Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 121


__ADS_3

Tepat jam 10 malam, Raihan sampai kerumah. Awalnya ia pulang kerumah Rifky, ternyata tetangga bilang jika Aisyah dibawa pulang ke pesantren. Melihat di depan rumah ada bendera bertuliskan lelayu atau tanda orang meninggal, bernamakan Aisyah Putri Handika. Raihan membelai nama Ami tercintanya itu.


"Ami, apapun yang menimpamu hingga engkau pergi tanpa melihat kesuksesanku dulu, aku sangat berharap Ami bangga dengan semua yang aku lakukan untuk keluarga. "


"Tapi kenapa hanya nama Ami yang disini? Berarti Papa selamat dong, aku harus segera masuk! " ucap Raihan berlari masuk kehalaman rumah.


Melangkah perlahan-lahan, memandang depan rumah kakeknya berdiri sebuah tenda, semua orang yang sedang menunggu fajar tiba. Perlahan air mata Raihan menetes, ia menyeka air matanya dan berusaha menyembunyikan kesedihannya terhadap semua keluarga yang sering menunggunya pulang ke rumah.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,"salam Raihan dengan suara bergemetaran.


Semua orang, bahkan seluruh keluarga menyambut kepulangan Raihan dengan tatapan yang sangat sedih. Fatim meminta tas yang dibawa Raihan dan membawanya masuk. Diikuti Balqis yang langsung membawakan air minum untuk Raihan. Setelah mengalami seluruh keluarga, orang pertama yang ia tanyakan adalah Airy.

__ADS_1


" Airy? " tanya Raihan sambil menatap kesana kemari.


"Dia bersama adik-adikmu, kalau Adam sedang mengantar Ustad Zainal dan istrinya kedepan, apa kamu tidak berpapasan? Mereka akan pulang soalnya, " jawab Syakir.


Raihan masuk kedalam rumah, ia melihat Airy yang hanya diam saja dikelilingi oleh semua adik-adiknya, dengan bersandar di bahu Yusuf, ia hanya melihat dan mendengarkan adik-adiknya bercerita. Ada Aminah, Mayshita, Naira, Gu, Hamdan, Mawar, Falih, Sarah dan baby Yumna.


"Airy? " Raihan mendekat kearah adik-adiknya itu. Sebagai kakak paling besar, Raihan mencoba untuk tetap tegar agar kedua adik-adiknya tidak larut dalam kesedihan.


"Bang Rai! " teriak Airy histeris.


"Papa, Papa baik-baik saja kan? " tanya Raihan begitu tegar.

__ADS_1


Yang disini lebih sakit harusnya Raihan, karena ia sama sekali tidak bisa melihat Aisyah untuk terakhir kalinya, bahkan tidak bisa mengantarkannya di peristirahatan terakhirnya.


"Papa baik-baik saja, Airy yang tidak baik. Dia harus makan, kasihan janinnya, kamu makan ya nak, " ucap Rifky membelai kepala Airy.


"Iya Kakak, Kakak harus makan. Kasihan dedek bayinya, kita semua ingin dedek bayi sehat Kak, " sahut Aminah.


"Tunggu! Airy hamil? " tanya Raihan kebingungan.


Semua mengangguk,


"Yusuf, tolong ambilkan makanan. Aminah dan Mayshita tolong siapin kamar ya buat Kak Airy istirahat, Papa istirahat juga yaa, udah sana! " Raihan memaksa Rifky untuk istirahat lebih dahulu, karena ia yakin jika Papanya pasti juga membutuhkan waktu sendiri.

__ADS_1


Sementara Yusuf mengambilkan makanan, dan adik-adiknya yang lain membantu untuk membujuk Airy makan, dengan berjalan tertatih, Rifky pun masuk ke dalam kamar milkk Aisyah dulu yang sebelumnya ditempati oleh Ceasy. Ini bukan malam pertama bagi Rifky tidur sendirian, ia juga pernah tidur sendirian saat Aisyah ada shift malam. Namun, sebelumnya Aisyah akan pulang di pagi hari dan akan menyambutnya dengan senyuman. Tapi kini Rifky tidak akan pernah bisa lagi melihat Aisyah, bahkan selamanya akan tidur sendirian di kamar mulai malam itu. Rifky pun memandangi foto Aisyah di ponselnya, membayangkan waktu masa muda saat pertama kali mereka bertemu di bus saat Aisyah pulang sekolah.


Tidak lama kemudian, Adam pun pulang dan langsung menghampiri Airy dan Raihan. Airy masih saja memeluk Raihan, entah kenapa senyaman-nyamannya memeluk suami, Airy merasa lebih lega jika ia memeluk Raihan. Ada kenyamanan tersendiri dalam rasanya, ia memeluk Raihan seperti ia sedang memeluk Aisyah Ami nya. Karena kebetulan wajah mereka juga mirip itu yang buat Airy lebih tenang meluk Abang nya.


__ADS_2