
Senja di langit Ibukota memang tak seindah senja di kampung halaman. Saat mereka menikmati malam malam bersam, jantung Airy terus berdebar tiada henti. Ia bahkan, sempat menanyakan kepada Bi Nah tentang berdebarnya jantungnya itu.
"Kamu kenapa, Ry?" tanya Hafiz.
"Aku merasakan dag dig dig di hatiku." jawab Airy.
"Apa penyebabnya? Tadi 'kan ada tarzan wati dadakan keluar dari goa. Terjatuh kah?" goda Raihan.
"Kalau aku tarzan wati, Abang tarzan juga. Huft, jahat!" kesal Airy.
Selesai menyuapi Rafa, Airy pun membawanya ke kamar. Untung saja, Rafa tidak rewel. Karena ini kali pertama mereka pindah rumah dan jauh dari keluarga. Bahkan, Airy dan Rafa nampak sangat tenang, merasakan kedamaian di hatinya. Seakan-akan, di tengah-tengah mereka terasa kehadiran Adam, meskipun memang Adam belum di temukan.
Tok, tok, tok.
Hafiz mengetuk pintu kamar, Airy. Ia ingin mengajak Airy melihat bintang-bintang dari balkon rumah itu. Berhubung Rafa sangat sangat gampang di asuh, tidurpun juga tidak rewel atau drama selebihnya dahulu.
"Wah, cantiknya. Hm, tetep panas ya, walaupun malam hari." ucap Airy, memandang langit malam.
__ADS_1
"Namanya juga Ibukota yang padat, Ry. Oh iya, aku dapat kabar dari seseorang, kalau Adam itu selamat." ungkap Hafiz.
"Benarkah? Jangan bilang kalau mau menghiburku, Kak Ale! Aku sama sekali nggak terhibur." gerutu Airy.
"Ucap syukur dong, amin 'kan saja. Alhamdulillah, gitu. Kita harus memiliki harapan, siapa tau kita bisa nemuin, Adam." harap Hafiz.
Hafiz juga menanyakan tentang tabahnya hati Airy, karena sejak kemarin ia sudah bisa tersenyum seperti sedia kala. Airy ou menjelaskan tentang seseorang di balik tabahnya dirinya.
"Bang Raihan!" dia termasuk tiga laki-laki yang paling berarti di kehidupanku.
"Tiga?" sela Hafiz.
" Iya, aku tahu pesan itu. Semangat, ya! Adam pasti ketemu!" seru Hafiz.
Dan berbuatlah sesukamu, karena sesungguhnya engkau akan diberi balasan karenanya. Sekecil apapun kebaikanmu, Allah akan membalasnya. Sekecil apapun keburukan mu, Allah pun melihatnya.
"Satu lagi!" seru Hafiz.
__ADS_1
"Apa itu?" tanya Airy.
"Sebesar apapun kau mencintai pasanganmu, atau sesama umat manusia, Allah juga akan memberikan kepahitan dengan perpisahan. Itu mengapa, ada dalih, cintailah pasanganmu jangan melebihi Tuhanmu. Pasanganmu bisa meninggalkanmu dengan bentuk perpisahan apapun. Contohnya, meninggal, cerai atau hal lain. Tapi, Tuhanmu tak akan pernah meninggalkanmu, bagaimana pun itu kondisimu." terang Hafiz.
Pernyataan Hafiz bisa di renungkan oleh Airy. Bukan berarti ia tidak boleh menyayangi Adam, tapi bisa di ambil sisi positifnya. Dua bulan lalu, ia terpuruk karena hanya Adam saja di pikirannya. Jika ia membuka pikiran, dan memikirkan yang lain, contohnya, Rafa dan masa depannya. Ia biasa menegakkan kepalanya dengan ringan.
Pertemuan itu terjadi, pagi hari saat Airy dan Adam masuk kantor. Ketika Airy memasuki ruangannya, ia bertemu dengan Adam yang saat itu membawakan kopi untuknya.
"Selamat pagi, Bu. Ini kopinya." kata Adam.
"Taruh di situ. Terima kasih," ucap Airy sibuk dengan berkas-berkasnya.
"Minumlah selagi hangat, itu akan membuat mood baik Ibu kembali."
Suara yang sangat familiar untuk Airy. Ia mendongakkan wajahnya. Bagaikan mimpi, ia melihat Adam yang saat itu sedang tersenyum manis kepadanya.
"Mas Adam." ucap Airy dalam hati.
__ADS_1
"Selamat pagi, Bu. Permisi."
Adam undur diri dari hadapan Airy yang belum dia ingat. Air mata mengalir begitu saja. Ia tak bisa berkata apapun. Bibirnya seperti terkunci, lalu tertunduk lemas di kursinya. Sampai Raihan memanggilnya untuk ikut briefing bersama petinggi kantor yang lain, serta pengenalan, bahwa dirinya manager perusahaan yang baru.