Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 347


__ADS_3

Hari demi hari terlewati, saat itu acara aqiqah sudah dilakukan. Kini 1 minggu berlalu, saudara jauh semuanya pulang ke pesantren untuk menghadiri acara pemberian nama. Kabir beserta anak istrinya juga datang. Lalu, Akbar dan anak istrinya juga datang, hanya Sandy yang tak bisa datang karena tidak bisa melakukan penerbangan. Hafiz juga datang, sebagai perwakilan dari kakak kedua Adam.


Ayanna dan Anthea Jazeera Nuha untuk kedua putri Airy dan Adam. Dan Gehna Jazeera Nuha untuk putri Raihan dan Laila. Karena mereka bak kembar tiga, maka Airy dan Laila sepakat untuk memberikan nama belakang yang sama. Agar kelak keluarga atau orang lain tidak bingung dengan saudara yang banyak. Warisan akan jatuh pada Gehna saat dewasa nanti, karena dia lah anak perempuan pertama dari generasi Aisyah.


"Alhamdulillah, nanti Ayanna dan Thea tidak pusing dengan masalah harta warisan leluhur haha, selamat sayang. Kau lahir menjadi putri kedua di keluarga ini. Cukup Mamamu yang bingung, oke?" ujar Airy serasa merdeka terlepas dengan masalah itu.


"Keluarga lain, anak lelaki lah pewaris tahta. Kenapa di keluarga ini harus perempuan? Jiwa pemimpin itu ada di jiwa lelaki, bukan?" tanya Laila.


"Keluarga ini beda, bray. Kaum lelaki harus bisa usaha sendiri, itu kenapa semua sampai kuliah di luar negri. Dan kenapa wanita pesantren menikah di usia muda, ya karena mereka tidak harus kuliah di luar negeri, hanya Ami Aisyah yang kuliah di luar negri dulu," sahut Aminah.


"Tapi, bukannya kamu juga mau ke luar negri, ya?" tanya Laila.


"Haha, itu tergantung," jawab Aminah sambil makan ice cream di depan Airy dan Laila.


Laila menatap Airy. Kemudian, Airy mengatakan jika Aminah akan menikah muda seperti dirinya dengan Raditya, dan itu masih dalam tahap perjuangan karena sangat Ibu dari Raditya.


"Apa?" teriak Laila kaget, bahkan sampai Gehna pun ikut kaget mendengar teriakan Laila.


"Apaan, sih. Biasa aja kali kagetnya," ujar Aminah sinis.


"Kamu sama Radit? Hah? Yang benar saja?" tanya Laila.


Semua sibuk dengan ketiga bayi mungil itu. Di lain tempat, terlihat Akbar sedang bercengkrama dengan Kabir dan juga Adam yang baru saja sampai dari mengantar Hafiz ke stasiun karena langsung akan pulang malam itu.


"Dari mana?" tanya Akbar.

__ADS_1


"Nganter Kakak ke stasiun, Om." jawab Adam.


"Selamat atas kelahiran bayi kembarmu, ya. Harus ekstra sabar dalam berumah tangga, apalagi akan memiliki anak perempuan, harus ektra juga dalam mengambil kesimpulan," tutur Akbar.


"Iya, apalagi… emaknya udah super buat kami pusing dulu. Semoga, anak kembar kalian kalem ya seperti dirimu, haha…." timpal Kabir menggoda Adam.


Tiada hentinya mereka berdua menggoda Adam hingga Adam tersipu dan kaku karena kehabisan akal untuk meladeni mereka. Sikap Akbar dan Kabir memang istimewa kepada Adam, itu sebagai balasan karena Adam selalu memperlakukan Airy dengan istimewa.


Kisah cinta Airy dan adam tak serumit para terdahulu, begitu juga dengan kisah hidup Laila dan Raihan yang tak seberat kisah masa lalu. Mereka kini telah memiliki keluarga masing-masing yang lengkap.


Ujian hidup memang tak pernah luput dari takdir manusia. Raihan dan Laila juga semakin hari mampu mengendalikan emosinya untuk menghadapi kehidupan masa mendatang.


Kedewasaan Airy juga sudah terlihat sejak ia menjadi ibu untuk pertama kalinya ketika melahirkan Rafa. Kisah mereka akan berakhir saat ini. Kini, mari kita memulai lembaran baru dengan kisah para remaja pesantren kita, Yusuf, Falih, Hamdan, Gu, Aminah dan juga sedikit tentang Mayshita.


Sedikit kisah dari si Kembar Airy, Raihan juga akan di selipkan di dalam kisah remaja pesantren kita.


