Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 203


__ADS_3

Mencium kening istri itu dapat membuat hati tenang, begitu juga yang Adam rasakan. Semakin dekat dengan Airy, semakin semangat pula ia ingin mengingat semuanya.


“Sayang sekali jika ingatanku tidak kembali. Istri seperti Bu Calista ini, eh Airy. Itu sangat istimewa. Semoga saja, aku bisa mengingat semuanya,” harap Adam.


Merasa malu, Airy tersenyum-senyum sendiri di dalam mobil, bahkan sampai memukul mukul kemudi, “Hahaha puber kedua aku. “


Sampai di kantor, ternyata Hans masih di sana menunggunya. Seketika mood Airy berubah, ia malas sekali bertemu dengan lelaki yang kerap menggodanya.


“Bahkan senyumannya buat hatiku demam. Maunya apa sih tuh orang, kenapa juga Nina nggak usir dia.” Kesalnya.


“Selamat sore, Bu Calista. Sudahkah urusan penting yang Ibu selesaikan itu?” Tanya Hans.


“Alhamdulillah, kenapa Pak Hans masih di sini? Masih ada keperluan, kah?” tanya Airy.


“Saya masih ada keperluan denganmu, bisakah kita mulai bicara?” kata Hans dengan mendekat kearah Airy.

__ADS_1


Berkali-kali Airy menolak ajakan Hans, tapi  Hans masih saja terus berusaha mendekatinya. Bahkan, sudah dua hari ini ia juga sering ke kantor hanya untuk menemui Airy. Tetap saja, Airy menolak semua itu, meskipun Hans lebih berada darinya, ia tak tergiur dengan semua harta yang Hans milikii.


“Sudah dua hari ini, Hans selalu saja datang kemari. Kalau, aku malah menjadi tidak konsen untuk bekerja. Kenapa juga Bang Rai belum kembali dari luar kota nya. Pekerjaan menumpuk di mejaku, kuliahku terbengkalai, anak suami juga menjadi nomor dua. Ah, aku rindu kehidupanku yang dulu.” Gerutu Airy.


Pagi ini, Adam sudah di perbolehkan untuk pulang. Airy bergegas menjemputnya bersama dengan Rafa tentunya. Ketika keluar dari lobi, ia lagi-lagi bertemu dengan Hans. Airy menghela nafas panjanag, menganggap jika Hans itu hanyalah cobaan di kehidupannya, “Astaghfirullah.”


“Mau kemana?” Tanya Hans.


“Jemput suami di rumah sakit.” Jawab Airy.


“Permisi!” ucap Airy.


Seperti berjalan melewati angin, begitulah yang Airy rasakan ketika melangkah di depan Hans. Seberapa tampan dan kayanya dia, bagi Airy, hanya suaminya lah yang selalu ada di hatinya. Meskipun saat ini Adam belum pulih ingatannya.


“Assalamu’alaikum Bang Rai. Kapan Abang pulang?” tanya Airy.

__ADS_1


“Besok Abang sudah sampai rumah, kok. Ada masalah apa di kantor? Kenapa sampai menelfon?”


“Harus ada masalah dulu ya biar bisa menelfon Abangku sendiri?” tanya Airy.


“Aku ingin Abang meminta Hans untuk menjauhiku. Aku capek! Risih tau, di kira oke, apa?” protes Airy.


Raihan pun menjelaskan siapa Hans ini. Di samping dia adalah rekan kerjanya, dia juga anak dari sahabatnya Sandy, kakek dari mereka berdua. Dulu, sewaktu mereka kecil, Hans pernah akan di jodohkan dengan Airy, karena Airy sudah di jodohkan dengan Adam oleh Rifky, maka Naira lah yang ingin di jodohkan dengan Hans.


“Ini hanya permainan bisnis, karena keluarga kita tidak ingin memaksakan kehendak Naira dan kamu di dalam ikatan pernikahan yang berlandaskan perjodohan, makanya perjodohan itu di batalkan.” Jelas Raihan.


“Oh, ya udah sih ya. Minta dong sama Om Keny, biar Naira mau menjelaskan ini semuanya.” Ucap Airy.


“Sudahlah, jangan di fikirkan lagi, bukakah pagi ini Ustad Adam sudah di perbolehkan pulang? Gih sana jemput, Abang masih kerja soalnya.”


Semangat hidup Airy kembali lagi ketika Raihan menyebut nama Adam. Airy segera mengemudi mobilnya menjemput Adam, karena Rafa dan Doni sudah ada di rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2