
"Assalamu'alaikum, ya zawjati...." salam Adam dengan lembut.
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh, Mas... anak kita...." ucapan Airy terhenti melihat bayi yang di gendong Adam tersenyum lebar.
"Alhamdulillah, lihatlah Airy. Ini bayimu, dia kembali. Suamimu membawanya kembali, tersenyumlah," Laila ikut bahagian akan itu.
Laila memberi waktu untuk mereka, ia pun menggendong bayinya kembali ke kamarnya dan menutup rapat-rapat pintunya. Kini, Airy baru bisa meneteskan air matanya, Adam langsung memeluknya, kemudian mengecup kening Airy.
"Alhamdulillah, suster yang membawa anak kita, sudah di amankan dan diurus oleh Bang Rai dan Hamdan. Mas tidak akan meninggalkanmu sendiri di sini," ucap Adam masih memeluk Airy.
"Aku, aku hanya takut jika anak kita tidak kembali. Aku sudah kehilangan Zahra, mana mungkin aku bisa kehilangan anak untuk yang kedua kalinya, Mas. Aku...." Airy tak bisa melanjutkan perkataannya.
"Sst, Alhamdulillahil ladzi najjana minal qaumidz dzalimin. Rabbi anzilni munzalan mubarakan wa anta khairul munzilin," ucap Adam.
"Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan kami dari orang-orang yang zalim, Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkati, dan Engkau adalah sebaik-baik Yang memberi tempat."
Melihat Airy tenang di pelukan Adam, Yusuf merasa damai. Kakaknya bersyukur mendapatkan suami sesederhana Adam, kasih sayangnya, perlakuannya yang lembut juga Adam miliki untuk Airy.
"Aku tidak akan pernah risau saat aku jauh dari Kak Airy. Aku tahu, jika Kak. Airy orang pertama yang akan menentangku keluar negri nanti, tapi... aku harus mandiri mulai sekarang." batin Yusuf.
"Assalamu'alaikum, Mas ini sajadahnya," ucap Yusuf menyodorkan sajadah yang ia pinjam dari mushola rumah sakit.
-_-_-_-
Hari berikutnya, Airy dan Laila serta bayinya sudah diperbolehkan pulang. Airy pulang ke rumahnya, sedangkan Laila pulang ke rumah Ruchan. Karena memang Laila belum terbiasa mengurus bayi sendirian, akhirnya rumah Raihan kosong.
"Alhamdulillah, sudah sampai rumah. Lihatlah, Uti buatin kamar untuk cicit Uti ini. Kamar bekas Lek Syakir, semoga suka, ya...." ucap Leah memperlihatkan setiap sudut kamar itu.
Leah dan Aisyah menikah di usianya muda. Jadi, ketika sang cicit lahir, Leah masih sanggup untuk menggendongnya. Laila bahagia, ia diperlakukan seperti ratu di rumah itu. Berbeda dengan rumor yang mengatakan, mertua dan menantu jarang bisa akur.
__ADS_1
"Uti, bisa gendong dedek bayinya dulu, nggak? Laila kebelet pengen pipis," ucap Laila lirih.
"Boleh dong, sini biar buyut gaul gendong, hehe...." dengan semangat Leah menerima bayi mungil itu di gendongannya.
Di rumah Airy, ternyata Gu dan Yusuf juga sudah menyiapkan kamar spesial untuk si kembar. Bahkan mereka mendesain seluruhnya dengan warna pink. Sesuai dengan gender perempuan yang warna pink.
"Aku hargai usaha dekorasi kalian. Bersih, rapi, cerah dan cantik, sih...," ucap Airy manggut-manggut. "Tapi, kenapa harus warna pink, sih?" teriak Airy.
"Astaghfirullah hal'adzim, kena sembur," lirih Gu.
"Nyemprot juga," timpal Yusuf.
"Emang pusing kalau urusan sama wanita, jadi kalau kita belum siap betul, jangan menikah dulu, Suf. Nikmati masa muda kita dengan baik, jangan seperti keluarga kita yang menikah muda," bisik Gu.
"Haha, jangankan nikah. Pengen mencinta saja belum kepikiran hahaha," desis Yusuf.
"Kalian kalau mau ngrumpi, keluar!" bentak Airy.
"Yusuf dengan Gu ini. Mereka bisa akrab gitu ya? Si Hamdan adiknya malah nggak sedekat itu," ujar Adam membelai wajah istrinya.
