Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 253


__ADS_3

Hari berikutnya, Adam hendak mengajak Airy dan anak-anak untuk liburan bersama. Sebenarnya, Airy masih enggan untuk berpergian setelah Rifky meninggal. Tapi, hal itu Adam lakukan untuk meringankan beban pikiran yang Airy miliki. Bersama Aminah dan Mayshita, mereka pun berangkat. Nampak  wajah datar Airy yang membuat seluruh isi mobil mejadi tertawa. Bagaimana tidak kesal, di pikiran Airy hanya akan ada suami dan kedua anaknya. Ternyata, kedua adik perempuannya juga ikut serta dalam liburan itu.


“Udahlah, Kak. Kenapa masih cemberut saja, sih. Lagian yang traktir kita kan Mas Adam, kenapa Kak Airy yang repot?” ujar Aminah dengan entengnya.


“Kamu pernah dengar? Uang suami itu uang istri juga, Parmin!” seru Airy.


“Ndak usah pelit sama adek sendiri, Kak. Dah ayo Mas Adam, kita gaskeun,” sahut Mayshita tak mau kalah.


“Durjana!” seru Airy.


Sampailah mereka ke salah satu tempat wisata, Aminah dan Mayshita segera membawa Rafa dan juga Zahra bersama. Ternyata, memang semua sudah di atur oleh Adam, dengan membawa Aminah dan Mayshita bisa membuatnya berduaan dengan sang istri.


“Ini? Sudah di setting, kah?” tanya Airy.


“Kalau iya, kenapa?” Adam menggandeng tangan Airy.


“Sejak kapan sih, Mas bisa seromantis ini?” tanya Airy.


“Ingat nggak? Dulu Mas Adam itu, dingin, pendiam dan tegas. Bahkan susah di ajak guyonan. Sekarang jadi gaul gini,” lanjut Airy.


“Nggak suka,kah?” tanya Adam.


“Suka. Suka banget, uchh pengen gigit,”


Merasa sangat gemas, Airy sampai ingin menggigit Adam di depan umum. Adam mengajak Airy duduk santai di salah kursi yang ada lambang hatinya. Mereka mulai membicarakan masa depannya dan masa lalu yang indah, sehingga Airy bisa bangkit dari kesedihan.


“Tapi jujur, aku lebih suka Mas Adamku yang dulu. Yang kolot, jadul tapi buat aku gemes. Tapi suka juga yang sekarang, ahhh aku terlalu bahagia,” ucap Airy sambil mencium tangan Adam.


“Mas juga lebih suka dengan Airy yang dulu. Penuh kejutan dan memiliki sikap yang unik. Tapi, Mas juga suka yang sekarang, karena Airy yang sekarang sudah jauh lebih dewasa,”


“Terima kasih sudah melahirkan Rafa dari rahimmu, dan terima kasih telah melahirkan Zahra dari hatimu.” Tungkas Adam.

__ADS_1


Airy terus menatap lelaki yang kini sudah menginjak kepala tiga itu. Awal pertemuan yang sangat unik, dan jatuh cinta setelah melakukan hubungan suami istri. Airy ingin mengulang masa itu, karena pikirnya, di masa itu kedua orang tuannya masih ada di sampingnya.


“Cukup, Mas ingin kamu tersenyum dan tetap ceria untuk Mas dan anak-anak,”


“Asli pengen gigit ini, ayolah mojok!” ajak Airy sudah sangat gemas dengan Adam.


“Ayolah kita cari tempat gitu, apa di mobil? Ahhh, pengen gigit, peluk cium yang ughhh gemes banget…”


“Kok, Mas jadi takut ya sama kamu. Sehat kan, Sayang?” goda Adam mengechek suhu dari kening Airy.


Mereka pun tertawa bersama, melihat kakaknya yang sudah bisa tertawa lepas, Aminah dan Mayshita merasa ikut bahagia. Kisah cinta Airy dan Adam tak sesederhana kisah cinta Aisyah dan Rifky, dimana mereka bukan hanya di uji kesetiaan, namun perekonomian mereka juga di uji.


“Alhamdulillah, Kak Airy bisa tersenyum kembali. Aku sempat berpikir, setelah Bu lhek Ais meninggal, Kak Airy berubah,” ujar Mayshita.


“Bukan hanya berubah, tapi malah seperti orang lain. Gampang marah, bahkan sering kali dia menangis sendirian di rumah, aku sering memergokinya,” imbuh Aminah.


