
Rasa tak rindu tetap tidak akan hilang kepada orang tuanya. Hanya karena tidak pernah pulang, bukan berarti Raihan tak rindu. Memang sejak lulus sekolah dasar, Raihan sudah mandiri tinggal di pesantren yang jauh dari rumahnya. Mungkin dari situlah, ia berargumen bisa mandiri di negara orang. Namun, caranya kurang tepat. Seharusnya, ia mesti pulang meskipun hanya setiap hari raya saja.
"Assalamu'alaikum, Airy. Abang akan pulang 3 hari lagi. Jangan bilang ke siapapun, dan iya tolong Ustad Adam juga jangan di beri tahu, terima kasih. Wassalamu'alaikum!" Raihan langsung menutup telfonnya.
Merasa heran, Airy pun bergumam, " Kok gitu, sih? Bang Rai ini ada-ada aja, deh. Tapi ya sudahlah, dia minta aku merahasiakan. Jadi, ya, ok!"
Pagi hari, Airy sudah di sibukkan dengan kegiatannya. Menjelang siang, ia pergi ke perkebunan yang tidak jauh dari kawasan pesantren. Bersama dengan Balqis dan juga Sera, mereka bersama menuju perkebunan.
"Dulu, nih. Kata Mas Syakir, tempat ini sering di kunjungi sama Ica (Aisyah) , Bang Akbar, dan Kabir untuk bermain-main. Bukan hanya itu bahkan Mas Ilham pun juga gitu, hahaha sekarang anak-anak kita yang jadikan tempat ini main," ucap Sera.
__ADS_1
"Aku jadi kangen sama Ica. Sifat lembut dan tegas nya itu, loh. Ya Allah, Ca, aku nggak nyangka kalau kamu bakal pergi secepat itu," sambungnya.
"Bukan hanya kamu, yang merasakan kehilangan. Aku pun juga sangat merasa kehilangan, Kak Ais itu sangat baik, kakak yang bisa menjadi tauladan bagi setiap adik-adiknya," timpal Balqis.
Tak terasa, air mata mulai menetes. Airy erasa dirinya belum bisa membahagiakan Aisyah, Aminya, sewaktu ia masih ada. Penyesalan itu, mungkin akan terus selalu ada di setiap ingatannya. Namun, ada cara lain untuk menebus semua itu, dengan merawat sang Papa dan juga adiknya, Yusuf.
"Tante, Ami orang baik, bukan? Pasti dia maafin aku, 'kan? Aku selalu nakal, selalu nggak nurut, bahkan aku pernah membencinya karena Ami begitu keras padaku," ucap Airy.
"Pernah dulu aku melawan apa yang Ami katakan. Lalu ia berkata, 'Nanti kamu akan menangis bila Ami telah tiada.' Dan aku percaya itu sekarang, Tante."
__ADS_1
Ibu/Mama/Bunda/Ami/Umi/Emak adalah sosok wanita penting dan begitu berarti untuk semua orang. Selama sembilan bulan mengandung, kemudian ia pertaruhkan nyawanya hanya untuk kita (anak).
Setelah itu, ia tak pernah lelah merawat dan mendidik kita dengan penuh keikhlasan. Membiayai semua kebutuhan kita, mulai dari kita bayi hingga besar. Ibu adalah wanita yang akan bahagia saat buah hatinya juga bahagia.
Dia adalah wanita yang akan mendoakan setiap langkah yang kita ambil. Supaya kita mendapatkan apa yang diinginkan dan diimpikan.
"Sudahlah, Ami pasti bangga denganmu sekarang. Kau juga seorang ibu, bukan? Jangan nangis lagi, ya!" ucap Sera menyeka air mata Airy.
Airy, Sera dan Balqis pun melanjutkan langkahnya untuk memetik sayuran di kebun itu. Beberapa tukang dan petani pun menghampiri dan menyapa mereka.
__ADS_1
Ketika sedang sibuk memetik sayur, Aminah dan Mayshita yang tengah menyusulnya itu bikin rusuh lagi. Beberapa tanaman organik menjadi layu, karena salam menyemprotkan air. Airy yang ada kandungan obat itu di. semprotkan ke tanaman oleh, Aminah.
"Uang bisa dicari. Ilmu bisa digali. Tapi, kesempatan untuk mengasihi orang tua kita takkan terulang kembali. Jadi, manfaatkan sebaik mungkin."