
"Yusuf!" teriak Candra.
Semua menoleh ke arah Candra yang berjalan dengan amarahnya. Tanpa memberi kesempatan, Candra langsung menarik lengan baju Yusuf dan membawanya kebelakang sekolah. Di sana, sudah terlihat Cindy yang tangannya berdarah karena memukul dinding yang belum di plaster.
"Cindy! Tangan kamu kenapa?" tanya Candra khawatir.
"Kamu kenapa bawa kesini? Dan kenapa Yusuf dan yang lainnya juga kesini?" Cindy mulai panik.
"Astaghfirullah hal'adzim, kamu tangan kamu berdarah. Kamu...?" pertanyaan Yusuf terhenti ketika melihat dinding yang masih berupa baru bata itu terdapat bercak darah, yang tak lain, darah dari tangan Cindy.
Tiba-tiba, Cindy memeluk Yusuf. Baik Yusuf dan siswa lainnya terkejut melihat aksi Cindy itu. Muncullah Tyas, ia menarik Cindy dari tubuh Yusuf, kemudian mendorongnya sampai terjatuh.
"Astaghfirullah hal'adzim, Tyas jangan gitu...." ucap Yusuf berusaha membantu Cindy berdiri.
Sayang, tangan Yusuf di tepis oleh Candra. Dengan keras, Candra memukul wajah Yusuf sampai Yusuf terjungkal dan terjatuh (dramatis amat).
"Candra!"
Teriakan Cindy dan Tyas membuat Candra semakin kesal, ia menghampiri Yusuf dan memukulnya kembali sampai bibirnya berdarah karena benturan tangan Candra dan giginya sendiri. Sengaja Yusuf belum menyerang balik karena ia masih belum mengerti apa salahnya.
"Lu tau nggak? Cewek yang melukai tangannya sendiri ini, dia cinta sama lu! Tapi lu malah mainin perasaannya. Pengecut, lu!" teriak Candra.
Yusuf menatap Cindy yang saat itu terus menangis. Tiba-tiba, Candra memukul Yusuf lagi. Kali ini, Yusuf berhasil mengelak, dirinya mungkin memang tidak tahu jika Cindy menyukainya. Tapi, bukan maksud Yusuf mempermainkannya, dia hanya tidak ingin jatuh kedalam perangkat kisah cinta yang belum ada ikatan pasti.
"Aku dengar, aku juga bisa rasakan pukulanmu itu sakit, Candra! Jika dia memang mencintaiku, kenapa kamu yang emosi? Aku bahkan tak pernah mempermainkan dirinya, kenapa? Kenapa kau yang emosi? Apa... kau menyukainya? Kau menyukai Cindy, bukan?" Yusuf mendekat ke arah Candra dan menggenggam kerah baju Candra.
"Aku tanya sekali lagi. Apa kau menyukainya?" tanya Yusuf.
__ADS_1
"Iya, aku sangat menyukainya. Bukan hanya suka, tapi aku juga mencintainya. Jadi, aku tidak suka jika kau terus mempermainkan dia, tanpa ada kepastian," desis Candra.
"Jika kau mencintainya, harusnya kau perjuangkan. Bukan malah memukul orang dengan sembarangan begini," ucap Yusuf.
"Yusuf!" bentak Cindy.
"Aku sudah tegaskan berapa kali. Aku tidak pacaran, dan kali ini aku juga tidak sedang jatuh cinta dengan siapapun. Menjauh… itulah keputusan yang tepat. Assalamu'alaikum!"
Tiada kata yang terucap lagi, bukan maksud menyakiti. Tapi memang itu cara yang terbaik untuk mencegah semakin dalamnya perasaan Cindy kepada dirinya. Ia kana menjauh sampai waktu kelulusan nanti.
Sejak kejadian itu, persahabatan Yusuf dan Cindy menjadi renggang. Yusuf juga meminta Jihan untuk bertukar tempat duduk dengannya. Mulai saat itu juga, setiap mereka berpapasan juga tidak saling bertegur sapa. Bahkan, terlihat jika mereka saling menghindari. Bukan hanya dengan Cindy saja, Yusuf juga menghindari Candra dan Jihan. Ia hanya dekat dengan Fatur yang satu bangku dengannya.
"Sampai kapan kamu mau menghindarinya?" tanya Fatur dan Jihan secara bersamaan dilain tempat.
