
Di pertengahan jalan, Airy tersadar, itu semua bukan mimpi bagi nya. Zahra memang sudah pergi jauh, teringat kayanya tak ingin di pisahkan dengan Rafa, Airy mencoba untuk bicara lagi dengan Zahra.
"Nak, apakah kami tidak mau bangun lagi? Katanya mau main terus sama Rafa. Bangun, yuk. Mama janji, Mama nggak akan ribut lagi sama Tante galak, kalau kamu mau bangun,"
"Bangun, Nak. Mama belum siap kamu tinggalin seperti ini. Katanya cuma demam, kok sampai gini, sih?"
Semua di utarakan oleh Airy, upaya membuat Zahra bisa bangun lagi. Tapi, semua itu memang tidak mungkin. Sampai di rumah, semua orang sudah menunggunya, tanpa menunggu siapapun lagi, setelah di mandi kan, langsung di kain kafan kan. Pemakan itu, juga di hadiri Hendrawan, ia juga merasa sebak di dada, meski belum tahu benar siapa Zahra sebenarnya.
Kini, Airy sudah iklhas, air matanya tak lagi menetes. Semua juga sudah ikhlas dengan kepergian Zahra. Kematian, memang tidak pernah memandang usia, kasta dan juga gender. Jika memang sudah waktunya, ketika. kita tidur atau beraktivitas pun, Malaikat tetap akan mencabut nyawa kita, siap atau tidak siap. Maka, siapkan amal iman ibadah kita sejak saat ini.
Seminggu berlalu, Airy menjalani hidup dengan perasaan hampa, Ami, Papa dan juga anaknya telah di ambil, oleh Allah. Meski begitu, ia tetap tak patah semangat, masih ada Rafa dan Adam yang masih membutuhkannya. Selama seminggu ini Airy juga jarang bertengkar dengan Aminah. Mungkin untuk saat ini, Airy pernah berjanji kepada Zahra, jika dirinya pergi tidak akan menangis mengiringi kepergiannya, dan harus melanjutkan hidup selayaknya manusia yang masih hidup di muka bumi ini.
Setelah salat subuh Airy merasa dirinya sangat mengantuk sekali. Dia sampai tertidur hingga bermimpi berada di sebuah ruangan atau tempat yang serba putih. Di sana, ia melihat Zahra sedang bersama Aisyah dan Rifky, mereka tersenyum dan melambaikan tangan kepadanya. Ketika ia hendak mendekatinya, mimpi itu buyar ketika Adam membangunkannya.
"Sayang, setelah sholat subuh, usahakan jangan tidur. Tidak baik, ayo ikut tadarus. Rafa sudah berangkat sama Yusuf," ajak Adam.
"Hari ini, kamu bukanya ada jadwal ke rumah sakit. Mengambil tes DNA dokter itu dan Zahra, ya?"
"Kalau iya, nanti Mas antar, ya. Sekalian, kita makan gurame bakar kesukaan kamu," imbuhnya.
"Agak sorean aja, dokter Hermawan bisanya sore. Siang ini, aku mau ke perkebunan bersama, Aminah dan Laila,"
Adam membelai kepala istrinya, segera mengajaknya ke pesantren untuk ikut tadarusan. Mengikuti kegiatan itu, bisa menenangkan hatinya. Ia juga bisa merasakan kedamaian dalam pikirannya.
_-_-_
Sementara, pagi-pagi buta Raihan, Laila dan juga di temani Naira senang membeli perlengkapan untuk acara pernikahan. Baju, seperangkat alat sholat dan segala kebutuhan untuk mahar.
"Kenapa gue harus ikut, sih?" tanya Laila.
__ADS_1
"Ya, aku nggak tau kesukaan kamu itu yang bagaimana, jadi ya kamu harus ikutlah!" seru Raihan.
"Terus ngapain ini chili ikut kita?" tunjuk Laila kepada Naira.
"Enak aja, chili."
"Ya aku ikut karena nggak mungkin kamu pergi berdua aja sama, Bang Rai lah! Lagian, kamu udah mau jadi istri orang, ngapain masih bilang lue gue heh Poniyem!" kesal Naira.
"Uuu lambemu!" Laila gemas dengan mulut Naira yang selalu moncong ketika bicara.
