
Pagi-pagi ke empat pria ini sudah disibukkan oleh tiga balita yang meminta makan dan susu secara bersamaan. Bahkan ketika sholat subuh saja mereka sampai tidak bisa datang ke masjid, sholatnya juga di ganggu oleh ketiga balita itu.
"Lama banget bikin buburnya, Kak?" kata Hamdan, ia juga sibuk memakaikan celana Gehna.
"Sabar, dong." jawab Gu masih sibuk dengan pancinya. "Masaknya jadi double gini. Harus bikin bubur ala-ala pula, beri aja mereka susu dulu, biar nggak kelaparan," lanjutnya.
"Mereka sampai gumoh minum susu. Aku tak mandi dulu. Tolong jaga si kembar, ya." Yusuf yang sedari tadi repot sendiri karena mengurus dua balita. Sedangkan Raditya dan Gu membersihkan rumah dan mencuci baju balita yang kotor karena gumoh.
Namun, Yusuf tetap saja masih sabar dengan ketiga keponakannya itu. Sampai waktu datanglah Aminah membawakan beberapa camilan sehat dan bubur untuk ketiga balita itu makan.
"Assalamu'alaikum, bayi-bayiku. Ulu-ulu, kalian pasti sudah kangen dengan tantemu yang cantik nan imut ini, 'kan? Uh, gumushnya.. pengen aku tabok si Hamdan!"
"Gemes sama bayi, kenapa aku yang ditampol? Karena aku ganteng, kah?" ketus Hamdan.
"Dih, percaya diri itu bagus. Tapi jika terlalu percaya diri, yang ada bikin mengesalkan, dah sono mandi, pagi ini aku yang urus mereka bertiga. Nanti jam siang aku akan bawa pulang Gehna, kalian urus si kembar, oke?"
Bukan pilih kasih, tapi emang sejak dari lahirnya Gehna, Aminah memang paling dekat dengan Gehna karena rumah mereka juga hanya bersebelahan. Jika Laila sedang kerepotan, pasti Aminah dimintai tolong untuk menjaga Gehna. Meski begitu, tak sedikitpun kurang kasih sayangnya kepada si Kembar Ayanna dan Anthea.
"Serius kamu bisa urus mereka sendirian?" tanya Gu ragu.
"Kalau cuma sebentar ya bisa dong. Kan sampai Hamdan dan Yusuf selesai mandi doang. Setelah ini, kita bagi tugas menjaga bayi-bayi ini," usul Aminah.
"Nggak sarapan?" tanya Raditya.
"Aku sudah tadi, sekarang nyuapi mereka bertiga aja. Bang Dit makan yang banyak, ya...." ucap Aminah dengan sedikit nada berbeda.
"Iya, kamu juga, dong. Makan yang banyak, agar tenaga tidak gampang terkuras. Terus minum jus untuk menambah vitamin juga," ucap Raditya dengan lembut.
"Bang Dit juga ya. Kalau aku banyak makan, nantinya gemuk. Kalau cewek gemuk mana menarik, Bang Dit…." manjanya Aminah.
__ADS_1
"Nggak papa, kamu gemuk pun tetap saja, dimataku dan di pandangan Allah, akhlak mulia yang membawamu kedalam ridho-nya,"
Menatap dua insan yang saling berbicara manja, lebay dan sok romantis membuat Gu muak. Ia sedang sarapan, sampai tak bisa fokus menikmati buburnya malah melihat keuwuanan kedua insan yang sedang kasmaran ini.
"Dih, iyuh!"
"Geli tau, kalian bisa nggak, sih, lihat sikon? Aku masih ada di sini, hargai aku kek…." kesal Gu.
"Makanya oppa cepat cari pasangan hidup. Biar bisa uwu-uwuan, nggak hanya melihat keuwuan orang lain mulu!" seru Aminah.
"Belum mikir sejauh itu. Masih banyak hal yang ingin aku lakukan, termasuk mencari kebebasan, Assallamu'alaikum!" Gu pergi membawa piringnya ke ruang tamu.
"Wa'alaikumsalam, dih kenapa dia?" gumam Aminah.
Sementara Aminah dan Raditya melanjutkan lempar-lemparan kata manjanya sambil mengurus ketiga balita itu. Raditya sangat kagum dengan kelihaian Aminah dalam merawat anak kecil. Ia menjadi senyum-senyum sendiri dibuatnya.
"Kamu pintar sekali mengurus anak kecil. Bahkan lebih luwes ketimbang Airy dulu," jawab raditya.