“Tapi semua nya tidak seperti diriku, nasib ku sungguh malang, karena belum sempat merasakan pelukan seorang ibu kandung,” lanjut Aminah.


Mereka berdua memiliki sifat yang bertolak belakang, sering kali terjebak dalam keributan yang sepele. Namun, mudah sekali untuk mereka berbaikan lagi. Kembali ke Adam dan Airy yang masih menghabiskan waktu berdua. Setelah melepas beban masing-masing, mereka pun membicarakan masa depan keluarga kecilnya.


“Aku ingin anak perempuan, tapi Allah belum mengabulkannya. Apakah, aku tidak akan hamil lagi?” keluh Airy.


“Kita sudah berusaha, tapi Allah-lah yang menentukan semuanya. Kita fokus mengurus Rafa dan Zahra sampai besar saja, bagaimana?” tutur Adam dengan lembut.


“Tapi, Zahra, ‘kan…..” ucapan Airy terhenti.


“Zahra juga anak kita, kamu sendiri yang mengangkatnya menjadi adik, Rafa. Kita harus melakukan kewajiban kita, sebagai orang tuannya.” Ucap Adam menggenggam tangan, Airy.


“Mas sangat beruntung mendapatkan istri yang berlapang dada seprtimu, anak dari orang yang selalu menyakitimu saja, kamu rawat dengan penuh kasih sayang. Terima kasih telah membentuk syurga yang indah ini, Sayang.” Tungkasnya.


Tapi, semua itu masih mengganjal dalam hati, Airy. Bukan masalah ikhlas atau tidaknya. Melainkan, ia masih butuh keberanian untuk mengungkap jati diri putrinya itu. Ketika mereka tengah asyik berbincang, datanglah seorang lelaki seusia Airy yang mengenalinya.

__ADS_1


“Assallamu’alaikum,” salam lelaki itu.


“Wa’alaikum sallam warrahmatullahi wabbarokatuh,” jawab Airy dan Adam bersamaan.


“Airy Calista,’kan? Masih ingat sama aku nggak?” tanya Lelaki itu dengan tiba-tiba.


“Maaf? Aku sudah menjadi ibu dan seorang istri, mungkin juga aku sudah pikun. Mas nya siapa,ya?” Airy masih bingung.


Lelaki itu namanya, Bagas. Ia teman masa SMA Airy ketika masih sekolah di Jogja. Pantas saja Airy lupa, karena ia hanya mengenalnya selama 6 bulan. Di tambah lagi, Airy tidak terlalu mikir cowok waktu itu. Dan ternyata, Bagas sudah menyukai nya sejak dulu.


“Bagas? Bagas yang mana, ya? Kok, ingatanku lemah gini kalau punya kenalan cowok, maafkan aku. Hehehehe,” ucap Airy bingung.


“Bagas yang sering di bully karena aku atheis dulu. Dan sekarang aku sudah memeluk agama islam karenamu, aku mengucapkan dua kalimat syahadat di depanmu. Kamu lupa itu?” ungkap Bagas.


“MasyaAllah, kamu memualafkan orang, Sayang?” sahut Adam.


“Aku lupa, Mas.” Jawab Airy.


“Tidak apa-apa jika kamu lupa, nanti aku akan ingatkan lagi. Apakah, ini suamimu?” tanya Bagas dengan sopan.


Airy pun memperkenalkan Adam, juga anak-anaknya. Ternyata, Bagas juga mengenal Aminah. Perkenalan mereka di mulai di pelatihan bela diri. Bagas bercerita banyak hal mengenai Airy kepada Adam, saat Airy menghampiri anak-anaknya.


“Kamu sungguh beruntung, Mas.” Ucap Bagas.


“Maksudnya?” tanya Adam.


“Memperistri, Airy. Kamu sungguh beruntung, dia wanita yang baik,” jelas Bagas.


“Oh, Alhamdulillah. Ketika pertama kali saya melihatnya, saya tidak yakin jika bisa mengimbangi semua sikapnya. Tapi makin dalam saya mengenalinya, saya semakin mencintainya. Entah apa yang ada dalam dirinya, tapi saya sangat mencintainya, sehingga kekurangan itu tidak terlihat sama sekali,” ungkap Adam.


“Aku juga mencintainya sampai sekarang. Tapi melihat nya memiliki suami seperti, Mas Adam ini, membuatku jauh lebih tenang. Airy, semoga kau selalu dalam lindungan Allah Subhanahu Wata ‘Ala, Amin.” Batin Bagas.

__ADS_1


__ADS_2