
Airy dan Adam sedang duduk berdua di sofa. Airy masih kepikiran dengan ucapan Falih sore tadi. "Dia dan Bang Rai bersitegang, jadi Kak Aer jangan menyinggung hatinya dulu, oke?" Tak hanya termenung, Airy juga terus menggerutu tiada henti. Sampai membuat Adam bingung.
"Assalamu'alaikum," salam Adam.
"Wa'alaikumsalam, ada apa?" jawab Airy sinis.
"Ya Allah, sinis banget, Bu?" kata Adam menunjuk pipi Airy.
"Ada apa, ya? Antara Yusuf sama Bang Rai? Nggak bisa di diemin ini, mereka ini haduh! Astaghfirullah..." emak-emak sudah mulai mengomel.
Airy beranjak dari tempat duduknya, meraih ponselnya, lalu menanyakan semuanya kepada Raihan. Tak ada apa-apa yang terjadi, kecanggungan mereka hal yang wajar, karena Laila baru saja masuk ke dalam keluarganya.
Berusaha agar Abang dan Adiknya baik-baik saja, Airy akan meminta Yusuf tinggal di pesantren sampai dirinya selesai kuliah nanti. Tapi, hal itu di tolak oleh Adam. Adam tak ingin, Yusuf ke pontang panting ke sana ke mari, dengan dalih untuk kebaikannya.
"Kenapa? Aku hanya tidak ingin, Bang Rai dan Yusuf...." ucap Airy.
"Mas tidak menginginkan hal itu terjadi juga, Sayang. Tapi, dengan meminta Yusuf tinggal di pesantren, itu sama saja kita tidak menerimanya di sini. Biarlah semua berjalan mengalir seperti air. Dia sudah kelas 2 SMA, ini juga sudah mendekati kenaikan kelas, aku yakin dia pasti memiliki rencana lain," kata Adam.
"Jangan buat dia semakin bingung harus bagaimana. Keputusannya mau tinggal bersama kita, bukan? Ya kita harus terima, bukan berarti dia tak menyukai Laila atau Bang Rai. Hanya saja, dia...."
__ADS_1
Belum juga Adam menyelesaikan ceramah kecil untuk isterinya, Airy sudah menangis Bombay terlebih dahulu. Mood Airy sering berubah-ubah ketika hamil, Adam sering kewalahan sendiri di buatnya.
"Jangan nangis, dong. Ya Allah, kan cuma..." ucapan Adam terpotong.
"Cuma apa? Mas Adam benyak aku, huaa...." Lagi-lagi Airy menangis tak jelas.
"Enggak, siapa yang bentak? Mas nggak bentak kamu, loh!" seru Adam.
"Tuh, 'kan? Bentak lagi, aku sakit..." Adam sampai gemas sendiri melihat tingkah manja Airy.
Waktu berjalan sesuai kehidupan. Kini, 2 minggu sudah berlalu. Hubungan antara Raihan dan Yusuf juga kembali baik. Kecanggungan itu sudah tiada lagi di antara mereka.
"Dasar munafik. Aku bisa kasih bukti ini kepada Raihan. Agar Raihan meninggalkan cewek busuk itu!" serunya.
Mita bergegas ke rumah makan yang si kelola Raihan. Tanpa membuat janji terlebih dahulu, Mita langsung masuk ke ruangan istirahat raihan. Tentu saja Raihan terkejut dengan kedatangan Mita.
"Astaghfirullah, Mit? Kamu ngapain ke sini?" tanya Raihan terkejut.
"Aku punya bukti jika istrimu itu sedang selingkuh dengan berondong di belakangmu. Dia main api di belakangmu, Han!" serunya.
__ADS_1
"Maksudnya, apa, sih?" tanya Raihan masih belum mengerti.
"istrimu, yang nakal itu sudah mengkhianatimu, percayalah!" Mita masih kekeh dengan foto yang ia dapat.
Nomor Mita sudah di blokir oleh Raihan sebelumnya, jadi Mita tidak bisa mengirim apapun atau menghubungi Raihan lagi. Dengan percaya diri, Mita menunjukkan foto yang baru ia dapat, ingin sekali Raihan tertawa, tapi ia masih mampu menahannya.
"Lihat, 'kan? Istrimu itu badung, dia bahkan mengancamku ketika kami pertama kali bertemu,"
"Kamu percaya kan, kepadaku?" tanya Mita masih saja ngotot.
"Sudah?" tanya Raihan.
Mita mengangguk, dalam hatinya ia berkata, "Kok, begini tanggapan Raihan? Harusnya ia marah, dong. Hish, aku yakin jika istrinya itu menggunakan guna-guna kepadanya. Kasihan Raihan, pasti hidupnya sengsara."
"Pergi!" ucap Raihan masih lembut.
"T-tapi…."
"Baiklah, aku yang pergi. Assallamu'alaikum!"
__ADS_1
Raihan keluar, ia segera pulang karena harus bertemu dengan Syakir. Sementara Mita, ia merasa jika Raihan akan marah kepada Laila dan bisa merebut hatinya kembali.