
"Laila, kamu sudah kerja sekarang? Jadi kakak nggak khawatir lagi dengan kebutuhanmu," tutur Resti.
"Hm, lu pasti seneng, 'kan? Sekarang udah nggak repot-repot lagi bawain aku makanan dan transfer uang. Udah sana mending lu pulang, gue males liat lu!" usir Laila.
"Laila, kok kamu masih seperti ini sih sama Kakak. Abi pasti sedih jika melihatmu seperti ini," tegur Resti.
"Masih mending, gue mau manggil lu, kakak!" kesal Laila.
Ada saatnya, nanti Laila menceritakan tentang kemarahannya kepada Kakak dan Umi sambungnya. Dan itu hanya di ceritakan kepada Raihan, di lain waktu.
"Baiklah, kakak pulang dulu. Lain kali, jika Kakak senggang, pasti kakak mampir ke sini," ucap Resti dengan pasti.
"Nggak perlu! Lu nggak enak dengan majikan gue. Lebih baik, ini yang pertama dan terkahir kalinya, lu datang ke sini!" ketus Laila.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum, jaga dirimu baik-baik, Laila!"
"Wa'alaikumsalam,"
Air mata Resti tak lagi bisa di bendung. Hatinya sangat kacau ketika Laila belum bisa menerima kehadirannya selama ini. Tidak sengaja, ketika keluar rumah ia bertabrakan dengan Doni.
"Maaf," ucap Resti sambil menyeka air matanya.
"Assalamu'alaikum," salamnya.
Di kantor, Hans minta perjodohan dengan keluarga Handika tetap di lanjutkan. Dan rakusnya, ia meminta Airy lah yang jadi jodohnya, bukan Naira. Mendengar ucapan gila Hans, membuat Raihan jadi naik tikam. Ia sampai menggebrak meja dan mengusir Hans.
"Perjodohan itu, sudah lama batal! Lalu, yang di jodohkan itu, antara anda dengan Naira. Bukan dengan Airy, bukan! Saya garis bawahi. Dan jika perjodohan itu di lanjutkan dengan Naira, saya tetap tidak setuju, karena Naira juga adik saya. Saya akan membiarkannya memilih calon suaminya nanti. Silahkan! Pintu keluar ada di belakang, anda!" tegas Raihan.
__ADS_1
"Wuah, hebat Pak Raihan. Anda ini baru terjun di dunia bisnis, baru 2 bulan. Jangan sombong anda. Sore nanti, akan ada tender dengan perusahan ternama. Kita buktikan saja, siapa yang lebih unggul di antara kita, jika saya menang, Pak Raihan harus menyerahkan Airy kepada saya, dengan ikhlas. Oke?" kilah Hans.
"Hm, anda benar-benar sakit, Pak Hans. Masalah perjodohan tidak ada sangkut-pautnya dengan tender kita sore ini. Jika bisa, kita harus bersaing secara sehat, yakni bisnis bukan seperti," jelas Raihan.
"Mereka adik saya, Airy maupun Naira, bukanlah barang murah yang bisa dijadikan taruhan, mereka lebih indah dari berlian, yang mungkin anda pun tak sanggup untuk membelinya!" tungkasnya.
Dengan emosi, Hans pun keluar dari ruangan Raihan. Ia berpapasan dengan Airy, kemudian berbisik, "Siap-siap, kamu akan segera menjadi istri saya, Airy!"
Spontan Airy memberi tatapan sinis, dan langsung masuk ke ruangan kakaknya. Sambil menyerahkan laporan, Airy pun bertanya, "Kenapa lagi, tuh?"
"Masa kalau Abang kalah tender, Abang harus serahin kamu ke dia dengan ikhlas, 'kan nggak lucu, ngeri lah!" jawab Raihan.
"Sakit tuh cowok, kelamaan jomblo kali. Abang yang semangat makanya, jadi biar nggak bisa nyerahin aku ke dia. Gimana dengan Mamasku nanti," pinta Airy.
__ADS_1
"Soal menang atau kalah, itu sudah rezeki orang masing-masing. Tapi, apapun hasilnya, Abang tidak akan pernah menyerahkan dirimu, dan Naira kepada orang seperti, Hans. Abang janji, ini janji seorang Abang untuk melindungi adiknya, lebay nya aku," batin Raihan.