Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 171


__ADS_3

Di Jogja, Yusuf bersama Aminah pergi ke toko buku, tak sengaja bertemu dengan Mayshita yang kala itu juga di sana bersama dengan temannya.


"Assalamu'alaikum, Yusuf, Aminah. Kalian di sini juga?" sapa Mayshita.


"Wa'alaikumsalam. Kamu, sendirian?" tanya Aminah.


"Sama temen, kok. Cuma, belum izin sama Abi dan Umi. Jangan bilang ya, aku mohon."


Ternyata, Mayshita pergi tanpa sepengetahuan orang tuannya. Mayshita memang berbeda dengan Aminah, yang bisa bebas kemana saja. Tapi, Aminah dan Yusuf tidak pergi berdua saja, ada salah satu santri yang mengantar mereka.


"Kita masih kecil Sita, jika kita mau keluar rumah, kita harus izin. Orang tua kita kan masih ada, jika kamu mau pergi kemana saja, kamu bisa kok ajak kami," tutur Yusuf.


"Bukan begitu, Aminah?" Imbuhnya.


"Maaf, nanti pulang dari sini, aku akan meminta maaf dengan Abi dan Umi." sesal Mayshita.

__ADS_1


"Santai saja, nanti kita akan menemanimu. Kita kan saudara," sahut Aminah.


Bukan hanya kakak, dan para orang tua mereka yang akur sesama keluarga. Kerukunan itu juga di tanamkan kepada generasi Yusuf. Memang sulit untuk rukun keluarga, apalagi jika statusnya sepupu dan ipar. Tetapi, semua itu di mulai dari diri sendiri.


"Nanti, kalau di tanya Pak Dhe, sama Bu Dhe, jawab jujur. Jangan cari alasan lain, oke?" saran Yusuf.


"InsyaAllah, tapi janji, ya. Kalian mau membantuku, menemani bicara dengan Abi dan Umi." ucap Mayshita.


Sementara itu, Airy dan Adam kembali dari rumah sakit. Untung saja, Airy masih kuat, ia hanya mengalami stres karena semua beban ia pikir sendiri. Sebab itulah, ASI Airy tidak keluar, membuat Rafa harus minum susu formula.


"Astaghfirullah, jangan ngomong gitu, Sayang. Kamu tetaplah seorang ibu. Masih ingat cerita, Uti? Ami juga dulu tidak minum ASI, loh. Begitu juga dengan adik kita, Aminah. Dia juga tidak minum ASI dari ibu kandungnya. Ya, walaupun Ami memberikan ASI nya. Tapi, tidak semua ibu muda beruntung bisa memberikan ASI, karena tidak keluar. Semangat, ya."


Ucapan Adam buat hati Airy sedikit lega. Dia bukan wanita satu-satunya yang tidak bisa memberikan ASI ekslusif. Mereka melanjutkan perjalanannya, hingga sampai ke bukit, tempat wisata di daerah tempat tinggalnya.


"Indah, ya." ujar Airy mengagumi ke indahan alam sekitar bukit.

__ADS_1


"Iya, indah." jawab Adam menatap wajah Airy.


"Ih, bukan aku. Tapi pemandangannya, Mas!" Airy tersipu.


"Bagiku, kau lah keindahan yang Allah berikan, untukku. Lalu, di tambah dengan kehadiran, Rafa. Itu juga suatu anugerah di hidupku. Bismillah, dengan izin Allah, aku akan berusaha membuat kalian bahagia berdada di sampingku." tutur Adam menggenggam kedua tangan istrinya.


"Aku belum dewasa menyikapi biduk rumah tangga kita ini, Mas. Apakah, kamu mampu bersabar, menungguku berpikiran dewasa?" pertanyaan Airy membuat Adam tersentuh.


"Pengen meluk, tapi malu, banyak orang." bisik Adam, menggoda Airy.


"Cie, yang usia 19 tahun udah jadi ibu. Pengen lagi," goda Adam.


"Aku, masih nifas Bambank!" tepis Airy.


Cubitan kecil mesra untuk Adam, membuat beberapa pasangan muda-mudi di sampingnya pergi, karena tidak tahan melihat keromantisan mereka. 10 poin bertambah, tingkat stres Airy berkurang. Adam sangat bersyukur, bisa menjadi salah satu suami yang siaga, disaat istrinya terserang baby blues itu. Penyakit, yang hanya seorang ibu baru melahirkan/ibu muda alami. (Termasuk author)

__ADS_1


__ADS_2