
Setelah bersih-bersih, semua santri dan santriwati makan siang bersama di tempat yang sudah disiapkan. Menurut Airy, tidak ada Ustadzah Ifa tidak lucu, karena tidak ada yang memarahi Airy lagi.
Ia oun keluar dan menghindari makan siang, karena Nadia adalah sahabat karibnya, ia juga mengikuti langkah Airy keluar. Sampai akhirnya bertemu dengan Raihan.
"Mau kemana?" Tanya Raihan.
"Heheh Assallamu'alaikum calon Ustad" Salam Airy dengan wajah cengar-cengir.
"Wa'alaikum sallam, mau kemana? Kamu memiliki riwayat magh Airy, harus makan siang dulu, apa oerlu Abang suapi pakai sekop?" Kata Raihan dingin.
"Ish, Astaghfirullah hal'adzim, sejak kapan Bang Raihan jadi sinis, sadis dan kejam seperti ini sih Bang, nggak lucu tau, berubahnya jangan drastis dong, nggak sesuai umur tau" Goda Airy.
Tangan Raihan meraih tangan Airy dan membawanya kepada Ustadzah Dinda, yang merupakan salah satu sahabat Ustadzah Ifa juga. Setelah itu, Raihan masuk keruangan khusus untuk santri laki-laki.
"Adikmu itu bandel banget ya, saudara kembar tapi beda banget sifatnya. Kebanyakan anak perempuan itu yang anggun dan kalem gitu" Ujar Raditya dengan merangkul Raihan.
"Itulah manusia Bro, Allah itu maha kuasa, walaupun kita dalam satu kandungan, hembusan ruh yang bersamaan, tapi kita tetap beda warna, bayangin aja kalau ibu kita masing-masing melahirkan 7 anak, 7 warna tuh beda warna" Jelas Raihan.
"Kadang juga, ada yang pendiam, pemarah, bandel, dan lain sebagainya. Jadi janganlah kita membanding-bandingan diri kita, atau orang lain nih, dengan orang lainnya. Berusaha tetap menjadi diri sendiri aja Bro, udah yuk makan, habis ini kita masih harus tadarus kan?" Sambung Raihan.
Seketika Raditya terdiam, apa yang dikatakan ada benarnya juga, mereka pun masuk ke ruangan dimana mereka akan makan siang. Suasan gaduh juga dilakukan oleh Rindi, lagi-lagi dia membuat masalah dengan Airy.
Dengan sengaja Rindi menumpahkan kuah kare di sarung Airy, Airy hanya beristighfar dan menahan emosinya. Ia sudah berjanji kepada Raihan kalau dirinya tidak akan membuat keributan lagi. Tetapi sekali lagi Rindi mebuat masalah dengan Airy, yang saat ini Airy tidak bisa menahan amarahnya lagi.
"Raihan itu ganteng-ganteng tapi bodoh, dia nggak pernah melirik satu dari yang lain di antara para santriwati, jangan-jangan Raihan gay, ihh ngeri. Ganteng-ganteng gay" Bisik Rindi.
__ADS_1
"Dan jika aku tau siapa cucu Ustad Ruchan yang dijodohin dengan Mas Adam, aku akan buat dia mundur dari perjodohan ini, karena dia nggap pantas menikah dengan Mas Ruchan. Aku yakin, dia ini sebenarnya pasti jelek wajahnya, makanya dia nggak pernah kelihatan, jadi kasihan sama Kakek dan calon suaminya, pasti mereka menahan malu hahaha" Lanjut Rindi membisiki Airy.
Piring Airy ia letakkan, tangan Airy langsung mencekik leher Rindi dengan erat, sama seperti mencekik Dila saat itu. Rindi sudah berusaha melepaskan tangan Airy, namun tenaganya kalau dengan tenaga Airy yang sedang marah.
"Kalian mau bantu dia? Kalian juga akan kena masalah" Ancam Airy dengan wajah yang sudah memulai.
"Airy istighfar Ry" Kata Nadia, karena Airy sudah dibatas kendali, Nadia langsung nekat menerobos ke santri laki-laki dan memberitahu Raihan.
"Astaghfirullah hal'adzim, ukhty ini bukan tempat santriwati ukhty, tolong hargai kami" Kata salah satu santri.
"Brisik ah, itu dia. Assallamu'alaikum Raihan!" Teriak Nadia.
