Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 103


__ADS_3

Sudah hampir sholat Ashar, tapi Airy belum juga bertemu dengan Rindi. Airy mulai khawatir kepada Rindi. Ia terus saja menanyakan kepada santriwati yang lain. Biasanya ada Siti dulu yang selalu bersamanya. Sekarang, Siti sudah keluar dari pesantren itu.


Hingga sholat ashar usai pun Rindi tak melihat batang hidungnya. Sampai seorang santriwati berbisik-bisik tentang Rindi di belakangnya.


"Kalian melihat Rindi? Diamana? " tanya Airy.


"Di kamar Mbak, dia pulang dengan luka di wajahnya. Jika ditanya dia hanya diam saja dan tersenyum." jawab santriwati itu.


Mendengar Rindi sudah pulang, Airy langsung secepat kilat ke kamar Rindi. Ia berlari masih mengenakan mukena, bahkan sampai menabrak suaminya yang saat itu masih di depan masjid.


" Hati-hati....... Airy, kenapa? Ada apa? " tanya Adam ikut panik.


"Aku terburu-buru Mas, jangan kejar aku oke? Nanti aku setor double ba'da maghrib ya. Aku mau main ke asrama putri dulu. Assallamuallaikum...!! " tanpa basa-basi Airy malah menyentuh kulit Adam dengan mencium tangannya.


"Yah, wudhu lagi deh. Kenapa sih dia? " Gumam Adam.


Ingin sekali Adam mengejar, tapi melihat Airy masuk di area santri putri, ia meminta Ustadzah Ifa yang kebetulan sedang lewat untuk mengejarnya. Ustadzah Ifa pun langsung masuk ke area santri putri. Dan melihat Rindi dan Airy yang sedang berpelukan disana.


"Aw..!! " jerit Airy dan Rindi, mereka sama-sama memiliki luka lebih di perutnya.


"Kamu nggak papa? " tanya mereka bersamaan.


"Assallamu'alaikum. Kalian berdua kenapa? Ada apa dengan wajah kalian? " tanya Ustadzah Ifa.


"Rindi dulu, ada apa denganmu Rindi? " tanya Airy.

__ADS_1


Rindi ingin menyembunyikan kenyataannya, jika dirinya dianiaya oleh anak buah Sari. Fikirnya itu lebih baik, agar Airy tidak terpancing emosi. Tapi, luka yang dialami Rindi bukan hanya sekali di mata Ustadzah Ifa. Tiga tahun lalu, Rindi juga memiliki luka seperti itu.


"Apa Sari sudah bebas? " tanya Ustadzah Ifa.


Rindi mengangguk,


"Apa hubungannya luka Rindi dengan Sari? " tanya Airy mulai curiga.


Ustadzah Ifa langsung menutup pintu dan jendela, membuat Airy semakin bingung dibuatnya. Ustadzah Ifa mengobati luka yang ada di wajah dan tangan Rindi.


"Kamu pernah mengalami ini? Dengan Sari? Kenapa? Dan maksutnya apa? Kamu kerumah Sari sendirian buat apa? Dia bebas beneran? " pertanyaan Airy itu belum dijawab juga oleh Rindi.


Rindi menjawab semua pertanyaan Airy dengan singkat 'hal biasa'. Bahkan Rindi juga merasa bahagia sudah memenuhi janjinya untuk melindungi Airy, seperti yang sudah ia janjikan kepada Ruchan dan Raihan dulu.


"Aku sudah terbiasa seperti ini. Kau lupa Airy? Aku pernah juga kan di posisi Sari, wanita jahat, sombong, dan suka merebut hak milik orang lain. Bahkan aku juga sering menfitnah orang lain demi kepuasan ku. Aku juga pernah mengalami pukulan ini, tapi aku sangat bahagia untuk saat ini. Pukul yang aku terima adalah pukulan dengan membela kebaikan, bukan tugas jahat yang gagal dari Sari. " jelas Rindi sambil meneteskan air mata.


"Sari tidak mungkin merobohkan musuh dengan cara instan itu Airy. Dia itu sering menyiksa orang dulu, jika sudah down, baru dihancurkan. " sahut Ustadzah Ifa.


"Ustadzah Ifa tau tentang wanita jahat itu? " tanya Airy.


"Apa yang aku tidak ketahui Airy. Kami bersahabat sejak kecil, tumbuh bersama di panti asuhan. Sayang, Sari ada yang mengadopsinya, sedangkan aku ditarik ke pesantren ini, sebelum aku bertemu dengan orangtua kandungku sendiri. " jelas Ustadzah Ifa.