"Hehehe, itu karena dulu Kak Airy masih kecil ketika adik-adiknya balita. Berbeda denganku, ketika memiliki keponakan, aku sudah bisa mengurusnya karena memang sudah harus bisa," jelas Aminah.
"Mau jalan-jalan denganku nggak? Ajak lah salah satu dari mereka ini untuk kita bawa jalan-jalan, bagaimana?" Raditya mengambil kesempatan lagi untuk bisa dekat dengan Aminah.
Sebentar lagi juga kelulusan, keseriusan Raditya juga harus ia tunjukkan kepada Aminah. Meski Ibunya masih belum merestui hubungan mereka, namun Raditya tidak menyerah begitu saja.
"Boleh, kita ajak Gehna saja. Karena si kembar lebih nyaman bersama dengan Yusuf," usul Aminah.
Beberapa menit kemudian, Gu masuk ke dapur dan mencuci piring bekasnya. Meski hari libur, restorannya tetap akan buka, jadi ia harus segera berangkat setelah sarapan.
"Kalian ada acara kah?" tanya Gu yang sambil cuci piring.
__ADS_1
"Kita mau jalan-jalan ajak, Gehna. Oppa mau ikut?" jawab Aminah dengan lantang.
"Kalian nikmati saja liburan kalian. Hari ini aku akan pergi ke restoran, duluan ya, assallamu'alaikum!"
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,"
Tak lama setelah itu, Yusuf dan Hamdan keluar dari kamarnya masing-masing. Sembari menunggu mereka selesai sarapan, Aminah mengatakan jika mereka berdua harus mengurus si kembar karena dirinya hendak membawa Gehna jalan-jalan bersama Raditya.
"Kenapa nggak bawa si kembar sekalian, sih? Kamu yang adil dong, Min. Jangan pilih kasih, lah!" seru Hamdan tanpa berpikir dulu sebelum bicara. Memang tidak pernah peka Hamdan ini.
"Ck, masa iya semuanya aku yang bawa, sih? Aku sayang juga kok dengan Ayanna dan Anthea. Tapi ya tidak mungkin membawa mereka secara bersamaan. Kalian kan nganggur, bagi tugas masing-masing lah," protes Aminah, ia kesal dengan Hamdan yang akhir-akhir ini memang nampak berubah setelah kepulangan Falih ke Jepang.
Yusuf akan mengurus Ayanna, karena Ayanna memang sangat dekat dengannya. Sementara Hamdan diminta untuk mengurus Anthea. Si kembar ini jarang sekali rewel, kecuali jika memang yang mengasuh tidak tulus. Semua bayi juga tidak akan nyaman dengan orang yang tidak tulus.
Tatapan Hamdan sejak di meja makan tak pernah luput dari Gehna. Ia merasa kesal dengan Gehna karena ketika bersama Aminah bisa tertawa dan terlihat nyaman sekali. Berbeda ketika dengan dirinya semalam yang membuatnya pusing dan kurang tidur.
"Agiga naleul hwanagehanda!" umpat Hamdan dalam hati. (Nih bayi bikin kesal!).
"Naega bissan cheoghamyeonseo. Anawa honjaseo geuleohge keuge us-eul su-iss-eo." imbuhnya. (Denganku sok jual mahal. Dengan aminah saja bisa tertawa lepas seperti itu)
"Kamu kenapa menatap Gehna-nya begitu banget? Nggak ikhlas mengurusnya semalam, hah?" sembur Aminah.
"Aku kesal dengannya, sok jual mahal banget. Bergaya denganku pengennya digendong mulu, giliran bersamamu... ngakak tiada henti. Uh, dasar bayi!" jawab Hamdan sedikit kesal.
Aminah ini gampang sekali bertengkar dengan siapapun. Bahkan tak bisa menjaga kelakuan juga di depan Raditya. Kebanyakan gadis akan naif jika berada di depan lelaki yang ditaksirnya. Itu tidak berlaku untuk Aminah. Hamdan dan Aminah, kini ribut sendiri-sendiri.
"Halah, kalian ini kenapa, sih? Sudahlah, jangan kek bocah gini, dong?" Raditya berusaha menengahi mereka.
Lelah dengan pertengkaran itu, Yusuf mengajak Ayanna mencari udara segar dengan jalan-jalan di sekitaran pesantren dan luar pesantren. Saat asik melihat kendaraan yang lewat, ia juga melihat gadis cilik yang kemarin ia temui di di toko buku. Hm, kalian perlu bocoran nih, gadis 10 tahun itu bakal jadi cewek pilihan juga di s2 ya. Uh, enak nih daun muda.
__ADS_1