
"Punya adik jangan direbut, jaga pandangan Mas, Airy sudah merasa nggak nyaman itu!" seru Ustad Zainal.
"Assalamu'alaikum." Kemudian Ustad Zainal pun kembali masuk ke masjid.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." jawab Hafiz.
"Hemm, adik ipar. Untuk apa juga aku tertarik dengan adik iparku sendiri. Terakhir ketemu juga masih anak kecil. Tapi sumpah itu......... "
Hafiz kembali ke rumah, kemudian mengistirahatkan tubuhnya di kamar tidur. Ia memandangi seluruh sudut isi kamar lama nya itu. Dimana, ibunya selalu menemani ketika dirinya hendak tidur di malam hari.
"Airy, gadis itu sudah besar rupanya. Haih, mana jadi adik iparku lagi. Ya Allah Ya Rabb, yang nyumpahin aku jadi perjaka tua aja udah nikah. Kenapa aku belum ya." Gumam Hafiz memeriksa foto lama bersama keluarga Airy dulu saat di Singapura.
Di kamar, saat Adam sedang membaca sebuah buku. Airy berbaring di sampingnya, bahkan Airy pun menjadi tidak tenang memikirkan Hafiz. Ia hanya bisa berbaring ke kanan ke kiri, lalu tengkurap dan telentang lagi.
"Itu, itu kalau tiduran seperti itu tingkahnya, anak kita nggak pusing apa di dalam sana?" tanya Adam.
"Hahaha ngakak, nggak lucu! Mana ada pusing, aku yang lagi pusing ini Mas!" seru Airy.
"Kenapa sih sayang, cerita dong sama Mas!" Adam membelai rambut Airy yang tergerai panjang.
__ADS_1
"Kak Ale umur berapa sih?" tanya Airy tiba-tiba .
"Bagaimana Airy tau, kalau panggilan Mas Hafiz dulu adalah Ale?" tanya Adam dalam hati.
"Mas!" kata Airy sambil menepuk paha Adam.
"Emm, 31 tahun sih setahu aku. Kenapa? Dan kenapa kamu nama panggilan Mas Hafiz?" tanya Adam kembali.
Benar dugaan Airy kalau Adam pasti akan menanyakan tentang bagaimana dirinya bisa mengetahui nama Hafiz dengan panggilan Ale. Airy pun mulai menceritakan kisahnya saat bertemu dengan Ale waktu dulu. Adam pun hanya mengangguk dan percaya kepada istrinya, karena tidak mungkin di usia Hafiz dan juga Airy yang terpaut cukup jauh bisa bertemu dalam satu waktu kalau tidak kebetulan.
"Siap-siap sholat Isyak ya, kita sholat Isyak dirumah saja!" ucap Adam masuk ke kamar mandi.
Seperti biasa setelah sholat, Airy langsung setor hafalannya. Kali ini ia sudah khatam hafalannya, anehnya Airy bisa menguasai kitab kuning, tapi belum fasih menjadi seorang hafizah. Itu karena Airy kebanyakan main (dengan anak kecil, mancing di sungai) dari pada menghafal waktu dulu.
Sebelum tidur, Adam sempat menceritakan kronologi tentang musibah yang mereka alami. Perkebunan dan empang ternyata memang ada yang sengaja merusaknya. Uang di tabungan Adam hanya cukup untuk modal baru lagi, ia masih bingung bagaimana dengan persalinan Airy nanti.
"Ndak usah bingung Mas, di tabungan si manis Airy ini masih buanyak. Kalau buat persalinan insyaAllah cukup. Mau buat modal lagi juga cukup kok." ucap Airy menepuk-nepuk bahu Adam.
"Itu uang kamu sayang, uangmu ya hanya untukmu. Nanti aku fikirin lagi ya, InsyaAllah pasti ada jalan kok," kata-kata Adam ini juga menunjukkan dirinya sedang bingung.
__ADS_1
Airy tau, jika Adam sejak awal memang tidak mau memakai uangnya. Tapi dengan seperti itu, Airy menjadi tidak tega jika Adam harus banting tulang kerja di tempat lain.
"Gimana kalau Mas Adam pinjam punyaku saja. Aku kasih waktu 3 bulan buat mengembalikannya, dengan bunga tapi. Gimana? Sama suami sendiri boleh dong minta lebih hehehe," Airy berusaha agar tidak membuat suasana semakin tegang.
"Tapi itu uangmu Airy, Mas Ada kok, nanti Mas pikirkan lagi ya," Adam tetap menolak.
"Lahiran juga masih 6 bulan lagi, masih cukup waktu untuk ngumpulin uang. Aku menawarkan tawaran bagus dengan Mas meminjam uang ku. Kita mikirnya, pakai aja mana uang yang ada diantara kita dulu, nanti mas ganti dengan bunga 80%, " ucap Airy.
"Banyak amat?" kata Adam.
"Dosa tau jadi rentenir! " Seru Adam.
"Kan yang nanggung dosaku adalah Mas Adam, makasih suamiku." Ucap Airy sambil mencubit pipi Adam.
"Ndak ada kata menolak. Malam ini juga aku transfer ke rek Mas Adam oke? Kalau di tolak aku akan ngambek dan nangkring di atas pohon lagi." Airy mengambil ponselnya dan mulai mentransfer.
Tapi malam itu, Adam mendapat telfon dari Yusuf, menggunakan ponsel Rifky, kalau Rifky sedang sakit dan meminta Airy untuk pulang ke Jogja. Airy tidak begitu panik, karena Rifky hanya pura-pura saja agar Airy dan Adam datang ke Jogja. Siang tadi Rifky sudah menelfon Airy terlebih dahulu.
Masih membohongi Adam, Airy pun meminta izin untuk mengajak Adam menjenguk Papanya di Jogja. Karena ternyata, Airy ada maksud lain dengan itu.
__ADS_1
Apa maksud lain itu? Apakah hal yang akan membuat kita semua tertawa di bab selanjutnya? Ditunggu nya kakak kakak.