Lembaran baru bagi ke-6 putra putri pesantren Darussallam. Bermula Yusuf yang sudah mulai pindah sekolah dari Madrasah 'Aliyah ke Sekolah Menengah atas Negri. Usianya kini menginjak 17 tahun dan itu sudah berjalan beberapa bulan.


Minggu pagi yang cerah, Yusuf akan berkemas untuk tinggal sendiri di rumah lamanya. Di bantu oleh saudara-saudaranya, mereka mulai membersihkan rumah tersebut setelah beberapa bulan tidak di huni. Karena Raihan dan Laila memutuskan untuk tetap tinggal bersama dengan Ruchan dan Leah.


"Jadi, kita akan tinggal be-4, nih?" tanya Falih.


"Kalau kamu masih ingin di pesantren ya monggo. Eman juga rumah ini kalau kosong. Kebetulan juga kamar kan ada 3, jadi kita bisa berbagi kamar. Soal makan, kita masih bisa minta kepada orang tua kita, bukan?" jawab dan usul Hamdan. "Ya, aku tahu, kecuali Yusuf yang memang sudah memiliki uang sendiri," imbuhnya.


"Hey, Bro. Kalian lupa kah jika aku juga sudah memiliki penghasilan sendiri? Usaha bisnis kita berdua juga berjalan dengan lancar. Bener nggak, Suf?" ucap Gu merangkul pundaknya.

__ADS_1


"Hem, mereka masih anak Mama, jangan bahas kemandirian kita dengan mereka berdua, haha...." sahut Yusuf.


"Hasyh, kita di bully, Ham. Asem banget kalian," ucap Falih.


"Kita? Kamu aja kali? Aku mah nyadar aja kalau hidup masih bergantung orang tau," elak Hamdan.


"Wah, ra bolo! Wealah, aku tak melu wae lah ngenggoni omah iki!" seru Falih tak mau kalah. (Wah, gak kawan! Wealah, aku tak ikut sajalah menempati rumah ini!)


Kesepakatan juga sudah di bahas dengan keluarga, dan seluruh keluarga mengizinkan mereka berempat menempati rumah itu. Karena hanya butuh kurang setahun, mereka akan lulus sekolah, lalu Falih dan Hamdan berencana balik ke negaranya masing-masing. Baru rencana.


Melihat Yusuf ingin pindah rumah, Airy menjadi sedih. Ia berharap jika Yusuf mengurungkan niatnya. Sebelum Yusuf lulus sekolah, Airy menginginkannya untuk tetap tinggal bersama dengannya. Akan tetapi, Airy juga tak ingin egois, ia harus menghormati keputusan sang adik untuk hidup mandiri sejak dini.


"Kunjungi Kakak tiap sore, oke? Setiap sarapan, nanti Kakak antar sarapan ke kalian, pokoknya jangan sampai jajan. Kakak nggak ingin kalian melupakan Kakak," keluh Airy.


"Kakakku yang cantik, kita hanya berjarak 450 meter saja, dan hanya terhalang dinding pesantren saja, deket banget malah. Jalan kaki saja sampai ke rumah, jangan sedih gini, dong... kapan adikmu ini akan mandiri jika kakak terus seperti ini?" ucap Yusuf mencubit pipi Airy.


"Ya pokonya jangan sampai absen main ke rumah Kakak. Meski hanya menyapa, oke?" pinta Airy dengan manja.


Yusuf dan Gu sangat dekat dengan Airy, bahkan Airy sudah seperti ibu bagi kedua remaja ini. Saat ini, selain membuka restoran sendiri, Gu juga meneruskan kuliahnya di kampus yang sama dengan Naira. Ia belum mau menikah jika belum mencapai kesuksesan untuk masa depannya.


"Sudahlah, kita lepaskan saja mereka, Sayang...." kata Adam menyentuh bahu Airy.


"Hm, baiklah. Hati-hatilah di jalan, kalian juga harus pamit dulu dengan Rafa dan si kembar, takutnya mereka nyariin kalian." pinta Airy legowo.


Setelah berpamitan, Gu dan Yusuf siap pindahan menggunakan pic up yang baru saja mereka beli untuk operasional di restoran. Bahkan, Akbar juga akan memberikan dana agar Yusuf bisa mendirikan pabrik seperti Raditya juga.

__ADS_1


Ini belum season 2 ya kakak-kakak dan masih berlanjut. Season 2 hanya khusus untuk Yusuf saja dan akan ganti novel. Ini masih di drama remaja mereka saja.... Terima kasih telah mensupport


__ADS_2