"Cocok itu nggak harus sedarah dan adik kakak. Mungkin juga mereka lebih cocok satu sama lain, dari pada dengan yang lain. Sama halnya aku dan Yusuf, Yusuf dan Aminah, lalu Bang Rai dan Yusuf. Bisa di lihat kedekatan kami juga berbeda, 'kan?" ucap Airy.
Jika Airy dan Laila sedang sibuk dengan bayi-bayi mereka. Berbeda dengan Aminah yang bertemu dengan Raditya di luar pesantren. Sebelumnya, Raditya mengatakan jika dirinya akan hadir ketika pemberian nama saja. Tapi kini, malah sudah sampai di depan gapura pesantren.
Cuaca saat itu cerah, jadi Mayshita dan Aminah di pinta untuk membelikan beberapa keperluan bayi oleh Laila dan Airy dengan daftar belanja masing-masing. Karena malas bertengkar, Airy meminta Mayshita untuk menolongnya, sebaliknya Laila meminta Aminah.
"Itu... ehem, jadi gimana? Aku berangkat sendirian, nih?" bisik Mayshita paham karena Raditya sudah ada di depan matanya.
"Bang Dit? Ngapain dia kemari sekarang?" desis Aminah.
__ADS_1
"Aku telpon Falih aja deh, siapa tahu dia mau nganterin aku. Aku duluan ya, hati-hati dan jangan terlalu dekat, entar ada yang ketiga ... setan!" seru Mayshita jalan lebih dulu.
"Assalamu'alaikum, Mas Raditya. Aku duluan ya, jangan ajak yang neko-neko itu, Minah, oke?" pesan Mayshita dengan mengajar jempolnya.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, siap May!" seru Raditya semangat.
Senyum indah terukir di bibir Aminah. Seperti mendapat rezeki tak terduga, Aminah gembira melihat kedatangan Raditya. Sudah lama mereka hanya berjumpa melalui ponsel, kini bisa bertemu seperti itu, Aminah merasa jantungnya ingin copot dari tempatnya.
"Assalamu'alaikum," salam Raditya.
"Wa'alaikumsalam, Bang Dit." jawab Aminah tanpa malu-malu, ia malah terlihat semangat.
Aminah mengajak Raditya ke toko bayi, karena Laila sudah bawel sebelumnya. Dengan senang hati, Raditya membawa Aminah masuk ke dalam mobilnya. Selayaknya pengusaha kayu, Raditya memang terbilang cukup sukses di bidang itu. Bukan hanya itu saja, minimarket miliknya juga bercabang di setiap daerah. Jadi, jika suatu saat nanti dia tidak mendapat warisan karena menentang orang tua, dia tetap masih bisa bertahan hidup sampai beberapa kehidupan.
"Kenapa nggak pakai pick up lagi?" tanya Aminah.
"Oh, mobil itu ada di pabrik. Buat operasional di sana. Jadi, aku beli ini, dengan hasil kirim bibit yang join dengan Ustad Adam waktu itu, hehehe...." jawab Raditya.
"Aku juga lagi pengen berbisnis di dunia bibit ini dengannya. Kita juga udah set ke lokasi pembuatannya di daerah Kaliangkrik, dan nanti di kirim ke Temanggung atau ke Brebes, udah dapat bakul aku," jelas Raditya.
Aminah kagum dengan usaha keras Raditya. Meski belum setua itu, tapi Raditya mampu membanting otaknya agar tidak ketergantungan dengan warisan atau harta orang tuannya.
"Bang Dit kerja keras begini, untuk siapa? Bukankah, keluarga Bang Dit udah kaya raya, ya?" tanya Aminah.
"Orang kaya, kalau tidak bisa memenejemenkan hartanya juga pasti lama-lama akan habis, manis. Lagi pula, aku bekerja juga karena ingin membuatmu hidup nyaman kelak nanti," jawab Raditya melirik ke arah Aminah.
"Hm? Gimana, gimana?" goda Aminah.
"Ya, aku ingin menikahimu setelah kamu lulus sekolah. Lalu, aku akan menemanimu menempuh pendidikan di mana yang kamu suka di belahan dunia ini, bagaimana?" jelas Raditya.
__ADS_1
"Siapa juga yang mau menikah muda? Lagi pula, dinding pemisah kita masih tinggi, Boy. Restu ibu itu adalah yang utama!" seru Aminah tanpa tersipu malu. Aminah memang berbeda.
Raditya nampaknya memang sudah sangat matang untuk melangkah lebih jauh dengan Aminah. Ia tidak akan pernah menyerah jika Allah saja masih meridhoi jalannya mengejar gadis yang ia inginkan. Akankah mereka akan berjodoh?