
"Lihat saja, dia mau merebutmu lagi katanya. Memangnya, ada hubungan apa sebelumnya? Hm?" tanya Laila mencubit pinggul Raihan.
"Hm, kalau tuan rumahnya sepertimu, jangankan orang ketiga...." Raihan meliriknya.
"Apa? Dah yuk, pulang! Pengen bobok cantik," potong Laila.
Sesampainya di rumah, mereka masuk rumah langsung masuk saja. Padahal pintu sudah terbuka, mereka duduk di ruang tamu, membicarakan yang seharusnya tidak di bicarakan karena di rumah itu sedang ada Yusuf dan Falih. Laila merangkulkan tangannya ke bahu Raihan.
"Setelah ini, kita tidur sebentar.... Nanti, aku akan ke pesantren bertemu dengan rekan tausiyah Pak Lek Syakir yang baru, boleh?" tentu saja Raihan meminta izin kepada Laila.
"Boleh, asal...."
"Ehem!" suara lelaki mendehem.
"Yusuf! Falih?" teriak Laila terkejut, antara Laila dan Raihan langsung saling menjauh.
"Masuk rumah tanpa salam, tanpa mengetuk pintu, romantis-romantisan pula! Tak bisakah kalian jaga sikap jika sedang ada adik-adikmu yang akan tumbuh dewasa ini, hah?" desis Falih.
"Maaf.. Kami, seharusnya sadar jika pintu sudah terbuka," ucap Raihan menunduk.
__ADS_1
"Hish, Astaghfirullah hal'adzim. Aku maklum karena kalian sedang di mabuk asmara. Tapi, tak sadarkah jika pintu terbuka, alas kaki kita berdua juga ada depan? Haih, serasa dunia ini hanya milik kalian berdua saja," gerutu Yusuf.
Menyadari Yusuf membawa semua barang-barangnya, Raihan menjadi sedikit marah. Selama Raihan menikah, memang Yusuf tak lagi tinggal bersamanya. Ia lebih memilih tinggal bersama Adam dan Airy. Terkadang, ia juga tidur di pesantren.
"Kau, membawa semua barangmu, Yusuf?" tanya Raihan kenapa tas besar milik Yusuf.
"Oh, iya. Aku canggung jika sedang datang ke sini mengambil bajuku, atau barangku yang lain. Jadi, lebih baik aku membawa semuanya, simpel, 'kan?" jawab Yusuf.
"Tak bisakah kau tinggal bersamaku, bersama kakakmu juga di sini?" tanya Raihan mengarah ke Laila.
"Aku juga tinggal bersama Kakakku yang lain, apa bedanya?" jawab Yusuf.
Raihan terdiam, ia menyadari jika adik lelakinya yang berdiri di depannya itu bukan lagi anak kecil seperti dulu. Ia berhak menentukan apapun di kehidupannya. Hanya saja, Raihan menjadi tidak enak hati dengan Adik dan Adik iparnya, ia juga berpikir bahwa dirinya tak becus menjadi seorang kakak.
"Suf... Apakah selamanya kamu akan canggung dan merasa tidak enak seperti ini, kepadaku?" tanya Laila.
"Maaf, bisa aku jelaskan. Jika Yusuf tinggal di sini, ia akan merasa canggung karena Kak Lail Lail, bukan mahramnya, hehehe. Memandangmu saja akan berdosa, tapi jika di rumah Kak Airy... ya kalian bisa mengerti sendiri, 'kan?" jelas Falih masih saja dengan bercanda.
"Segera pergi, ayo! Susana sudah menegang," bisik Falih.
__ADS_1
Falih mengajak Yusuf segera pulang, tak lupa berkaitan kepada Raihan, mencium tangannya dan mengucapkan salam. Sebenarnya, Raihan merasa kecewa jika Yusuf lebih memilih tinggal bersama Airy, tapi memang itu sudah keputusannya, jadi ia tidak mungkin untuk mengengkang-nya. Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Raihan masuk ke kamar meninggalkan Laila sendiri di ruang tamu.
"Ya Allah, begini amat kalau punya ipar laki. Tapi, dia ada benarnya, aku dan dia bukan mahram. Jika nanti nggak sengaja lihat aku tak berhijab, yang dosa ya kami semua," gumam Laila.
Dengan langkah cepat, Yusuf dan Falih sampai di rumah Airy. Mereka melihat Airy sedang mengangkat jemuran. Yusuf menyadari jika kakaknya tengah hamil, ia pun mengambil alih dengan mengangkat jemurannya.
"Assalamu'alaikum, lain kali kalau mau angkat jemuran, angkat bajunya aja. Jangan sekalian sama tempatnya begini," ucap Yusuf menepis tangan Airy.
"Assalamu'alaikum, Kak Aer," salam Falih.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," Airy hanya menatap adiknya.
"Dia di rasuki jin, mana? Bagaimana bentuknya?" tanya Airy kepada Falih.
"Lebih tepatnya, dia sedang galau. Di sekolah di campakkan oleh cewek yang di taksirnya," jawab Falih.
"Waw, aku terkejut...," ucap Airy.
"Apaan, sih? Aku begini kan, karena Kak Airy lagi hamil," elak Yusuf dengan malu-malu, karena Falih membuka kartunya.
__ADS_1
"Waw, aku semakin terkejut-kejut," goda Airy menahan tawanya.
Selesai beberes barang-barangnya, Yusuf dan Falih berpamitan akan ke pesantren untuk mengaji. Tentu saja harus mengajak Rafa, karena Rafa juga mulai setor hafalan hari itu.