
Sesampainya di resto, Fatur terus menerus menatap Aminah, lalu menatap Yusuf secara bergantian. Datanglah Hamdan merangkul Aminah juga, namun hanya sebentar. Semakin kaget Fatur-nya, ia terus memandang Aminah dengan tatapan sinis.
"Assalamu'alaikum, Yusuf mana?" tanya Hamdan.
"Wa'alaikumsalam, tuh di sana! Jangan ganggu dia, dia sedang memasak!" tunjuk Aminah.
"Buset, nih cewek lenjeh banget. Dipeluk sana sini sama laki mau. Tuh cowok juga ganteng juga, tapi kenapa wajah mereka nggak asing ya, aku pernah lihat mereka dimana?" batin Fatur masih bingung.
Melihat ada yang tidak beres dengan Fatur, Aminah langsung menyemburnya. Sampai- sampai Fatur menjawab dengan gugup. Aminah sangat galak sekali saat itu. Karena memang hatinya sedang dalam suasana buruk.
"Apa, sih? Kenapa dari tadi melirik terus? Ada yang salah? Nggak pernah lihat gadis secantik aku, kah?" tanya Aminah dengan kekesalan.
"E-enggak, kok. A-aku cu-cuma…."
"Cuma apa? Dasar mata keranjang!" sembur Aminah memotong ucapan Fatur, lalu pergi. "Bagaimana mungkin Yusuf punya teman seperti dia, dasar pengaruh buruk!" umpatnya.
Masih bingung, Fatur meraih ponselnya dan mengirim pesan kepada Yusuf untuk segera menemaninya. Karena susana menjadi canggung ketika Aminah menggampar dirinya menggunakan kata 'mata keranjang'.
Tak lama kemudian, datanglah Yusuf membawakan menu spesial di restoran itu. Tanpa di minta, Fatur langsung melahapnya dengan rakus. Pandangannya terus merunduk ketika Aminah memperhatikannya.
"Kamu kenapa, sih? Mbokya hati-hati kalau makan tuh, nanti tersedak, Fat," tegur Yusuf.
"Uhuk, air, Suf. Uhuk… air, aku bilang air ya air, Suf!"
"Tuh kan tersedak, nih minumnya. Kamu liatin apa, sih?" tanya Yusuf melihat arah yang di lirik Fatur.
Saat tau yang dilirik Fatur adalah Aminah, karena saat itu Aminah sedang bergaya ala menggorok lehernya untuk Fatur, Yusuf pun bertanya, "Kamu lihat dia, kah?"
Tanpa bersuara, Fatur hanya menganggukkan kepalanya dengan cepat. Seperti menahan takut, seolah-olah hendak diterkam oleh Aminah yang sudah setengah bertanduk.
"Jangan takut, dia memang rada aneh kalau dengan orang lain. Tenang saja, dia adikku, meski usianya lebih tua dia seminggu," jelas Yusuf.
"Ha? Adek? Adek dari mana? Mirip aja enggak!" lirih Fatur menjaga nada suaranya agar tidak didengar oleh Aminah.
__ADS_1
"Kan aku bilang, dia adikku, tapi lebih tua seminggu dariku. Berarti, dia adik sepupu, lah!" jelas Yusuf lagi.
"Tapi, cowok sipit putih tadi juga memeluknya. Bukankah, keluargamu agamis, ya? Kok, dia mau dipeluk cowok lain?" Fatur masih saja tidak percaya.
"Cowok sipit? Siapa? Kakakku?" tanya Yusuf kembali.
"Bukan, bukan yang sedang masak. Tapi yang… ah, yang itu!" tunjuk Fatur.
"Ah, namanya Hamdan, dia adikku juga. Tapi umurnya lebih tua beberapa bulan dariku. Ayahnya dan Ayah cewek yang tadi, saudara kembar, adik Ibuku," jelas Yusuf lagi.
"Terus, cowok yang sok cool di rumah kakakmu waktu itu... siapa?" tanya Fatur masih bingung.
"Namanya Falih. Dia kakakku, anak dari adik angkatnya Ibuku, tapi anak dari Kakak Nenekku, mudeng nggak?" sekali lagi Yusuf menjelaskan silsilah keluarganya.
Awalnya, Fatur bingung dengan keluarga Yusuf, karena banyak saudara dan banyak pula anak angkat. Apalagi, saat Yusuf memperlihatkan adik perempuannya yang lain.
"Ini siapa saja? dan kenapa aku belum pernah melihatnya?" tanya Fatur.
"Yang ini Mawar, dia stay di Jepang, adiknya Falih. Terus, ini namanya Yumna, adiknya Hamdan dan Kak Gu, dia ada di Korea sekarang. Terus… ini namanya Sarah, adiknya Aminah yang sekarang ada di Singapura. Terakhir, ini Mayshita putri dari pemilik pesantren yang sekarang. Waktu itu, kamu tida bisa bertemu karena dia sedang les." jelas Yusuf panjang kali lebar.
