Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 335


__ADS_3

"Kenapa mereka kekeh mau menikahkan anaknya kepadamu, sih, Bang?" tanya Airy duduk di depan Raihan.


"Aku, kok mencurigai sesuatu, ya. Na'udzubillah, semoga saja dia tidak kenapa-kenapa," sahut Syakir.


"Curiga kenapa?" tanya Raihan.


"Nanti aku mintai Aminah dan Mayshita untuk menyelidiki ini. Aku malah berpikir jika si Syafa ini sedang tidak baik-baik, saja. Bener, nggak, Dam? Otakmu lebih nyampai dari pada Raihan soalnya," Syakir mulai mencurigai sesuatu.


Pikirnya, tak ada orang tua yang memaksakan kehendak menikahkan putrinya yang baru saja di tinggal kekasih hidupnya, pasti ia juga merasakan ke guncangan hati karena di tinggal suaminya meninggal. Kecuali ada sesuatu di keluarga itu.


Di lain tempat, Aminah beserta orang tuanya akan bertemu dengan lelaki yang akan di jodohkan oleh Aminah. Selama 2 bulan ini, Aminah terlihat berbeda dari sebelumnya. Ia sering murung dan tak selera makan, hingga berat badannya turun. Anehnya, otaknya tetap lancar dalam melakukan tugas sekolah.


"Kita mau ke mana?" tanya Aminah.


"Bertemu dengan keluarga, yang anaknya akan di jodohkan denganmu, Nak." jawab Balqis.


"Haha, aku belum lulus sekolah. Secepat itu kalian ingin menendangku dari rumah?" sulut Aminah.


"Kita adalah pertemuan, karena ini sudah janji beberapa tahun lalu. Kalau kamu nggak srek sama anaknya, ya tidak usah di lanjutkan perjodohannya. Kamu berhak memilih pilihanmu, sendiri!" timpal Syakir.


Setelah perjalanan 1 jam, akhirnya mereka sampai di rumah yang begitu megah dan mewah. Aminah, Syakir dan Balqis tidak tahu jika yang mereka temui ini adalah keluarga dari Raditya. Ya, yang akan di jodohkan dengan Aminah adalah Kakaknya Raditya, Rasid.


"Assalamu'alaikum," salam Syakir.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,"


"Menantu dari pak Kyai... ah silahkan masuk!" ucap Ibu Raditya.


Mereka juga saling mengenalkan diri, tak terlihat Raditya di sana. Karena dirinya masih di dalam bersiap menyambut tamu yang tak terduga. Rasid memang memiliki masa depan yang cemerlang, wajah juga tidak dibilang buruk. Memiliki tubuh tinggi dan kulit putih bersih, memiliki lesung pipi kanan kiri. Namun, semua itu belum bisa mengalahkan gigi gingsul milik Raditya.


"Adit, keluar, Nak. Tamunya sudah datang...," panggil Ibunya.

__ADS_1


"Kami masih memiliki anak lelaki. Alhamdulillah, baru saja pulang dari liburannya, anak ini sedikit bandel karena jarang di rumah," ucap Ayah Raditya.


"Namanya juga anak muda, Pak." sahut Syakir.


Deg!


Situasi seperti drama India yang kebanyakan zoom dan musik. Seperti itulah ketika Raditya turun dari tangga. Inilah detik-detik pertemuan Raditya dan Aminah setelah 2 bulan tidak bertemu.


"Ini dia putra kedua kami," ucap Ibunya.


"Raditya?" Sakit terkejut.


Mendengar nama lelaki yang dicintainya, Aminah mendongakkan kepala, ia kaget ternyata Adit itu adalah Raditya. Adik dari lelaki yang ingin di jodohkan dengannya.


"Bang Dit?" batin Aminah, matanya mulai berkaca-kaca, jantungnya berdebar. Ia segera memalingkan pandangannya.


"Oh, anda sudah mengenal, anak saya?" tanya Ayah Raditya.


Aminah jelas marah kepada orang tuanya, ia mengira jika orang tuanya sengaja melakukan itu. Tapi memang Syakir dan Balqis tidak mengetahui jika orang tua Rasid adalah orang tuanya Raditya juga.


Sejak bersama di sana, Aminah hanya diam saja dan menjawab seperlunya. Ia marah dengan kedua orang tuanya, marah kepada Raditya dan marah dengan suasana. Ingin rasanya Aminah teriak sekeras mungkin agar sebak di dadanya hilang.


