Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 386


__ADS_3

Hampir memakan waktu seharian, akhirnya mereka sampai di Korea. Kabir dan Jamil memang selalu menyempatkan waktu jika sudah menyangkut keluarga Rifky. Jamil ini sahabat dari Ilham, tapi ia dekat dengan Rifky dan Kabir waktu itu, bahkan karena Rifky lah Jamil bisa memiliki banyak cabang restoran di Jogja maupun di Korea.


"Assalamu'alaikum, udah lama nunggunya?" salam Yusuf langsung mengenali mereka berdua.


"Wa'alaikumsalam, sekitar lima menitan kok. Ayo segera kita pulang, Ibu dan Eomma Yoona sudah menunggu kalian di rumah," ucap Kabir.


"Ibu? Eomma?" hati Yusuf sangat tersentuh ketika Kabir mengucapkan itu.


"Iya, kami sepakat untuk mengharapkan kamu memanggil mereka seperti itu. Selama di sini, merekalah ibu kalian berdua. Jadi, biasakan kalian memanggil Ibu, untuk Ceasy, dan Eomma untuk Yoona," jelas Kabir.


Yusuf dan Aminah berterima kasih akan itu, mereka pun pulang ke rumah Kabir. Di sana, keluarga sudah menyambutnya dengan menyediakan makanan istimewa untuk mereka berdua. Hamdan juga sudah ada di sana, ia baru saja pulang dari keperluan itu.


Ceasy dan Yoona begitu lembut, mereka menyambut Yusuf dan Aminah dengan hangat. Banyak yang mereka bicarakan saat itu. Sampai malam tiba, Yusuf memasuki apartemen miliknya sendiri, tempat itu masih kosong tanpa barang elektronik lainnya. Yusuf berencana akan membeli semuanya esok hari.


Karena belum ada kasur, sementara Yusuf dan Aminah tidur di rumah Kabir lebih dulu. Yusuf sekamar dengan Hamdan, dan Aminah dengan Yumna. Yusuf tengah duduk di depan meja belajar di kamar Hamdan. Ia membuka dompetnya dan menggenggam liontin itu.


"Akhirnya, tanpa sengaja, kau juga ikut bersamaku ke sini. Apakah, ini takdir yang Allah berikan untuk kita? Aku ingin tahu siapa dirimu, aku juga ingin tahu kenapa kamu mengalami masa sulit. Tapi, aku tidak ingin kamu merasuki pikiranku sampai aku tak dapat berkonsentrasi seperti ini, mata biru." gumam Yusuf dalam hati.


"Liontin ini, pasti sangat berarti. Dari bentuknya saja seperti sangat istimewa. Apakah dia baik-baik saja sekarang?"


Ketika sendirian dan merenung, Yusuf selalu ingat dengan gadis mata biru itu. Ia tidak sadar jika seorang gadis kecil saja mampu mengalihkan dunianya. Karena tak ingin larut dalam ingatan semu, Yusuf memutuskan untuk sholat dan berdoa kepada Sang Pencipta, agar dirinya diberi kemudahan dalam menuntut ilmu di Kota baru.


Keesokan harinya, setelah sholat subuh, Hamdan mengajak Yusuf lari pagi. Sekalian mereka akan memberi beberapa eletronik dan bahan makanan untuk tinggal berdua. Aminah sudah di serahkan oleh Kabir dan Ceasy, jadi tanpa izin mereka, Aminah tidak boleh pergi sesuka hati.


"Yakin kita meninggalkan Aminah?" tanya Hamdan.


"Kalau ngajak dia, pengeluaran pasti makin banyak. Dia susah banget diajak berhemat. Bapaknya saja nitipin uang ke aku dan Ayahmu," jawab Yusuf.


"Kita berhenti di sini. Aku sudah lelah!" ucap Hamdan menghentikan lari paginya.

__ADS_1


"Baru segini sudah lelah? Katanya kau ingin jadi Dokter. Latihan fisik itu perlu," ledek Yusuf.


"Aku memang ingin menjadi Dokter, bukan latihan militer. Ayo, sebaiknya kita cari toserba, kita beli makan dan minuman," ajak Hamdan.


Sampailah mereka di depan toserba dan jajan. Sambil menikmati jajannya, Yusuf dan Hamdan duduk manis di depan toserba dan membincangkan tentang sekolahnya. Hamdan juga mengambil kelas bahasa bersama dengan Yusuf, memang diwajibkan di sana mengikuti kelas bahasa selama setahun sebelum mengambil jurusan yang diinginkannya.


"Setelah ini, kita pergi ke mana dulu? Mau beli akat elekronik atau beli bahan pangan dulu?" tanya Hamdan.


"Elektronik dulu, aku juga harus membeli satu set tempat tidur. Rumah lama Papa-ku banyak sekali eletronik yang lama tak terpakai, kita lihat dulu saja ke sana. Kalau masih bagus, aku tidak akan membeli lagi," ucap Yusuf.


