Perfect Paradise

Perfect Paradise
bab. 225


__ADS_3

"Kamu pulang saja, dulu. Ambil cuti ya, sampai hatimu tenang baru nanti berangkat ngantor lagi," usul Raihan.


"Tapi, 'kan.... "


Belum juga Airy menyelesaikan kata-katanya, ponselnya berdering. Membaca, bahwa nama sangat suami yang menelfonnya, ia segera angkat telfon dan berlari kembali ke ruangannya.


"Bocah ini," gerutu Raihan.


"Assalamu'alaikum, baru ingat istri hah? Aku hampir di culik juga tau," kesal Airy.


"Maaf ya zawjati, 'kan Mas Hafiz udah beri kabar. Bener-bener berantakan ini semua perkebunan, Mas Zainal nggak bisa handle sendirian, Maaf, ya, Sayang!"


"Alesan!" kesal Airy.


"Maaf, ya, Sayang. Kamu bilang apa? Hampir di culik? Terus bagaimana?" tanya Adam panik.


"Itu nggak penting lagi. Aku kangen tau," ucap Airy dengan manja.


Merekapun akhirnya bisa melepas rindu dengan telfon. Untung saja pekerjaan Airy saat itu tidak banyak, jadi ia bisa leluasa menelfon suaminya hingga rindunya reda. Setelah selesai menelfon, Airy mengunjungi bagian pemasaran, ia sedikit mengalami kejanggalan dengan laporan yang di berikan oleh kepala bagian pemasaran itu.

__ADS_1


"Ini apa? Kok nggak sama, dengan laporan pemasukan di Ani?" tanya Airy.


"Bisa jelaskan ke saya, nggak?" kesal Airy.


"Em itu, bukan laporan saya, Bu!" jawab Heru, Si kepala bagian pemasaran.


"Terus laporan siapa ini! Jelas-jelas di sini tanda tangan atas nama, Heru Sulistio, saya mungkin bodoh dalam bisnis. Tapi tidak buta huruf, paham!" tegas Airy.


Airy menemukan kecurangan yang dilakukan oleh Heru. Karena tanggal pemasukan dan tanggal laporan yang Heru buat itu berbeda 2 jam. Jadi, otomatis Heru pasti melakukan korupsi.


Heru memberi arahan kepada anak buahnya yang berada di belakang Airy. Kemudian membekap mulut Airy dengan sapu tangan. Untung saja, dengan kemampuan bela dirinya, Airy berhasil melawan, dan membawa Heru ke ruangan Raihan dengan menyeretnya.


Emosinya sudah sampai tingkat tinggi, hingga bisa membanting tubuh Heru ke meja, Abangnya. Raihan yang tengah sibuk dengan pekerjaannya pun di buat terkejut.


"Astaghfirullah hal'adzim, ada apa ini?" tanya Raihan.


"Nih, Pak Raihan baca sendiri. Bandingkan laporan dari Nina dan yang Heru buat sendiri!" tegas Airy.


Setelah melakukan perbandingan, Raihan mengerti apa yang Airy maksud. Kemudian, Raihan memanggil security untuk membawanya ke kantor polisi, karena kasus pencurian.

__ADS_1


Masalah kantor selesai, sore itu Airy bergegas pulang kerumahnya mengendarai si Pepi. Di jalan ia di hadang oleh Hans yang igun membawanya pergi.


"Ayo ikut!" teriak Hans.


"Sakit anda, ya! Lepaskan saya! Lepaskan!" Airy memberontak.


Cengkraman Hans begitu kuat, sehingga Airy susah untuk melepaskan tangannya. Airy terus berusaha memberontak hingga akhirnya bisa terlepas dari cengkraman tangan Hans.


"Airy, saya janji. Kamu akan bahagia jika menikah denganku," ucap Hans.


"Saya tegaskan sekali lagi, Pak Hans. Saya sudah memiliki keluarga, anak dan suami saya berada di rumah!" jelas Airy.


"Saya tidak peduli, yang saya inginkan hanya kamu. Lagian, suami OB seperti Adnan atau Adam itu apa gunanya? Nggak pantas buat kamu!" seru Hans.


"Kamu memiliki jabatan, saya juga memiliki segalanya. Jadi saya yakin, jika kamu bersama saya pasti akan jauh lebih bahagia dari pada dengan si miskin itu," sambungnya.


"Fiks, anda ini sakit jiwa! Kebahagiaan tidak di ukur dari seberapa kekayaan kita bambank! Minggir!"


"Dan iya, lain kali saya berharap tidak akan bertemu dengan anda lagi, menjijikkan!" ketus Airy.

__ADS_1


Segera Airy memacu si pepi dengan kencang. Ia bahkan merasa dirinya harus mencuci tangannya sebanyak mungkin. Airy tak pernah habis pikir dengan sikap Hans yang terkesan memaksa kehendak itu.


__ADS_2