Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 69


__ADS_3

Waktu hampir menunjukkan jam 8, Adam bersiap-siap hendak ke MA pesantren untuk mengajar, dan siang harinya, ia akan bertemu dengan Pak Kades untuk membahas hal penting dengannya.


"Airy,"


"Iya Ustad?" jawab Airy.


"Fikirkan kampus mana yang ingin kamu tuju, setelah itu mendaftarlah, aku mau kerumah Pak Kades dulu ya. Ingat? Kemungkinan nanti aku akan pulang sore, masak apa yang kamu bisa aja, akan kubawakan jajanan nanti untukmu," kata Adam.


"Kaki difikirkan juga Ustad, masa udah buat jalan-jalan terus sih. Hati-hati dijalan ya, nanti aku masak buat Ustad deh, spesial!"


"Baiklah, aku siap mencobanya, Assallamu'alaikum manis," salam Adam dengan senyuman.


"Wa'alaikuk sallam warohmatullahi wabbarokatuh Ustad." Jawab Airy sambil mencium tangan Adam.


Mendengar Airy ingin memasak untuknya, Adam menjadi lebih semangat mengajar. Begitu juga dengan Airy, ia trus mencari resep yang seserhana tapi enak buat buka puasa.


Di lain tempat, Raihan dan Ustad Zainal, dengan Clara tentunya, sampai di kantor polisi untuk bertemu dengan polisi. Mengantar bukti-bukti kejahatan Sariz san menuntut Sari agar ia masuk penjara.

__ADS_1


"Udah siap semua kan Tante?" Tanya Raihan.


"Abang tenang saja, semua aman disini. Untuk kali ini, Tante tetap akan buat si Sari itu tetap menginap di penjara." jawab Clara mantap.


"Tapi, nyuwun sewu buk, Sari itu punya uang, jadi suka membeli hukum, eh apa ya maksut nya, tapi itu lah, bisa bebas dengan jaminan," sahut Ustad Zainal.


"Uatad tidak usah khawatir, kita berdoa saja untuk.keadilan bagi Bela dan Adam. Aku yakin, Allah akan memberikan hukuman yang setimpal untuk Sari, ini seperti kasus Dokter gadungan waktu itu, jadi aku harus hati-hati." Kata Clara mengingat kejadian dengan Dokter Dara yang ingun mencelakai Fatim, tetapi malah salah sasaran kepada Zulaikha dan mengakibatkan kematian.


Di rumah, Yusuf, Aminah dan Mayshita juga sedang belajar bersama. Hari itu jadwal mereka video call dengan Falih, yang saat ini masih di Jepang.


"Assallamu'alaikum semua," salam Falih.


"Alhamdulillah Kak Airy udah nikah ya, hahaha jadi nggak banyak bikin masalah deh buat kalian." Kata Falih.


"Iya sih, Alhamdulillah. Tapi kini aku mulai merindukan sikap Kak Airy itu, seperti hilang separuh cahaya mentari di kehidupan kita aja," sahut Aminah.


"Jangan sok tua gitu, kita lanjut belajar aja lah. Kita masih kecil, berfikir dan bersikaplah sesuai usia kita." Tutur Yusuf.

__ADS_1


Bau-bau Ustad baru akan muncul nih, si Yusuf sifatnya seperti Syakir kalemnya, tapi kalau sudah tegas, ia akan terlihat seperti Aisyah. Berbeda dengan Aminah yang sedikit baperan, dan Mayshita lebih ke kanak-kanakan.


Menjelang sore, Airy mulai meracik bumbu, ia sangat semangat untuk memasak kali ini. Semua juga di siapkan dengan sangat baik. Sambil melihat resep, Airy juga sambil bersenandung. Sampai ia di ganggu oleh pesan masuk dari Diaz.


Klunting...


Suara nada pesan masuk.


"Assallamu'alaikum, gek opo? (lagi apa)" tanya Diaz.


"Wa'alaikum sallam, lagi masak lah, kenapa?" jawab Airy.


"Mancing njo, aku ada umpan!" seru Diaz.


"Wegah! Sesat ajaranmu ki, aku lagi sibuk jangan ganggu!" balasan dari Airy.


"Wasyemm, keplak purun?" Diaz mengakhiri pesannya.

__ADS_1


"Lho lagian, aku kan lagi masak, malah ngajak mancing. Aku tau kalau Mas Diaz tuh kalau mancing nggak pernah dapat, makanya ajak aku, emmm." Gerutu Airy.


Tidak sengaja jari Airy terkluka karena tergores pisau, ia pun swgera mempersihkan dan mengobati goresan itu. Lalu melanjutkan lagi memasaknya, katanya pendekar wani perih, jika kena pisau saja sudah kesakitan, maka bukan lagi pendekar.


__ADS_2