Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 12


__ADS_3

Malam itu, Airy tidak bisa tidur, ia hanya menggulingkan badannya ke kanan dan kekiri. Bahkan sampai kepalanya ada dibawah lalu kakibya ke atas.


"Airy, kamu kenapa sih? Tau nggak?" Tanya Nadia.


"Nggak! Aku masih bosen mendengar anak kedua Kyai besar itu, kek mana pula tampangnya yang katanya tampan itu? Setampan Pak Lhek Kabirku kah?" Gumam Airy.


Tiba-tiba Airy beranjak dari ranjangnya dan berjalan keluar.


"Kamu mau kemana?" Tanya Nadia.


"Belum tidur kamu? Aku mau cari udara seger, mau ikut?" Ajak Airy.


"Gas" Kata Nadia semangat.


Airy dan Nadia mengendap-endap keluar dari kamar, Airy berencana untuk nangkring lagi di atas pohon sesuai dengan kebiasaannya yang sering nangkring pohon dikala ia sedang pusing. Nadia ternayata juga pandai manjat pohon, sama seperti Airy.


"Wuih, rambutannya mempeng, enak nih. Kamu juga sering nangkring disini, adem enak gini ya" Kata Nadia sambil menikmati Rambutan.


"Atas pohon itu memang tempat paling asoy untuk nangkring, malam-malam gini kan aman nggak banyak santri sliweran" Kata Airy sambil memejamkan matanya dan menyandarkan tubuhnya di dahan.


Saat itu giliran Raditya dan Raihan yang ikut keliling Ustad Zainal, mereka mempergoki Airy dan Nadia yang sedang nangkring di pohon. Sempat kaget, karena pakaian yang mereka berdua kenakan berwarna putih, namun Raihan yakin jika itu adalah adiknya, karena terdengar dari suara tawanya.


"Tapi yakin nih kita nggak.bakal ketahuan?" Tanya Nadia mulai tidak nyaman.


"Nikmati aja alurnya, ketahuan paling juga cuma di hukum hahahaha" Kata Airy santai.


Raihan dan Raditya melemparinya menggunakan krikil, sadar karena ada yang iseng, Airy pun menjadi marah-marah tidak jelas, dengan turun cepat dari pohon.


"Aduh, sakit" Teriak Nadia.


"Kenapa sih Nad, jangan brisik dong" Kata Airy masih memejamkan matanya.


"Aduh" Jerit Airy, krikil itu mengenai kakinya.

__ADS_1


"Siapa sih yang ganggu, sakit woy! Turun Nad, kita labrak dia siapa! Berani-beraninya dia ganggu kita bersantai" Kesal Airy.


"Emmmm, nakal ya. Ini udah malam, mau sampai kapan petakilan seperti itu Airy Putri" Kata Raihan menjewer telinga Airy.


"Aw aw, sakit Bang. Sakit Abang, lepasin ahh" Rengek Airy.


"Kembali ke kamarmu, besok kamu sekilah Airy!" Kata Raihan.


"Iya Bang, iya, ini mau on the way masuk kamar, ayo Nad, Assallamualaikum" Salam Airy langsung lari terbirit-birit.


"Waalaikum sallam"


Airy dan Nadia langsung lari sangat kencang sambil tertawa-tawa. Lucunya mereka langsung diam ketika hendak memasuki gapura area santriwati. Wajah mereka juga lucu, melihat ke kanan dan kekiri, mengendap-endap hingga Nadia sampai merangkak takut ketahuan Ustadzah yang sedang patroli malam.


"Lha kamu ki ngopo se Nad, brangkak ngono lho (merangkak gitu lho) Ayo cepat jalan aja, santai" Kata Airy yang heran melihat Nadia tiba-tiba merangkak.


"Aku takut ketahuan Ry, tuh ada Ustadzah" Kata Nadia menunjuk Ustadzah Rani.


Mereka berdua sampai di kamarnya dengan selamat, karena kecapekan lari dan merangkak, Nadia langsung tidur terkapar di kasurnya. Sedangkan Airy melakukan rutinitasnya, ngemil sebelum tidur.


Diluar area santri putri, Ustad Zainal dan Raditya menertawakan tingkah lucu Airy yang menggemaskan. Membuat Raihan sampai sakit kepala mencerna kenakalan Airy.


"Lulus sekolah nanti harus cepat nikahkan dia dengan adikku, biar dia bisa anteng, berubah gitu hahahaha" Tawa Zainal.


