
Pulanglah Falih dan Aminah dari suatu tempat. Mereka pergi bersama karena Mayshita tidak bisa menemani Aminah keluar. Falih terus memperhatikan Cindy dengan seksama.
"Kamu Cindy ya?" tanya Falih.
"Em iya, kamu... kenal aku?"
"Enggak,"
"Oh...."
"Ck, apaan, sih, Lih. Nggak jelas banget, deh!" sahut Aminah.
"Dia tau kamu, karena pernah menanyakan Yusuf duduk dengan siapa. Pas Yusuf jawab duduk dengan perempuan, dia nggak percaya. Terus nanyain siapa namanya, gitu... hati-hati cowok kek Falih gini suka modus," desis Aminah.
"Jangan nurunin harga jual, dong. Siapa juga yang mau embat punya saudara sendiri. Dah sono pergi, katanya mau nyariin Kak Laila," ucap Falih dengan wajah memerah.
"Kabur, Assalamu'alaikum!"
Aminah langsung lari begitu saja, melihat tingkah lucu saudara Yusuf, Cindy merasa memang keluarga Yusuf tak semuanya menegangkan. Cindy juga mulai menyukai keluarganya Yusuf. Sambil menunggu Yusuf, Fatur dan Jihan kembali, Falih menemani Cindy ngobrol karena Airy hendak memandikan Ayanna dan Anthea lebih dulu.
-_-_-_-
Sampai juga di rumah Ruchan. Terlihat Laila baru saja keluar menggendong Gehna yang sedang di suapi. Di susul oleh Raihan yang sudah rapi hendak pergi bersama Syakir ke dusun sebelah mengisi tausiyah.
"Assalamu'alaikum, Gege sedang makan ya? Tante minta, dong...." seenaknya saja Aminah memanggil Gehna dengan nama Gege.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,"
"Ih, tumben amat tuh. Tante galaunya main ke rumah Gehna," ucap Laila. "Hm, mau apa kesini?" ketus Laila.
"Dih, ketus amat. Mau mainlah sama, Gehna. Apa lagi?" jawab Laila lebih ketus.
__ADS_1
"Dusta!"
Tiba-tiba Raditya datang ke rumah mencari Raihan. Dipanggil-lah Raihan, lalu mereka berdua ke pinggir empang lele di samping pesantren. Aminah terus menatap Raditya hingga mereka tak terlihat lagi.
"Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara ***********," sindir Laila.
"Kenapa harus pakai ayat, sih? Aku juga tau kali, bawel!" jawab Aminah ketus.
Aminah dan Laila jika bertemu memang masih selalu ribut. Namun, tetap saja mereka sering menyelesaikan masalahnya bersama-sama. Laila menanyakan ada apa di antara Aminah dengan Raditya, karena dari matanya Raditya, terlihat jelas jika dirinya sedang membendung kesedihan.
"Sebenarnya, ini yang pengen aku bahas degan Kak Lail. Masalah aku, Bang Dit dan juga perjodohan konyol itu," ungkap Aminah sambil memainkan tangan Gehna.
"Cerita dulu, apa yang sudah terjadi?" tanya Laila juga ingin tahu.
"Ibunya Bang Dit tetap ingin aku menikahi Mas Rasid…." Aminah menceritakan semuanya secara mendetail. Bagaimana perlakuan Ibunya Raditya kepada anak-anaknya. Lalu, Aminah juga merasa di ambang kehampaan, kebingungan dan kegalauan. Ia tidak tahu harus bersikap bagaimana lagi.
"Aku belum siap ke Singapura. Sayang banget, tinggal sebentar lagi aku lulus, Kak. Kakak ada solusi, kah? Aku tidak cerita ini ke Kak Airy. Karena terakhir aku dengar, dia menderita hipertensi, jadi aku hanya bisa meminta saran denganmu, Kak." tukas Aminah seraya menghela nafas panjang.
"Nomornya Rasidi mana?" pinta Laila.
"Ya Kakaknya Bang Raditya-mu itu, lah! Siapa lagi?" ucap Laila sedikit nge gas.
"Rasid, budi… bukan Rasidi, Ya Allah...," kesal Aminah.
"Iya itu dah, mana?"
"Nggak punya!" jawab Aminah dengan wajah mengesalkan.
"Lah? Masa iya mau dijodohkan nggak punya nomornya, sih?" tanya Laila heran.
"Nggak penting juga kali ah. Pernah sekali dia kirim pesan, tapi nggak aku balas, jangankan membalas, tak buka wae ora," jelas Aminah masih memainkan tangan Gehna.
