
"Hah, kan, kan, kan, ambyar to? Aku ra isu turu cantik!" kesal Aminah sambil berguling ke sana sini seprti trenggiling dengan menyelimuti tubuhnya menggunakan selimut tebal.
(Aku nggak bisa tidur cantik)
"Aku suka sama, Bang Radit! Nikah, yuk!"
Hanya kata itu yang terngiang di otak Aminah saat ini.
"Tambah beban pikiranku sekarang. Kenapa aku ini, astaghfirullah hal'adzim, aku harus sholat dulu. Biar adem otak dan hatiku. Huftt, bismillah!" ucap Aminah segera wudhu.
Begitu juga dengan Hamdan yang pendiam setelah insiden yang menimpanya. Ia baru saja mengingat siapa Cassandra itu. Gadis yang menemaninya selama 2 tahun di sekolah, sebelum Hamdan pindah ke Jogja.
"Ham, harusnya kamu nggak bentak dia tadi. Meski aku tidak tahu apa yang kalian bicarakan, tapi nada bicaramu itu tinggi loh bagi telinga perempuan," tegur Yusuf.
"Aku hanya mau ingatin kamu, kalau di rumah, kita memiliki para perempuan yang mesti di jaga. Jika para perempuan kita di bentak seperti itu bagaimana? Itu sama saja menyakiti mentalnya, apa kamu tega lihat adik-adik kita, kakak kita, ibu kita dan tante kita di bentak orang begitu? Posisikan semuanya dalam diri kita," lanjut Yusuf dengan nada lembut.
"Dan lebih parahnya lagi, adik kita memang semuanya perempuan," sahut Falih.
"Aku kesal saja, tiba-tiba dia memelukku. Aku kaget lah, aku memang merasa bersalah setelahnya karena membentak dia, tapi...." jelas Hamdan.
"Kamu bisa kasih paham dia dengan baik, 'kan? Sudahlah, sebaiknya nanti kamu cari alamat rumahnya, lalu minta maaf kepadanya. Sekarang sudah ingat kan, siapa dia?" tutur Yusuf merangkul Hamdan yang saat itu berada di antara dirinya dan Falih.
Tak ada lagi kata yang terucap, masa lalu hanya akan menjadi cerita saja jika bisa menyikapinya dengan tenang. Baik buruk masa lalu itu, tak bisa merubah takdir. Mungkin, gadis beranak Cassandra itu bukanlah jodoh Hamdan, makanya Hamdan tak pernah mengingatnya lagi.
Begitu juga dengan masa lalunya yang kelam ketika harus berpisah dengan kedua itang tuanya. Hidup miskin, tinggal di pelosok daerah tanpa adanya jaringan. Kisah keluarga pesantren ini begitu banyak drama, penderitaan, cobaan dan gangguan lain silih berganti. Hanya kebersamaan dan keimanan mereka yang bisa membuat mereka melalui lika liku kehidupan.
-_-_-
__ADS_1
Malam tlah tiba, setelah sholat magrib berjama'ah, mereka bergilir mengaji. Baik di Korea, di Jogja dan di pesantren. Kewajiban sebagai seorang muslim usai mereka jalani.
"Aku mau segera tidur, assalamu'alaikum!" Aminah absen untuk makan malam.
Yusuf menatap Aminah, kemudian melihat Raditya. Diam-nya mereka membuat Yusuf yakin jika di antara mereka berdua ada sesuatu yang semua orang tidak mengetahuinya.
"Tumben, Aminah biasanya ratu makan loh. Aku takut, nanti dia sakit kalau nggak makan," ucap Falih.
"Yumna, tolong bawakan makanan untuk eonni, ya. Jangan biarkan dia tidur dengan perut kosong." pinta Hamdan kepada Yumna.
"Baiklah, aku akan bawakan sekarang," jawab Yumna menyiapkan sepiring nasi dan lauk untuk Aminah.
Ketika Yumna berjalan ke kamar, Yusuf menghentikannya. Ia menawarkan diri, agar dirinya yang akan mengantar makanan tersebut. Masuklah Yusuf ke kamar, ia melihat Makkah sedang memandang cahaya gemerlap lampu kota Seoul.
"Assalamu'alaikum," salam Yusuf.
