
Hujan tiba-tiba mengguyur pesantren malam itu, mengiangatkan Airy akan malam yang sangat menyenangkan saat ia kecil, duduk di tembok pembatas dan memakan camilannya, sesekali melirik ke kamar Raihan, dan melirik rumah Kyai besar. Ia berfikir, apakah bisa dirinya menjadi seorang istri yang cocok untuk Adam, melihat dirinya sendiri membuat Airy takut mengecawakan banyak orang yang ia sayangi.
"Apakah aku bisa? Aku masih ingin terbang tinggi, tapi ini semua ku lakukan demi rasa hormatku kepada orangtuaku. Aku sangat menyayangi kedua orangtuaku, Kakung dan Uti, Bang Raihan, aku tidak ingin membuat mereka kecewa," tangan Airy menadahkan ke air hujan, dan tangan satunya menggenggam camilannya.
"Tidak ada yang akan kecewa Airy," suaranya tidak asing ditelinga Airy,
Airy menengok kearah belakang, ia melihat Ustadzah Ifa disana. Entah kenapa tiba-tiba Airy menangis dan langsung memeluk Usatdzah Ifa, bak anak terpisah lama dengan ibunya, Airy menangis di pelukan Ustadzah Ifa. Melihat Airy yang sangat rapuh, Ustadzah Ifa membelai kepala Airy.
"Assalamu'alaikum Airy, apa kabar?" Tanya Ustadzah Ifa.
"Wa'alaikum sallam Ustadzah, Alhamdulillah aku baik-baik saja, aku hanya butuh dukungan, aku ingin pulang sebentar apa boleh? Aku ingin ketemu sama Ami, aku ingin belajar menjadi wanita sholehah dari Amiku Ustdazah." Tangis Airy semakin tidak terkendali.
"Apa yang membuatmu seperti ini? Kenapa tiba-tiba kamu berubah Airy, aku suka Airy ku yang nakal, aku tidak suka Airy yang lemah seperti ini," Kata Ustadzah Ifa mengusap air mata Airy.
"Aku melihat sesuatu di mata Ustad Adam Ustadzah, ada sesuatu saat ia bicara denganku di klinik tadi. Tatapannya benar-benar menusuk kepalung hatiku Ustadzah, apa yang sebenarnya terjadi didiriku?" Tanya Airy.
Tanpa menajawab pertanyaan Airy, Ustadzah menuntun dan membawa Airy masuk ke kamarnya, walaupun sedang sedih, Airy tetap memakan camilannya dengan lahap, bahkan minta Nadia mengambilkan stok camilannya lagi. Airy ternyata belum menjadi jika dirinya telah jatuh cinta sebelum waktunya kepada Adam, itu kenapa saat Adam memberi nasihat, ia patuh padanya.
__ADS_1
Airy tertidur di pangkuan Ustadzah Ifa, perlahan Ustadzah Ifa menidurkan Airy di ranjangnya, lalu meminta Nadia untuk menjaganya dengan baik. Dan Ustadzah Ifa kembali kerumah Ustad Zainal segera, lalu menceritakan apa yang terjadi dengan Airy. Disisi lain, Adam dan Rifky sedang berbincang sebentar di luar rumah Kyai besar, mereka membicarakan masa depan yang akan dijalani Airy dengan Adam nantinya.
"Itu bangunan apa yang ingin kamu bangun Dam?" Tanya Rifky kepada Adam.
"Insya Allah itu rumah yang saya buat untuk tinggal bersama istri saya nanti Pak Dhe, semoga saja saya dan Airy berjodoh," ucap Adam penuh dengan keyakinan.
"Amiin, hahh! Aku minta maaf atas sikap Airy ya Dam, sebenarnya belum saatnya Airy masuk kepesantren ini, di pembicaraan kita waktu itu kan ingin menunggu Airy lulus kuliah dulu di Kairo sana, ehh jadi malah lebih cepat," tutu Rifky.
"Mungkin semua ini sudah rencana Allah Pak Dhe, insyaallah saya akan menemaninya mneruskan pendidikannya di Kairo nanti, sambil menunggu rumahnya jadi, setelah menikah saya bisa membawa Airy ke Kairo," Adam tidak tanggung-tanggung dengan niatnya itu.
"Emm sebaiknya tidak usah Pak Dhe, biar nanti hal ini kita bahas lagi nanti saja jika waktunya sudah tiba." Kata Adam.
Waktu malam berlalu dengan sangat cepat, tidak terasa suara adzan subuh telah berkumandang. Subuh ini, seluruh santri berjama'ah bersama di aula utama. Tetapi dai berangkat hinga selesai sholat, Adam tidak melihat Airy masuk dan keluar masjid sama sekali. Bahkan saat dikelas pun bangku Airy kosong, hanya ada Nadia yang duduk dibangku itu.
"Kalau boleh tau, Airy kenapa tidak masuk ya? Tidak ada surat izin juga dari wali santriwati juga, ada yang tahu Airy kenapa nggak?" Tanya Adam kepada santriwati yang saat itu diajarnya.
"Airy hari ini pulang Ustad, sudah sejak subuh tadi pulang bersama Papanya," jawab Rindi.
__ADS_1
"Pulang? Kok tidak ada surat izin sih, emm kamu yang duduk di sebelahnya Airy, kamu juga satu kamarkan dengannya?" Tanya Adam mulai tidak tenang.
"Emm iya Ustad, semalam Ustadzah Ifa mengantar Airy pulang dalam keadaan menangis, dan ternyata sedikit demam, katanya ingin pulang ke Jogja, setahu saya begitu Ustad," jawab Nadia membuat Adam berfikir.
Semalam Airy masih sehat-sehat saja, bahkan mampu memukul laki-laki yang dua kali lebih besar darinya. Kenapa juga mendadak Airy pulang hari itu juga dan tanpa pamit kepada dirinya. Adam sungguh tidak tenang dengan Airy. Selesai mengajar, Adam mendatangi kelas Raihan, dan ingin menanyakan Airy padanya.
Ternyata Raihan juga tidak masuk sekolah hari itu, hanya Diaz yang bisa ia tanyai. Dipanggilah Diaz keluar, pertanyaan demi pertanyaan telah di jawab oleh Diaz, bahkan ternyata ada pesan dari Raihan yang ia titipkan kepada Diaz untuk Adam. Karena Raihan tahu, pasti Adam akan mencari Airy.
Adam tidak mengerti kenapa Raihan memberinya surat, bukan ngomong langsung padanya. Dibukanya surat itu, ada nomor ponsel Airy disana.
Assallamu'alaikum wr.wb.
Ustad, maaf kami pulang tidak pamit denganmu, entah kenapa Airy menangis dan ingin pulang bertemu dengan Ami, tapi Airy baik-baik saja, dibawah ini ada nomor Airy, Ustad tanyakan saja sendiri, dua bulan lagi akan menikah kan? Jadi kami percaya jika kalian berdua tidak akan melakukan kesalahan.
Oh ya, besok jadi berangkat kan? Aku tunggu di perbatasan kota Ustad, nanti kita kontak saja jika aku sudah membawa ponselku sendiri, ini maaih dibawa oleh Papaku.
Wassallamu'alaikum wr. wb.
__ADS_1