__ADS_1
"Lah? Aneh kamu. Berarti sama Raditya sering chatting nih? Dosa tau!" tegur Laila.
"Ya, itu beda. Lagipula aku dengan Bang Dit juga nggak sering komunikasi, kok. Aku juga tau batasan kali," kesal Aminah dengan memanyunkan bibirnya.
Percakapan mereka malah berujung perdebatan konyol yang melenceng jauh dari topik pembicaraan. Segala bibir, baju dan penjual roti bakar dekat alun-alun juga di bahas menjadi bahan perdebatan mereka. Tapi, semua mengarah ke titik terang. Esok hari, Laila akan mengunjungi Balqis untuk meminta penjelasan tentang perjodohan itu. Lalu, alasan apa juga yang membuat Ibunya Raditya enggan melepaskan perjodohan konyol itu.
_-_-_
Di pinggir empang lele, Raditya meminta saran kepada Raihan tentang permasalahannya itu. ia tidak ingin egois, tapi melihat sikap Ibu dan Kakaknya, keegoisan itu membara dalam hatinya. Raihan mengetahui segala hal yang dialami Raditya, begitu juga sebaliknya. Mereka bak saudara kembar yang susah di pisahkan.
"Laki-laki tak butuh wali nikah. Kenapa tak kau nikahi saja Aminah setelah dia lulus sekolah? Sesuai dengan yang sudah kalian rencanakan?" tanya raihan.
"Nggak segampang itu, Han. Aku tidak ingin hidup dibayangi kebencian Ibuku. Hidupku malah bisa kacau nanti. Aku tetap akan memperjuangkan Aminah sebisaku. Kecuali jika Aminah yang memilih mundur, aku tak bisa memaksa seorang wanita, kau tau itu, Han." ungkap Raditya dengan mata berkaca-kacanya.
Sudah berapa kali Raditya meneteskan air mata hanya untuk Aminah. Surganya ada di telapak kaki Ibunya sampai kapanpun. Akan tetapi, Ibunya juga yang membuat dirinya memberontak. Ini kali pertama juga Raihan melihat sahabatnya meneteskan air mata untuk wanita. Bahkan dengan Nadia dulu, tidak seperti itu. Raihan yakin, jika cinta Raditya itu begitu tulus.
"Lalu, apa rencanamu?" tanya Raihan.
"Aku butuh tepat tinggal, Han," jawab Raditya.
"Bukankah, rumah yang kamu tempati bersama Ibu dan Kakakmu itu rumahmu?" tanya raihan heran.
"Aku di usir dari rumah itu, haha," jawab Raditya dengan tawa tersakitinya.
"Kamu kerja, banting tulang sampai Jerman buat bangun rumah itu, tapi kini kamu di usir? Itu rumah atas namamu, bukan? Aku tak habis pikir dengan Ibumu itu, Dit!"
Raihan saja sampai heran engan Ibunya. Saksi kerja keras Raditya hanyalah Raihan, Cilo dan Mita sewaktu di Jerman dulu. Baik Raihan dan Raditya juga sampai kuliah dan kerja paruh waktu agar bisa makan sehari-harinya. Karena warisan dan wasiat dari Ayah angkat Raihan juga diberikan kepada Ibu kandung dari Pearl.
"Angkut barang-barang keperluanmu, tinggallah bersama Gu dan ketiga adikku di rumah Almarhum orang tuaku. Di sana ada tiga kamar, kalian atur saja, nanti aku akan bicara dengan Gu dan yang lain," usul Raihan.
"Han, terima kasih banget. Sekali lagi kamu telah membantuku, bahkan memberiku tempat tinggal. Tapi sungguh, aku eman uang kalau baut sewa kamar, meski bisnisku berjalan dengan lancar… tapi aku masih ingin kembali ke rumah itu," ucap Raditya.
__ADS_1
"Kita saudara, bukan? Kita juga pernah makan garam dan nasi dalam satu piring. Kamu selalu menemaniku dimana aku berada," kata Raihan merangkul Raditya. "Nah, karena kamu sudah di sini, kalau nggak sibuk, bagaimana jika kamu ikut aku tausiyah bersama Pak Lek Syakir, di jamin nanti hatimu akan adem ayem kembali?" ajak Raihan.
Sudah lama Raditya tak mengikuti kajian, dengan penuh semangat, ia pun mengiayakan ajakan sahabat rasa saudara itu. Kita lihat esok hari, apa yang akan Laila lakukan untuk Aminah dan Raditya.