"Kamu bertanya-tanya kan? Orangtua Sari yang sekarang bukanlah orang tua kandungnya. Tapi, dengan menggunakan Sari, orangtua angkatnya bisa menguasai daerah ini. Ahh itu cerita lama, aku lupa detailnya. Jadi, kita harus lebih hati-hati saja dengan Sari. " Sambungnya.


"Obati luka mu ya, besok saya antar kamu ke klinik. Istirahatlah, dan kamu Airy, Adam tadi sangat cemas kepadamu. Pulanglah, jelaskan apa yang kau lihat ini padanya. Aku permisi dulu, Assallamuallaikum." Pamit Ustadzah Ifa.

__ADS_1


" Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh."


Begitu juga dengan Airy, ia pamit kepada Rindi ini untuk pulang terlebih dahulu. Ia tidak ingin, semua orang terlibat karena masalahnya dengan Sari. Airy bukan orang yang bodoh, jika dia mau, pagi tadi juga ia akan melumpuhkan ketiga anak buah Sari tersebut. Tapi, kekerasan bukanlah sebuah penyelesaian.


"Sebenarnya siapa Sari ini, kenapa dia selalu menggangguku, mengganggu Rindi, bahkan juga punya masalah dengan Bang Ray. Dia juga punya masa lalu sama Mas Adam, kali ini aku harus bertindak..! ya, aku memang masih berusia 18 tahun, tapi hal seperti ini, bukan yang pertama bagiku. "


"Kok aku mbulet ya sama yang dikatakan Ustadzah Ifa. " Gumam Airy.


Waktu itu pas adzan maghrib tiba, kali ini Airy memilih tidak ikut sholat berjamaah di Masjid. Dirinya sangat lelah untuk hari ini, belum lagi ia juga harus belajar untuk ujian masuk esok hari. Sadar bahwa Airy tidak ada di masjid, Adam terus saja mencarinya, ia bahkan menanyakan Airy kepada Ustadzah Ifa yang tadi sudah mengejarnya.


"Assalamu'alaikum, Maaf Mbak, Airy kemana ya? " tanya Adam.


"Wa'alaikum sallam, tadi ada kok sama Rindi, mungkin pulang kerumah. Kan dia lagi nggak sehat, mungkin mau jama'ah juga lagi tidak bisa, coba kamu cek dirumah. " jawab Ustadzah Ifa.


"Owalah, saya cek dulu aja. Takut dia kenapa-napa soalnya. Dia kan baru kena musibah, makasih ya Mbak, Assallamuallaikum..!! " Adam langsung pulang ke rumahnya.


"Wa'laikum sallam, ah Adam..!! tolong luka nya di kompres lagi ya, jangan lupa di olesi parutan kencur sedikit. " Saran Ustadzah Ifa.


Adam bergegas pulang kerumah, bahkan ia tidak menghiraukan saat Ustad Zainal memanggilnya. Melihat pintu rumah terbuka, Adam langsung panik, ia takut jika Sari berbuat macam-macam lagi. Melihat Airy tertidur dikamar, Adam sangat lega, ia pun membangunkan Airy yang tertidur masih mengenakan mukena bawah.


"Sayang, bangun yuk..! Lepas dulu mukena nya kalau mau tidur," tutur Adam dengan lembut.


"Aku sudah siap setor, huaam badanku sakit semua kok an yo, koyo di remek go slender opo **** gitu kok an? " kata Airy dengan menguap sangat lebar.


"Laillahaillah, nguap di tutup dong. Kali ini libur setor juga nggak papa, istirahat dulu aja ya, " ucap Adam mencoba membantu Airy duduk.

__ADS_1


"Heleh, rugi aku dong kalau nggak setor..! Udah hafalin sejauh ini masa iya nggak di setorin. Lagian yang sakit itu wajah sama perutku kan? Bukan otak sama mulutku, dah ah aku mau wudhu dulu. Mas Adam tunggu disini..!!" Kata Airy berusaha untuk bangun.


Dengan tertatih ia menuju kamar mandi dan mengambil air wudhu. Melihat Airy yang tetap tidak patah semangat dalam menghafal, membuatnya bangga kepada istri nakalnya itu. Tanpa Adam tahu, jika Airy sudah mulai bertindak untuk membuat Sari jera dengan caranya sendiri.


__ADS_2