"Rumah itu belum terjual?" tanya Hamdan.


"Hari ini akan terjual, tapi aku tidak menjual seisi rumahnya. Jadi, lumayan jika masih ada barang elektronik yang masih terpakai. Itung-itung berhemat, bukan?" jawab Yusuf.


"Daebak!"


"Aku yakin, kelak yang menjadi istrimu pasti bahagia. Kau memang pandai dalam menjalani hidup, Cup!"


"Kenapa bibirmu? Gatal? Kok, di gigit-gigit gitu?" tanya Hamdan sok tahu saja kalau Yusuf sedang mengingat pengalaman pertamanya.


"A-a, a-aku cuma mengingat makanan di restoran Om Jamil itu enak. Ki-kita nanti mampir, yuk!" jawab Yusuf dengan gugup.


Hamdan menyipitkan matanya, ia hanya percaya jika saat ini Yusuf sedang berbohong. Tapi, Hamdan cuek saja. Dirinya tak mau mencampuri urusan Yusuf jika memang Yusuf tak berkenan dirinya mengetahui tentangnya.


-_-_-


Setelah puas mengobrol, mereka melanjutkan perjalanannya ke rumah lama Rifky. Hamdan heran, ia hanya tahu jika rumah Rifky yang sudah terjual dan uangnya untuk membeli apartemen itu. Ia tidak menyangka jika Rifky masih memiliki rumah lain di kota itu, dan jauh lebih besar dari rumah sebelumnya.


"Kok aku nggak tau soal rumah ini, sih?" tanya Hamdan.

__ADS_1


"Mana interiornya bagus lagi, semua barang elektronik di rumah ini juga masih bagus, loh, Cup!" imbuhnya.


"Maka dari itu, aku berani jual mahal. Kan lumayan buat nambah saldo rekening," jawab Yusuf.


"Apa nggak eman, Cup? Maksudnya, kenangan dengan orang tuamu gitu, loh?" tanya Hamdan.


"Masalahnya, aku tak memiliki kenangan apapun di rumah ini. Lagipula, tiada foto mereka juga kan di sini. Barang kesayangan juga tidak ada, dari pada nganggur nggak terawat ya mending aku jual. Dan aku nggak akan sewakan, karena takutnya malah aku sendiri yang rugi," jelas Yusuf sambil melihat-lihat rumah itu lagi.


"Waw, impresif!" ujar Hamdan seraya bertepuk tangan.


Tak la setelah itu, sang pembeli rumah sudah datang beserta keluarganya. Mereka bahkan sudah siap-siap untuk pindah ke rumah itu juga. Sebelumnya mereka sudah negosiasi dengan Kabir dan Jamil, namun pembayaran akan dilakukan bersama pemilik rumah asli, yakni Yusuf.


Sengaja Yusuf mengajak Hamdan karena ia takut jika sang pembeli tidak bisa berbahasa Inggris, itu hanya akan menghalangi komunikasi mereka saja nantinya. Sepasang suami istri dengan dua anak perempuannya.


"Perkenalkan, nama saya Park Jin Woo. Pembeli rumah ini, kami sudah negosiasi dengan Tuan Kabir sebelumnya," ucap bapak pembeli itu menggunakan bahasa Korea tentunya.


Hamdan pun menerjemahkannya.


"Apakah bapak bisa berbahasa Inggris?" tanya Yusuf.


"Oh, kebetulan saya bisa berbahasa Inggris. Kami sekeluarga bisa berbahasa Inggris," jawab Pak Park.


:Ok, jadi gini Pak. Saya kan hanya menjual rumahnya saja, kebetulan saya tidak bisa membawa semua perabotan, bisakah bapak merawat perabotan lain di sini?" tanya Yusuf.


Yusuf hanya berniat membawa satu set tempat tidur, kulkas dan sofa saja. Selebihnya, Yusuf ingin memberikan kepda keluarga Pak Park dengan cuma-cuma. Tentu saja membuat Pak Park dan keluarganya senang, perabotan di rumah itu masih bagus-bagus semuanya.


"Cup, nggak rugi kamu? Barang mahal semua, loh?" tanya Hamdan berbisik.


"Tidak apa-apa, ladang amal dengan atas nama Papa dan Amiku," jawab Yusuf.

__ADS_1


Transaksi selesai, semua uang hasil penjualan rumah sudah masuk ke rekening pribadi Yusuf. Pak Park juga menawarkan jasa angkut yang ia pakai untuk Yusuf membawa barang yang akan ia bawa ke apartemen.


Pak Park sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Yusuf, karena sudah memberinya bonus yang sangat banyak. Bahkan Pak Park juga berjanji, jika suatu saat nanti Yusuf menginginkan rumah itu kembali, Pak Park siap menjualnya kepada Yusuf lagi.


__ADS_2