"Aku hanya mencegah rasanya jauh lebih dalam lagi. Kenapa? Apa yang aku lakukan keterlaluan? Aku akan terlihat jahat jika aku masih di dekatnya tanpa memberinya kejelasan," ucap Yusuf.
"Kamu tahu aku, 'kan? Aku tidak akan pacaran, dan aku tidak ingin timbul rasa setelah tahu perasaannya, lebih baik begini saja, dan aku tidak akan galau kedepannya," jelas Yusuf.
Sampai takdir mempertemukan mereka di belajar kelompok lagi. Di meja yang sama, mereka masih saja diam-diaman. Bahkan, Yusuf terlalu sibuk dengan komik yang ia baca, begitu pula dengan Cindy yang baru saja meminjam buku atau apa dia tidak tahu dari Jihan, yanga bertajuk 'Qurrotul Uyun'.
"Tunggu, kamu bisa baca ini?" tanya Yusuf menunjuk kita itu.
"Bisa, emang kenapa?" ketus Cindy.
"Yakin?" Yusuf rasanya malu-malu, ingin tertawa. Karena jika Cindy tahu, pasti dia tidak akan ketus seperti itu.
"Aku memang non muslim, ya... tapi aku tahu kok kitab ini," Cindy masih mengelak karena malu.
__ADS_1
"Iya, aku percaya, kamu tahu ini kitab. Tapi kamu tahu apa isinya?" tanya Yusuf.
Tatapan aneh Yusuf semakin membuat Jihan dan Fatur pemasaran dengan isi kitab itu. Karena Jihan sendiri juga tidak tahu, apa isi kitab itu. Jihan hanya tertarik dengan sampul emasnya, dan pemilik kitab itu adalah Kakaknya yang saat ini masih ada di pesantren luar kota.
"Tatapanmu gitu amat, Suf. Memangnya isinya dari kitab itu apa, sih?" tanya Fatur.
"Iya, apa sih artinya? Aku nanya ke Kakakku, tapi dia tidak menjawab. Katanya aku masih kecil untuk tau," sahut Jihan.
"Kalian pengen tau, 'kan? Makna dan arti isi kitab berwarna gold ini?" tanya Yusuf menunjuk kitab itu.
Jihan dan Fatur mengangguk-angguk seperti anak kucing yang minta whiskas kepada sang pemiliknya.
"Kalian tanya saja sama Cindy. Katanya dia tahu kan apa maksud dalam kitab ini? Aku permisi ke kamar mandi dulu, ada-ada aja kalian ini," sedikit kesal, malu dan merasa aneh yang dirasakan Yusuf saat itu.
Bagaimana tidak malu, isi dalam kitab itu memang membingungkan jika ingin dijelaskan untuk saat ini. Jika didalam pesantren, mungkin kitab itu sudah biasa karena memang ilmunya seperti itu. Tapi untuk orang awam, apalagi seperti Cindy, yang ada mereka menjadi bingung. Kenapa kitab itu menjelaskan dengan detail seperti itu.
"Cin, emang kamu tau artinya apa? Orang arabnya gundul gini?" tanya Fatur.
"Enggak, aku nggak tau," jawab Cindy memanyunkan bibirnya.
"Lah, katanya kamu pengen pinjem, aku kita kamu tau artinya, Beb?" ucap Jihan menepuk bahu Cindy.
"Kemarin pas main ke rumahmu, aku hanya penasaran aja. Kenapa kamu bawain sekalian, sih? Dari respon Yusuf, pasti ini isinya hal yang memalukan deh...." sesal Cindy.
"Nggak ada Alkitab yang isinya memalukan. Semua Alkitab juga pasti isinya panduan hidup. Begitu juga dengan Injil-mu, Cindy!" seru Fatur.
Di kamar mandi, Yusuf masih saja menatap dirinya ke cermin. Ia sedikit malu jika ingin menjelaskan kitab itu. Ia juga terus membasuh wajahnya dengan sabun dan air.
__ADS_1
"Cindy ada-ada saja, sih. Bawa begituan ke sekolah. Bagaimana dan dari mana aku ingin menjelaskan coba?" gerutunya.
Saat dirinya sedang menggerutu, datanglah Candra dengan temannya. Kecanggungan itu juga berlangsung lama, karena Yusuf masih enggan keluar, sedangkan Candra masih saja menatap Yusuf. Lalu, keluarlah kata 'maaf' dari bibir Candra.