
Kebetulan Ruchan,Syakir, dan Adam sedang sibuk, kemungkinan juga mereka sedang melakukan aktivitasnya masing-masing. Raihan saat bingung, ia ingin bertanya kepada siapa karena Farhan juga tidak menganbersama. Ia baru ingat, jika Ikhsan kakek dari kakak kakungnya juga pernah kuliah di Kairo. Ia pun langsung menelepon Ikhsan, dan mengatakan perihal apa yang telah Ia alami bersama dengan teman-temannya.
"Kamu tenang dulu Raihan, sekarang juga Kamu bawa bayi itu ke kantor polisi, lalu berikan kertas yang wanita itu berikan kepadamu itu kepada polisi. Tapi sebelumnya kalian bawa dulu kartu identitas kalian masing-masing. Jangan semuanya memegang keranjang itu, cukup satu orang dan itu kamu Raihan, kamu harus berani, jangan panik, jangan heboh, dan jangan grusa-grusu. Berjalanlah layaknya orang yang tidak punya masalah, yang tidak bersalah. Setelah sampai disana nanti biar kakung yang bicara." kata Ikhsan.
Sesuai dengan arahan Ikhsan, mereka bertiga pun membawa bayi itu ke kantor polisi terdekat. Ternyata, salah satu polisi disana ada yang kenal dengan Syakir, polisi itu menebak nama belakang dari Raihan.
"Hal 'ant tifl sadiqi? (Kau adalah anak dari temanku?) " tanya polisi itu.
"Asaf? (Maaf?) " jawab Raihan bingung.
"Aljazeera?, Indonesia? Syakir Aljazeera?" tanya polisi itu.
__ADS_1
"Syakir? Hu eamiun , hal taerufuh? (beliau adalah pamanku, apakah anda mengenalnya? )" tanya Raihan kembali.
"Naem! naerif bedna albaed , kan yusaeidni. kayf halik alan? (ya! kami saling mengenal, dulu dia pernah menolongku. Apa kabar nya sekarang?) " tanya Polisi itu.
Sementara Raihan mengobrol dengan polisi yang mengaku teman dari pamannya, Raditya dan Diaz sedang diinterogasi masalah surat dan bayi itu. Polisi segera memproses laporan mereka juga, tentang seorang wanita yang mungkin dalam keadaan terancam nyawanya.
Setelah keluar dari kantor polisi, mereka pun melanjutkan belanjanya ke salah satu toko yang kebetulan dekat dengan kantor polisi. Mereka kini bernafas lega, karena mampu menolong orang lain.
"Jangan senang dan gampang puas dulu, siapa tau aja, setelah ini kita mendapat masalah dengan suaminya itu. " kata Raditya.
"Aku rasa juga gitu, yang aku takutkan, suaminya akan semakin nekat. Dan akan menyerang kita balik, awak dewe kudu ngati-ati, waspada juga! " sahut Raihan.
__ADS_1
"Wah, mbok ya fikirannya jangan pada negatif mulu ngono loh, orang sini tuh tinggi-tinggi, gagah juga. Kita pasti kalah jika melawannya nanti," kata Diaz menghentikan jalannya.
"Yo wis lah, pikir keri. Ndak usah terlalu difikirkan, lebih baik kita fokus menimba ilmu di sini, sudah sejauh ini. Kita ndak boleh dong, parno dengan hal yang belum terjadi, Lillahita'ala, Allahumma laka aslamtu wa bika amantu wa 'alaika tawakkaltu, wa ilaika anabtu, wa bika khashamtu. Allahumma inni a'udzu bi 'izzatika laa ilaha illa anta an tudhillani. Antal hayyu alladzi laa yamuut wal jinnu wal insu yamuutun." ucap Raihan.
"Artinya Rai! " sahut Raditya.
Ya Allah, aku berserah diri kepada-Mu, aku beriman kepada-Mu, aku bertawakal kepada-Mu, aku bertaubat kepada-Mu, dan aku mengadukan urusanku kepada-Mu. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan kemuliaan-Mu –tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Engkau– dari segala hal yang bisa menyesatkanku. Engkau Maha hidup dan tidak mati, sedangkan jin dan manusia pasti mati." (HR Muslim, no. 2717)
"Podo wae aku tetep iseh kroso wedi eh, tak amalke terus lah doa kui, (Sama aja aku tetap masih merasa takut eh, tak amalkan terus lah doa itu) " tutur Diaz.
Setelah selesai berbelanja, mereka bergegas pulang dan istirahat. Namun, Raihan terus saja teringat dengan wanita itu. Karena, sementara waktu anaknya berada di dinas sosial.
__ADS_1