"Apabila makanan salah seorang dari kalian jatuh, maka bersihkanlah kotoran darinya, lalu makanlah dan janganlah membiarkannya untuk dimakan oleh syaitan!" seru Yusuf. "Apalagi, ini sama sekali tidak di sentuh, padahal Tante Ceasy sudah susah payah memasak untuk kita semua, ayo cepat makan!" imbuhnya.
Aminah langsung merebut piring itu dari tangan Yusuf. Tanpa malu-malu langsung melahapnya sampai habis tak tersisa. Di samping itu, hatinya masih saja berpusat dengan ungkapan konyol hatinya, mengatakan suka kepada Raditya.
Tak ada yang di sembunyikan antara Aminah dan Yusuf, mereka berdua bakal saudara kembar. Ya, bagaimana lagi? Mereka satu air susu ketika masih bayi, tumbuh bersama dan tak pernah jauh satu sama lain.
"Jadi, kamu sudah menyatakan cinta?" tanya Yusuf.
"Bukan cinta, aku cuma bilang suka saja sama Bang Raditya." jawab Aminah. "Itu membuatku sangat malu! Bagaimana mungkin seorang muslimah sepertiku menyatakan perasaan kepada seorang lelaki, ah..." sesalnya.
"Aku bahkan penasaran wajahmu ketika menyatakan perasaan kepada Mas Radit. Seperti apa, ya?" goda Yusuf.
__ADS_1
"Aaa, ucup. Pengen peluk," ucap Aminah merentangkan tangan.
"Heh, meskipun kita bisa bersentuhan tapi aku gak mau memelukmu, kita dah baligh Fatonah!" seru Yusuf menolaknya dengan mendorong jauh kening Aminah.
Karena Yusuf tidak ingin di peluk, akhirnya Aminah menyandarkan kepalanya ke bahu Yusuf. Aminah juga cerita saat Raditya mengajaknya menikah, meski ia tahu itu banyak gurauan, tapi ucapan itu sudah membuat otak dan perasaan Aminah menjadi kacau.
"Jadi ini, kenapa kamu tidak mau makan malam bersama? Canggung ketemu Mas Raditya?" tanya Yusuf.
"Bukan canggung lagi, tapi sudah sampai ke tahap malu tingkat internasional!" jawab Aminah manja.
Yusuf tertawa, di balik pintu kamar, ternyata Raditya dan Hamdan mendengar apa yang di bicarakan Aminah kepada Yusuf. Ia menjadi salah tingkah sendiri, mengetahui jika orang yang di sukainya memiliki perasaan yang sama.
"Ehem, jangan sakiti adikku. Meskipun Mas Radit ini lolosan pesantren, kuliah di Jerman, se kaya apapun juga, jika kau menyakiti adikku yang manja itu, awas saja!" hardik Hamdan kembali ke meja makan.
Bukan marah, tak takut atau kecewa. Raditya hanya tersenyum, ia bahagia dengan perasaannya yang terbalas saat ini. Namun, ia juga bingung karena tak mungkin gadis kecil itu akan di miliki secepatnya. Ia masih di bawah umur, dan masih memiliki masa depan yang panjang. Jadi, Raditya masih akan menyimpan perasaannya kepada Aminah.
Malam harinya, Raditya mengungkapkan semua itu kepada Raihan. Ia ingin menanyakan bagaimana tentang dirinya mendekati Aminah.
"Jadi, kamu suka sama Aminah? Sejak kapan?" tanya Raihan.
"Hihs, suka sih gak tau sejak kapan. Tapi mulai tertarik ketika aku sering datang ke pesantren. Gimana nih?" Raditya memang susah untuk mengakui perasaannya.
"Bilang sama orang tuanya lah. Setahu aku, tuh anak udah ada jodohnya, udah di atur sama orang tuannya," goda Raihan.
"Serius? Jangan gitu dong, masa baru mau berjuang udah ada dinding penghalang aja, sih? Mana dia masih bocil lagi, kalau nikahin yang ada malah menghambat masa depannya, dong!" seru Raditya.
Sebenarnya, menang sudah ketentuannya para orang tua di pesantren, pasti akan menyerahkan jodoh kepada Allah pertama tentunya. Namun, pilihan kyai, atau orang tua pasti akan jauh lebih baik bagi setiap santri. Begitu juga dengan Aminah yang memang sudah mau di perkenalkan oleh salah satu anak sahabat Syakir yang sekarang masih ada di Kairo. Cocok atau tidaknya, itu akan di putuskan nanti di akhir.
__ADS_1