Raihan mengingatkan mereka untuk bersikap sewajarnya selayaknya orang dewasa. Karena ia tidak mau menanggung malu, ketika mereka berulah seperti anak kecil lagi. Mereka keliling-keliling memastikan membeli semua kebutuhannya. Hingga sore hari, mereka baru mau pulang ke rumah.
Berbeda dengan Airy dan Adam, saat ini mereka sudah berada di rumah sakit untuk melihat hasil uji DNA Zahra dan Dokter Hermawan. Hasilnya, sungguh mengejutkan, Zahra memang anak kandung Hermawan.
Sekitar 6 tahun lalu, Hermawan tengah mabuk, ia belum menjadi dokter seperti sekarang. Kemudian, di barat bertemu dengan Sari yang menganggapnya mirip dengan Adam. Pikiran Sari, jika anaknya nanti mirip dengan Adam, pasti Adam akan menikahinya. Bukan melakukan hubungan badan, tapi Sarin lebih cerdik dengan mengambil putih kental gurihnya dari alat vital Hermawan, kemudian menyuntikkan nya di bagian sensitif Sari.
Perbuatan jahat pasti ada caranya untuk menang duluan, hamil lah Sari. Tapi, setelah malam itu, baik Hermawan dan Sari tidak pernah bertemu lagi. Tapi, salam benak Hermawan, ia selalu kepikiran akan malam itu.
"Jadi, Zahra memang putriku? Aku belum sempat mengenalnya, tapi dia sudah....... " Hermawan terlihat sangat menyesal.
"Dia sudah tenang di sana. Kita harus ikhlas, meskipun sebenarnya berat bagiku," sahut Airy.
"Terima kasih, kalian berdua mau merawat putriku dengan baik. Tapi kenapa secepat ini, dia demam kemudian meninggal," sesal Hermawan.
Semua sudah terjadi, kematian tak akan pernah bangkit lagi. Zahra sudah bahagia bertemu dengan nenek dan kakeknya. Sebelum ia pergi, juga memberikan sebuah nama untuk Airy, jika suatu saat nanti memiliki seorang putri.
-_-_-_
Di pesantren, Rafa termenung sendirian di depan TPQ. Yusuf, Falih dan Hamdan pun mendekatinya.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum, Rafa. Sendiri aja, kenapa?" tanya Falih.
"Wa'alaikumsalam. Kalian bertiga mengganggu konspirasi ku, saja!" dengus Rafa.
"Konspirasi? Transmisi maksud, kamu?" tanya Falih.
"Atau transportasi?" timpal Hamdan.
"Kalian ini, ya..... " Yusuf meninju mereka dengan tujuan manja yang membuat Rafa tertawa.
Tawa Rafa adalah kebahagiaan mereka juga. Di samping sikap Rafa ini seperti Airy, tapi dia juga konyol seperti Falih. Sore itu, Rafa mengungkapkan semuanya, sudah sejak lama Zahra aslinya mengetahui bahwa dirinya bukanlah anak kandung dari Airy dan Adam.
"Dengarkan kami, kau anak lelaki bukan? Tidak boleh menunjukkan rasa sedihmu kepada, Mamamu!" ucap Hamdan.
"Kenapa?"
"Ya,.. Ya.... "
"Ck, Rafa. Larut dalam kesedihan itu nggak boleh. Jika kami sedih, nanti Zahra juga sedih di dana. Memangnya kamu mau, membuat Zahra sedih?" ungkap Yusuf.
"Zahra di rumah Allah, ya?" tanya Rafa.
"Iyes," Jawab Falih.
"Rumah Allah kan di masjid. Kenapa, saat aku di masjid Zaha nya nggak ada?"
Perlahan mereka bertiga pun menjelaskan. Sementara, hati Airy sudah lega karena Ayah kandung dari Zahra sudah ketemu, belum meninggal seperi uang dikatakan Sari saat itu. Kini, Airy akan melangkah dan melanjutkan hidupnya dengan tenang. Ia sudah memenuhi janji kepada Sari untuk merawat putrinya.
"Pulang, yuk. Kita masih punya Rafa yang menunggu di rumah!" ajak Adam.
__ADS_1
Pernikahan Raihan dan Laila semakin dekat. Resti juga sudah kembali lagi ke pesantren selalu pengobatan waktu lalu. Kini, keadaannya sudah jauh lebih baik. Persiapan pernikahan juga sudah di rancang oleh keluarga dengan sangat baik. Tinggal menunggu hari H mereka melangsungkan pernikahan.