"Belum lagi, ada yang tinggal di Swiss sebelumnya. Tapi, dia sudah kembali lagi ke Jogja. Namanya Naira, antara tiga sampai empat tahun lebih tua dariku," lanjut Yusuf.
Fatur hanya bisa melongo, ia masih saja belum mencerna penjelasan Yusuf. Dirinya saja bingung dengan banyaknya keluarga Yusuf, bagaimana dengan orang lain. Fatur hanya melahap makanannya saja dengan cepat.
"Aku mumet, Suf. Nanti tak pikir lagi lah, tapi yang namanya Mawar, cantik juga. Jagain buatku ya...."
"Mau ini?" tanya Yusuf mengepalkan tangannya.
Sekitar setengah jam, Fatur bisa mencerna silsilah keluarga Yusuf dengan benar. Ia juga kagum dengan kekompakan Yusuf beserta saudara lainnya. Yang mampu membuat hatinya trenyuh, yakni kisah orang tuanya yang sangat sederhana.
Tak lama setelah itu, Raditya datang ke restoran itu. Setelah insiden dua bulan lalu, Raditya dan Aminah memang belum bertemu lagi. Bahkan mereka juga tidak berkomunikasi lewat ponselnya. Hanya doa dan angin yang selalu menemani rindu mereka.
Ternyata, Gu dan Hamdan sengaja mempertemukan mereka berdua, agar bisa memberi titik terang pada hubungan mereka berdua. Gu tahu, mereka saling merindukan, tapi semuanya memiliki perasaan yang tak enak hati satu sama lain.
__ADS_1
"Duduklah, aku akan membuatkan kalian menu spesialku. Aku dan Yusuf memiliki menu makanan Korea yang halal di sini, sebentar ya…." ucap Gu mempersilahkan Raditya duduk di depan Aminah yang saat itu tengah pura-pura belajar.
Masih saja mereka saling diam, namun dalam hatinya….
"Bang Dit, ayo, dong.. ngomong. Huft, nggak enak banget kalau saling diam begini." batin Aminah.
"Kenapa nggak nyapa aku, sih? Memangnya dia nggak kangen apa sama aku? Udah dua bulan nggak ada kabar juga." batin Raditya.
"Halah, mereka masih saja diam-diaman," lirih Hamdan.
Yusuf pun inisiatif mengirim pesan kepada Raditya agar menyapa Aminah lebih dulu. Karena Aminah pernah mengatakan jika dirinya tak akan memberi kabar kepada Raditya kalau Raditya sendiri belum memberinya kode.
[Sapa dulu ngapa, Mas. Cewek butuh perhatian, nggak usah gengsi gitu kalau Sayang!} -, pesan dari Yusuf.
Setelah beberapa menit, Raditya menyapa Aminah yang saat itu masih pura-pura sibuk dengan buku-bukunya.
"Assallamu'alikum," salam Raditya.
"Wa'alaikumsallam," jawab Aminah lirih.
"Apa kabar? Sudah lama nggak ada kabar?" tanya Raditya.
"Alhamdulillah baik, Bang Radit sendiri, bagaimana kabarnya? Usahanya juga lancar, 'kan?" jantung Aminah berdegup sangat kencang.
"Aku kangen sama kamu… Minah," lirih Raditya.
Mendengar kata 'kangen', tak terasa buliran air mata Aminah menetes. Bahkan tak ia bendung, air matanya bisa menetes begitu banyak bak bengawan solo jebol. Perasaannya campur aduk, jantungnya berdegup kencang, mulutnya seperti terkunci. Antara marah, bahagia dan sedih yang ia rasakan.
"Aku marah karena Bang Dit nggak ada kabar. Aku sedih karena kita belum menemukan titik terang. Tapi, aku bahagia saat bertemu denganmu, Bang Dit," desis Aminah menhan air matanya agar tak menetes lagi.
"Aku ingin, kamu meyelesaikan sekolahmu dulu. Baru kita bahas masa depan yang kita mau. Jika kita berjodoh, Allah pasti senantiasa mendekatkan kita. Begitu juga sebaliknya, jika kita belum berjodoh…."
"Jangan katakan itu!" potong Aminah. "Bolehkah aku egois?" imbuhnya.
__ADS_1
"Bismillah, jika kita selalu berdoa dan sudah ada niatan… Allah pasti mendengar doa-doa kita, jangan lagi cuekin aku ya. Kita jalani saja seperti dulu," ucap Raditya dengan senyuman.
Kini, hubungan Aminah dan Raditya kembali tenang seperti dulu. Memang Raditya ingin serius kepada Aminah. Tapi, ia tidak ingin egois untuk memilikinya dalam watu dekat, Raditya ingin Aminah mengejar cita-citanya lebih dulu. Ia juga bersedia menunggu sampai waktunya mereka untuk bersama tiba.