"Maaf, menyela. Saya boleh numpang ke toilet?" tanya Aminah.


"Oh, tentu, Nak. Ayo ibu antar, eh Adit aja yang nganter. Kan kalian juga sudah kenal," Ibunya Raditya memberi kode kepada Raditya.


Aminah berjalan di belakang Raditya. Melewati dapur yang mungkin dua kali lebih besar dari dapur rumah Aminah. Lalu sampailah mereka di kamar mandi. Kecanggungan juga ada di antara mereka. Rasanya seperti orang asing, padahal sebelumnya mereka terlihat sangat akrab dan dekat.


"Aku tinggal dulu," ucap Raditya.


"Begitu?" tanya Aminah menahan diri masuk ke kamar mandi.

__ADS_1


"Gimana?" tanya Raditya bingung.


"Dua bulan," terdengar suara Aminah gemetar. "Dua bulan nggak ada kabar. Begitukah yang namanya kamu serius denganku, Bang Dit? Kau memiliki nomorku, bahkan tidak menghubungi aku? Kau anggap apa aku ini, Bang Dit?" lanjutnya.


"Jadi, sekarang aku yang salah? Bukankah kamu yang bilang jika kamu belum siap untuk serius denganku? Bahkan kamu malah mengajakku pacaran nggak jelas. Kamu yang mengusirku waktu itu, Aminah. Atau jangan-jangan kamu melakukan semua itu karena dijodohkan dengan, Mas Rasid?" tebak Raditya. Kesalahpahaman terjadi di antara mereka.


Aminah masuk ke kamar mandi dan membanting pintu. Ia tidak menyangka jika Raditya mengatakan hal itu. Baginya, itu sudah menyakiti perasaannya.


"Asal kamu tahu, Aminah. Aku sungguh terkejut ketika melihat wanita yang dijodohkan dengan Kakakku, adalah kamu. Wanita yang aku cintai juga, kamu tahu itu, aku tidak mungkin menentang perjodohan ini." batin Raditya.


"Kamu jahat, Bang Dit. Kamu bahkan juga tidak menghentikan perjodohan ini, disaat kau sudah mengetahui jika wanita itu adalah aku! Hah, Ya Allah. Aku sakit hati!" batin Aminah.


Perbincangan berlanjut ketika Aminah kembali ke ruang tamu. Setelah puas berbincang-bincang, Syakir dan Balqis berpamitan dan akan mengabari jika perjodohan itu akan dilanjutkan. Di sepanjang jalan, Aminah hanya diam saja. Ia juga tidak merespon pertanyaan kedua orang tuanya. Hatinya sudah sakit, di tambah Raditya tidak berterus terang kepada keluarganya.


Sampailah mereka ke rumah almarhumah Zulaikha, ibu kandung dari Aminah. Mereka sengaja akan bermalam di sana karena ingin berkunjung ke keluarga Zulaikha juga.


"Aminah," panggil Balqis.


"Kenapa kamu diam saja dari tadi. Apakah kamu sakit?" tanya Balqis.


"Iya, aku sakit. Sakit hati!" jawaban Aminah membuat Balqis dan Syakir.


"Aminah! Jawaban itu?" bentak Syakir.


"Kalian tahu, aku mencintai Bang Radit, tapi kalian mau menjodohkan aku dengan kakaknya! Aku...." Aminah menghela nafas panjang.


"Aku, nggak bisa terima perjodohan itu. Kenapa kalian jahat sekali kepadaku, aku benci dengan kalian!" Aminah tak kuasa menahan emosinya. Kemudian masuk ke kamar dan menutupnya rapat-rapat.


Tentu saja membuat Syakir dan Balqis semakin terkejut. Mereka bahkan tidak tahu jika Rasid adalah kaka dari Raditya. Itu tentu menyakiti hati Balqis karena Aminah membentaknya. Kini, Syakir tersadar jika putrinya memang sudah besar.


"Baru kali ini, aku melihat Aminah semarah ini, Bi." ucap Balqis yang kemudian masuk ke kamarnya.

__ADS_1


Sore harinya, Aminah meminta Yusuf untuk menjemputnya dari rumah Kakeknya. Lalu pulang ke rumah Airy dan menceritakan apa yang ia alami. Bukannya di nasihati dengan baik, Airy malah marah ketika Aminah membentak Balqis. Bagaimana reaksi Airy dan Adam?


__ADS_2