Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 344


__ADS_3

"Aku butuh hiburan. Darah, tangisan bayi, teriakan Kak Airy dan Kak Laila masih terngiang-ngiang di otak dan telingaku. Harus mandi kembang tujuh rupa aku, biar ndak kena sawan!" gerutu Gu sepanjang perjalanan.


Apesnya Gu, baru saja parkir di garasi rumah Adam, ia sudah di sambut dengan adik-adiknya dengan pertanyaan yang membuatnya kesal.


"Oppa, bagaimana dengan Kak Airy, Kak Laila dan bayi-bayinya?" tanya Aminah tidak sabar.


"Kak, gimana? Apa jenis kelamin dari keponakan kita?" imbuh Falih.


"Lalu, seperti apa mereka?" timpal Hamdan.


"Oppa, jawablah! Kenapa kau acak-acakan begini. Wajahmu juga ada beberapa bekas cakaran, apakah kau sehat?" Aminah sangat cerewet sekali.


"Huft..." Gu menghela nafas panjang. "Sudah? Sudahkah kalian bertanyanya? Kalau sudah, sebaiknya beri aku jalan, agar aku bisa mandi dan beristirahat, Wassalam!" Gu langsung masuk ke rumah dan merebahkan badannya di kamar Yusuf.


Entah kenapa, antara Gu dan Yusuf malah lebih suka tinggal bersama dengan Airy dan Adam dibandingkan di pesantren atau di rumah Raihan. Rumah mereka juga lebih besar dari rumah Raihan, mungkin akan lebih leluasa juga karena diameternya lebih besar.


"Dia kenapa?" tanya Aminah.


"Capek mungkin. Nganter orang yang mau lahiran, nungguin juga, pasti lelah. Sudahlah, sebaiknya kita minta yang lain untuk mengantar ke rumah sakit," sahut Yusuf menengahi kegaduhan yang dilakukan oleh saudaranya.


Mereka pun kembali ke aktivitasnya masing-masing. Yusuf dan Hamdan akan pergi ke rumah sakit. Sementara Falih dan Aminah kembali ke pesantren untuk menjemput Rafa. Setelah selesai membersihkan diri, Gu merebahkan diri ke kasurnya. Masih teringat bagaimana dirinya diperebutkan, ditarik ke kanan dan kiri oleh Airy dan Laila.


"Hah, pantas saja perih. Ternyata ada bekas cakaran di wajahku." gumam Gu sembari mengaca.


Yusuf masuk ke kamar dan memberikan buku hasil panen hari itu, karena Gu tak datang ke perkebunan untuk menemani Airy dan Laila melahirkan. Yusuf juga bertanya tentang seputar tempat kuliah di Korea.

__ADS_1


"Kenapa?"


"Kenapa kau tanya tentang universitas di Korea? Kamu mau kuliah di sana?" tanya Gu.


"Baru rencana, sih. Beberapa bulan lagi kan kenaikan kelas, dan aku akan pindah ke sekolah negri. Ya siapa tahu saja, aku bisa dapat rekomendasi universitas yang bagus dari sekolah itu di Korea," jelas Yusuf.


"Wah, jadi kamu mengurus sendiri kepindahan-mu sekolah ini, karena berharap seperti itu?" tanya Gu.


Yusuf mengangguk semangat, ia juga menunjukkan seluruh raportnya. Yusuf memang remaja cerdas, ia memiliki banyak talenta. Pemikirannya juga selau di pikirkan matang-matang. Jarang dirinya melakukan kecerobohan, namun ia sellau dingin kepada gadis lain seusianya.


"Wah, ini mah mendekati sempurna, Suf. Aku yakin, kamu pasti bisa sukses dikemudian hari.Lalu, apakah kamu memiliki rencana lain, setelah kuliah di Korea?" tanya Gu kembali.


"Stt… aku belum pasti ingin ke Korea. Karena semua itu kulakukan karena uang ini (pemberian dari Rifky). Tapi aku juga pengen ke Jakarta. BUka restoran seperti Papa, sambi kuliah dan mengurus rumah yang ada di Jakarta. Bagiamana menurutmu, Kak?" ungkap Yusuf.


Gu bertepuk tangan, ia tidak menyangka jika Yusuf sudah memikirkan hal sejauh itu. Usaha, kuliah dan mengurus rumah warisan leluhurnya di Kota besar. Semua tak terpikirkan oleh Gu, jika Yusuf bisa seperfect itu.


