesalahannya. Harusnya, Aminah menang tidak tambah memanas-manasi keadaan, ketika Airy dan Laila sedang gaduh. Karena mereka memiliki watak yang sama, akan gaduh jika sudah salah paham.
__ADS_1