
Sementara Raihan sedang bingung dengan masalahnya, di rumah Adam, Airy juga sedang di rundung kecemasan. Pasalnya, ia berencana untuk mengubah hak asuh anak Sari, ke Ustadzah Ifa.
"Bagaimana, Mbak?" desak Airy.
"Aku mana mampu, aku masih harus kuliah dan jaga Rafa. Itu sudah cukup bagiku membagi waktu." imbuhnya.
"Kita menunggu keputusan dari Adam dan Mas Hafiz aja, gimana?" jawab Ustadzah Ifa.
"Hm, aku yakin, mereka juga tetap mempertahankan hak asuh ini. Aku tahu, hubungan seperti apa di antara Sari dengan keluarga ini. Tapi setidaknya, lihat juga posisiku, kemampuanku itu sampai di mana." kesal Airy.
Di Jerman, ini kali pertama Raihan dan ibu kandungnya Pearl. Namanya, Sarah. Raihan menceritakan semuanya. Tentang adopsi yang orang tua angkatnya lakukan, dan bagaimana meninggalnya, Pearl. Bagaimana tak sakit hati, Sarah koma selama satu setengah tahun lalu, meninggalkan putrinya yang masih kecil. Lalu, saat dirinya bangun, putrinya sudah tiada.
"Ini semua salahku, aku tak bisa menjaganya dengan baik, Bu. Maafkan, aku." Raihan tak henti-hentinya menyalahkan diri sendiri.
__ADS_1
"Aku sudah rela melepaskan putriku, terima kasih, selama ini kau telah menjaganya dengan baik. Aku tidak tau lagi, jika tidak ada orang tua angkat dan kau, mungkin putriku tidak akan pernah hidup dengan baik." air mata Sarah terus saja mengalir, meskipun bibirnya tersenyum.
"Terima kasih, Kau mau menjadi kakak yang baik untuk, putriku. Sejak dulu, Pearl sangat menginginkan seorang kakak laki-laki. Sekarang, sebelum kepergiannya, Tuhan telah mengabulkan permintaannya itu. Terima kasih, Hansel." tutur Sarah.
Sejak saat itu, Raihan sering ke rumah sakit untuk menjenguk, Sarah. Seminggu berlalu, Sarah akhirnya di perbolehkan pulang. Karena Sarah sudah tak memiliki tempat tinggal lagi, akhirnya Sarah pun tinggal bersama Raihan, Raditya dan Cilo di rumah Michael, ayah angkat Raihan dan Pearl.
"Wah, enak ini. Tiap pagi kita sekarang ada yang memasak." ucap Cilo menyantap nasi goreng yang Sarah masak.
"Ibu sengaja belajar cara memasak ala orang Islam, karena Hansel dan Raditya beragama Islam. jadi untuk Cilo, maaf ya." ucap Sarah.
Kehidupan Raihan di sana sudah sangat baik. Usaha keluarga Michael, di handle oleh Sarah semua. Kini, Raihan bisa belajar dengan tenang di dana.
Sementara di rumah Adam, hari itu juga anak Sari sudah bisa di bawa pulang ke tanah air. Bayi berusia satu 10 hari itu di beri nama, Zahra Aulia. Nama yang di berikan oleh Hafiz untuknya.
__ADS_1
"Mas, kenapa Zahra tidak di asuh, Mbak Ifa aja, sih?" tanya Airy sambil menyuapi Rafa.
"Sari 'kan kasih amanah ke kamu, Sayang. Lagian, setiap siang juga Mbak Ifa juga yang ngurus, 'kan?" jawab Adam.
"Tapi, setelah itu aku semua yang ngurus.
"Mas, aku belum mampu ngurus dia bayi sekaligus seperti ini. Pagi aku ngurus semuanya, kemudian kuliah sampai siang, lalu main sama Rafa, dan harus jaga Zahra juga. Rafa kan sudah mulai berjalan, harus berikan penjagaan ekstra, aku mana mampu jaga Zahra, Mas." keluh Airy.
"Tapi Zahra ini amanah dari Allah juga loh, Sayang. Dia juga sudah menjadi anak kita, kita jangan pilih kasih, dong." pekik Adam.
"Ini nih. Aku takut, jika aku malah jadi pilih kasih. Aku capek, Mas! Aku capek!" ucap Airy masuk ke kamar Rafa dan tak sengaja membanting pintu.
"Astaghfirullah hal'adzim." ucap Adam menggendong Zahra.
__ADS_1
Brakkkk....
Adam belum bisa tegas dengan Airy. Airy juga belum bisa menyikapi dengan dewasa semua masalah biduk rumah tangganya. Keegoisan sedang menguasai hatinya. Meskipun, dalam hati mereka juga tidak ingin saling menyakiti hati satu sama lain. Dengan saling menjauh, maka mereka bisa merenungkan apa yang salah dari mereka, dalam menyikapi masalahnya.