"Semoga Allah melancarkan segala urusanmu, Yusuf. Aku bangga memiliki saudara sepertimu," ucap Gu menepuk-nepuk bahu Yusuf.


"Istirahatlah, aku yakin kamu lelah, Kak. Haha, wajahmu penuh lukisan tangan kedua wanita hebat kita, hahaha...." tawa Yusuf yang kemudian keluar dari kamar.


"Aku ke rumah sakit dulu, Assalamu'alaikum," salam Yusuf.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,"


Saat Yusuf keluar kamar, Hamdan sudah ada di depan kamarnya. Ia mendengar seluruh pembicaraan Yusuf dan Gu beberapa saat lalu. Hamdan menatap Yusuf dengan tatapan berbeda, ia sendiri belum memikirkan hal sejauh itu, namun Yusuf.....

__ADS_1


"Kau ingin ke Korea?" tanya Hamdan.


"Pikir sesok, saiki go neng rumah sakit sek, " jawab Yusuf, tak ingin membahasnya lagi. (Pikir besok, sekarang pergi ke rumah sakit dulu).


Mereka mengendarai motor Gu. Di perjalanan ke rumah sakit pun, mereka berdiam diri. Hamdan mendengar dengan jelas kalau Yusuf hendak ke Korea atau ke Jakarta setelah lulus sekolah.


"Kapan saudaraku ini berpikiran dewasa seperti itu? Dia bahkan serius ingin pindah sekolah dan dia juga sudah mau menata masa depannya dengan sangat rapi saat ini. Apakah… dia Yusuf yang sama yang, beberapa lalu selalu bobrok bersamaku dan Falih?" batin Hamdan tak terasa meneteskan air mata.


Sesampainya di parkiran, Hamdan ingin bicara serius dengan Yusuf tentang pindah sekolahnya. Awalnya Yusuf menolak membahasnya, karena masih dalam proses, tapi Hamdan mendesaknya hingga Yusuf mau membahasnya kembali.


"Kau tahu, kau dewasa sebelum umurmu, Suf. Nikmati saja dulu masa remaja kita, aku...." ucapan Hamdan terpotong.


"MaayaAllah, ha? Dewasa sebelum umurku?" heran Yasuf.


"Aku tahu kamu khawatir kepadaku, itulah gunanya saudara. Tapi, aku memang harus memikirkan semua ini matang-matang, Ham!" seru Yusuf merangkulkan tangannya ke bahu Hamdan.


"Kamu tahu, orang tuaku udah nggak ada semua, aku tidak ingin membebani Kak Airy, Mas Adam ataupun Kak Laila dan Bang Rai. Karena mereka juga memiliki kesibukannya masing-masing,"


"Alhamdulillah, mereka mau mengarahkanku, keluarga yang lain juga mau mengarahkanku, aku sudah bersyukur banget akan itu. Tapi, ini kehidupanku, semua itu harus aku pikirkan sendiri dan aku tentukan sendiri, Ham. Jika aku salah dalam melangkah, tolong tegur aku, ya… tapi jika aku ingin melangkah dan memutuskan apa yang menurutku itu sudah benar, tolong dukung aku. Bisakah?" tukasnya.


Tak ada kata terucap dari bibir Hamdan, ia mengerti apa yang dimaksud dengan Yusuf. Ia memahami semuanya, dan akan mendukung saudaranya melangkah dengan keinginannya sendiri. Yusuf juga meminta Hamdan untuk tidak menceritakan kepada siapapun hal itu, karena ia sendiri yang akan mengatakan kepada keluarga besarnya.


"Aku nggak tahu, kamu memang sudah bisa berpikiran dewasa atau terpaksa harus menjadi dewasa karena orang tuamu sudah tiada. Tapi, aku akan selalu mendukungmu, apapun itu. Jadi, apapun itu, tolong aku kasih tahu, bicaralah kepadaku... aku saudaramu, bukan?" protes Hamdan.


"Kau, Falih, Aminah dan Mayshita selalu menjadi saudaraku, aku akan ceritakan semuanya nanti ke kalian semua, bagaimana?" ucap Yusuf.

__ADS_1


"Tentu, kau berhutang penjelasan kepada kami, ayo kita masuk! Sudah gak sabar aku, ingin melihat 3 bidadari keponakan lucu kita," ajak Hamdan dengan merangkul Yusuf.


__ADS_2