
Airy pingsan sangat lama, tak ada mimpi apapun yang bisa memberinya petunjuk tentang suaminya. Pertanda, jika Adam membahagiakan masih hidup dan baik-baik saja. Pagi hari, Airy terbangun.
"Mas Adam, Mas."
"Airy, bangun. Airy," ucap Hafiz, yang sudah menunggunya semalaman.
"Mas Adam?" ucap Airy dengan lirih.
Hafiz menggelengkan kepala, mungkin sudah tak bisa lagi untuk Airy menangis. Ia hanya menghela nafas dan istighfar untuk menenangkan hatinya. Tidak lama setelah itu, Rifky dan Syakir sampai di rumah sakit, Rifky langsung memeluk putri kesayangannya itu.
"Yang sabar ya, Nak. Serahkan semuanya kepada Allah Subhanahu Wata 'Ala. Semoga, Adam segera di temukan, dengan keadaan selamat, sehat wal'afiat." ucap Rifky, seraya memeluknya.
"Tuan Putri Papa, nggak boleh sedih, ya. Harus semangat, masih ada Rafa yang membutuhkanmu, hm?" imbuhnya. Airy mengangguk lemah, memang semua harus ia serahkan kepada Sang Pencipta.
__ADS_1
Di tempat lain, Adam selamat, ia di temukan oleh seorang gadis bernama, Lulu. Ia di temukan saat tersangkut di perahu milik Pak Dhe-nya.
"Astaghfirullah, Pak Dhe!"
Lulu berlari sekencang mungkin memanggil Pak Dhe-nya. Beberapa warga juga membantu mengangkat tubuh Adam yang masih basah kuyup itu. Di rebahkan tubuh Adam di ruang tamu, kemudian di ganti pakaiannya oleh Rahmat. Orang yang di sebut Pak Dhe itu.
"Airy, Airy... "
Sudah seharian itu, Adam terus saja memanggil nama Airy. Meskipun ia belum sadarkan diri juga.
Lulu adalah seorang Dokter umum di ibukota. Kedatangannya ke kampung, ia sedang menjenguk keluarganya di kampung di mana Adam di temukan. Ia seorang yatim piatu, hanya memiliki sepasang Pak Dhe dan Bu Dhe yang telah merawatnya sejak kecil.
"Airy... " Lagi-lagi, Adam mengigau.
__ADS_1
"Huft, siapa sih Airy ini? Apakah, dia se istimewa itu di hidupnya? Identitasnya pun juga nggak ada," decik Lulu.
Mata Adam terbuka, ia melihat sekeliling. Nama yang ia ingat hanya nama, Airy. Ia bahkan tak ingat dengan namanya sendiri. Iya! Adam mengalami hilang ingatan, bagaimana tidak, benturan di kepalanya sangat keras, di tambah ia juga terseret ombak sejauh itu. Lulu menyarankan, agar Adam di bawa ke rumah sakit yang berada di Ibukota, tempat ia bekerja, agar bisa memantaunya. Malam itu, mereka berangkat ke Kota.
"Berhubung kamu nggak ingat mamamu, bagaimana kalau kukasih nama, Adnan? Yah, aku ambil nama itu, karena di tanganmu ada kalung berinisial 'A'. Boleh?" ujar Lulu.
Adam hanya diam dan setuju saja ucapan, Lulu. Pagi hari, mereka sampai di ibukota. Adam mulai perawatan di rumah sakit tempat Lulu bekerja.
"Sementara, kamu tinggal dulu di rumahku. Setiap chek up nanti, aku akan membawamu ke rumah sakit. Sekarang, kau istirahat ya, jangan lakukan apapun yang membuatmu kecapekan. Assalamu'alaikum," ucap Lulu, pergi bekerja.
Adam terus menatap kalung yang sebelumnya akan ia berikan untuk, Airy. Dan mengingat, siapa Airy yang ia sebut di mimpinya.
"Siapa, Airy? Kenapa bayangan wajahnya pun selalu ada di ingatanku." gumamnya.
__ADS_1
Lalu, ia mengambil secarik kertas dan pensil yang ada di meja kerja, Lulu. Mulai menggambar, sketsa wajah Airy yang ia ingat. Cinta Adam kepada Airy begitu besar, meskipun ia hilang ingatan sementara, yang artinya masih bisa di sembuhkan, ia tetap. bisa mengingat wajah dan nama istri tercintanya.