"Aku ndak nyangka lo Han, kembaranmu itu nakalnya minta ampun, anak wedok (perempuan) lho pethakilan menek (manjat ) pohon rambutan segala, bahasanya juga gaul hahahaha cocok buat adik Ustad Zainal yang kalem dan dingin sama perempuan hahaha" Kata Raditya tertawa terus menerus.


"Ngguyu wae teros (Ketawa aja terus)" Kesal Raihan.


_-_-_-


Seminggu berlalu, Airy dan Nadia juga sudah bisa menyesuaikan sekolah di Ma bersama, senagaja Rindi dan Airy di jauhkan bangkunya, takut mereka akan membuat keributan di kelas. Selama di kelas, bahkan di kantin, mereka berdua terus saja berantem.


Sampai pernah waktu itu, Airy nangkring di pohon jambu belakang sekolahan, hanya untuk memetik jambu untuk Nadia dan beberapa temannya. Karena Airy adik kembarnya Raihan, banyak santriwati atau murid dari sekolah itu yang mendekatinya, memintanya untuk memeperkenalkannya kepada Raihan.

__ADS_1


Kabar kepulangan anak kedua Kyai besar semakin heboh saja, membuat telinga Airy menjadi sakit, kepalanya pusing dan muak dengan kabar itu. Airy tidak tertarik dengan lelaki manapun sebelum ia lulus sekolah, dan mengejar cita-citanya, jadi ia tidak seperti santriwati lainnya yang sangat antusias menyambut kepulangan anak kedua Kyai besar itu.


"Itukan mobil Papa sama Ami? Ngapain juga mereka kesini? Perasaan aku belum buat onar deh di pesantren ini" Gumam Airy.


"Ada apa Airy?" Tanya Nadia.


"Nggak papa kok" Jawab Airy sedikit kaget.


"Tuh orang tuamu datang, pasti kamu mau di jemput deh, baguslah kalau kamu di jemput. Jadi nggak bikin kotor pesantren ini lagi" Kata Rindi dengan nada sedikit sinis.


"Nad, ada yang bicara tapi nggak wujud, aku rasa pesantren kita ini angker deh, kalau aja tuh setan wujud, udah aku giling pakai gilingan sosis, terus kalau udah hancur, aku bejek-bejek dengan tinjuku ini" Sindir Airy.


"Kamu!" Teriak Rindi.


"Apa!? Hah, apa?" Kata Airy menantang.


"Tunggu pangeranku datang, terus menjadi istrinya dan langsung mencutatmu dari pesantren ini, awas aja" Kata Rindi percaya diri.


"Ngimpi!!" Seru Airy dan Nadia.


Rindi semakin kesal, dan sangat memebenci Airy, ia berjanji dengan deirinya sendiri akan berusaha mendapatkan anak kedua Kyai besar itu, agar bisa mengeluarkan Airy dari pesantren.


Sebelum melihat anak kedua Kyai besar keluar dari mobil, Airy di panggil oleh Ustadzah Ifa untuk menemui orangtuannya di rumah Kyai. Ustadzah Ifa juga mengatakan ada hal penting yang ingin orangtuannya dan Kyai besar katakan padanya.


"Assallamualaikum, Airy kamu harus ikut saya ke rumah Kyai besar, orangtuamu menunggumu disana" Kata Ustadzah Ifa.


"Waalaikum sallam, kenapa orangtuaku kemari? Apakah Ustadzah yang melaporkan tidakanku sebelumnya ke orangtuaku? Ustadzah kan........." Kata Airy mulai memanyunkan bibirnya.


"Saya nggak pernah melaporkanmu, itu adalah undangan dari Kyai besar, disana juga ada Kakek dan Nenekmu juga, ayo cepat Airy" Ajak Ustadzah Ifa sambil menarik tangannya.


Lalu, Ustadzah Ifa meminta kepada Nadia untuk tidak mengikutinya, karena itu adalah pembicaraan penting anatara Kyai besar dengan keluarga Airy. Apa boleh buat, Nadia memang bukan orang penting, ia mengiyakan perkataan Ustadzah Ifa, lalu berbaur dengan santriwati yang lainnya.


Di ruang tamu Kyai besar, sudah ada Orangtua Airy, Kekek Neneknya, dan Raihan juga disana. Sebelum duduk, seperti biasa Airy mencium tangan mereka semua, sayang sekali, Istri dari Kyai besar sudah tiada sejak lama, jadi hanya ada Kyai besar dan Ustadz Zainal saja disana, dan sebentar lagi, anak kedua Kyai besar akan masuk kerumah bertemu dengan Airy, dan memberitahunya tentang perjodohan dirinya dengan anak kedua Kyai besar pesantren itu.

__ADS_1


__ADS_2