Raihan, Adam dan Raditya yang kaget Nadia ada di ruang laki-lakipun langsung menghampirinya. Nadia menceritakan apa yang telah terjadi, dengan secepat mungkin Raihan dan Adam ke ruangan santriwati.
"Airy!" Teriak Raihan sambil berusaha melepas cengkraman pada leher Rindi, yang membuat Rindi susah untuk bernafas.
"Airy kamu nangis?" Tanya Adam.
"Airy, Airy, Airy bilang dong! Ada apa dengan semua ini, kamu juga menangis seperti ini, ada apa?" Tanya Raihan mengguncangkan tubuh Airy.
Namun Airy masih menatap Rindi dengan penuh murka, dengan wajah memelas, Rindi mengadu kepada Adam, jika dirinya tidak tahu apa-apa kenapa Airy mencengkiknya.
"Munafik! Munafik kamu Rindi, kamu menghina Abangku, kamu menyebutnya gay! Kamu hina Kakekku! Kamu juga hina calon suamiku! Apa maumu sih ha? Kenapa orang terdekatku yang kau hina? Kenapa bukan aku!" Amarah Airy.
"Rindi jelaskan semua ini!" Kata Adam tegas.
__ADS_1
Melihat mata tajamnya Adam, Rindi pun mengakui jika dirinya telah menghina Raihan dan membuat amarah Airy bergejolak.
"Aku memang menghina Raihan sebagai gay, tapi aku nggam menghina Kakeknya, bahkan calon suaminya. Aku pun nggak tau Kakek dan calon suaminya itu siapa!" Teriak Rindi membela diri.
"Terus saja berteriak, akan aku kasih tau siapa Kakek dan calon suamiku yang kau hina itu. Kalian tau nama lengkap Ustad Ruchan dan istrinya bukan? Ruchan Al Jazeera dan Leah Gwen Putri Handika" Kata Airy dengan penuh keyakinan, walaupun sambil menahan air matanya agar tidak keluar lagi saat keluarganya dihina.
"Sedangkan nama Abangku, yakni Raihan Jazeera Kenzo Pratama, nama Jazeera adalah nama keluarga dari pesantren Darussallam, adik Mamaku bernama Kabir dan Syakir Al Jazeera, nama sepupu Mamaku, Ilham Al Jazeera, nama Kakak dari Ustad Ruchan adalah Ikhsan Al Jazeera" Jelas Airy dengan sangat jelas.
"Lalu nama Mamaku adalah Aisyah Putri Handika, namaku yang asli adalah Airy Calista Putri Handika. Aku cicit dari dari keluarga Handika, keluarga dari istri Ustad Ruchan" Sambung Airy
Semua santri merasa terkejut mendengar kenyataan itu, termasuk Rindi. Bahkan ia sempat tidak percaya dan meminta bukti nyata dari Airy.
"Bohong, semua juga tau silsilah keluarga itu. Kamu jangan halu Airy!" Teriak Rindi.
"Halu? Buat apa aku halu, kalau memang kenyataannya aku dari keluarga itu. Dan calon suami yang aku maksut itu juga kenyataan, calon suamiku adalah..... Ustad Adam" Kata Airy menunjuk kearah Adam.
"Nggak mungkin, nggak mungkin Airy. Mas Adam?" Tanya Rindi mulai meneteskan air mata.
"Bismillahirrohmanirrohim, apa yang di katakan Airy itu benar, kami lah yang dijodohkan itu, dan kami menerimanya dengan ikhlas hati" Jawab Adam.
Rindi menangis, ia sangat kecewa dan terluka hatinya. Dirinya tidak menyangka jika orang yang dicintainya sudah dijodohkan dengan orang yang ia anggap musuhnya.
"Haih srama banget sih, aku pergi aja lah, lanjutkan makanmu Bang. Assallamu'alaikum semua" Salam Airy sambil mengambil gorengan di meja makan yang sudah disiapkan.
"Wa'alikum sallam warrahmatullahi wabbarokatuh"
__ADS_1
Ketika Raihan ingin mengejar Airy, ia ditahan oleh Adam, agar bisa memberinya waktu untuk Airy sendiri. Lalu, Ustad Zainal yang mendengar keributan itu dari luar pun langsung menyetabilkan keadaan, Ustad Zainal juga menyuruh Siti membawa Rindi ke kamarnya beserta makanannya. Sedangkan Airy sedang duduk di tembok pembatas antara santri putri dengan lapangan pesantren.