
Ada e-mail dari Clara, ia mendapat informasi baru darinya tengah gadis bermata biru itu. Di usianya yang akan menginjak 11 tahun, gadis itu sudah mampu menghabisi nyawa 12 orang dewasa, menenggelamkan kapal seperti Bu Susi, dan juga merampok geng Mafia lain dengan sejumlah emas yang tak terhitung nilainya.
"Allahumma inni as aluka nafsaan bika muthma-innah, tu’minu biliqoo-ika’ watardhoo bi qodhooika wataqna’u bi’athooika." tak lupa Yusuf juga bersholawat agar hatinya tenang kembali.
"Coba aku baca lagi," Yusuf mengamati setiap detail kata-kata yang di tulis oleh Clara. Seketika membuat Yusuf sesak nafas dan kali menyebut asma Allah.
Pas saat itu, ada telpon masuk di ponsel Yusuf. Nomor itu, nomor asing lagi. Yusuf sudah menebak jika penelepon itu adalah si mata biru. Kali ini, Yusuf akan menanyakan kebenaran itu.
"Akhirnya kamu menelpon tiga hari lebih awal. Ada apa?" tanya Yusuf.
"Kakak, tolong aku!" teriak Mata Biru.
"Ada apa?" tanya Yusuf panik karena suara Mata Biru itu sangat menyakiti hatinya.
"Aku ada di Seoul sekarang. Tolong jemput aku, alamatnya akan aku kirim, sekarang!"
Telponnya langsung terputus, tak lama setelah itu, pesan dari nomor berbeda mengirim alamat cafe ternama di kota itu. Karena penasaran, Yusuf datang ke cafe itu sendirian. Ia tidak ingin Hamdan maupun Aminah mengetahui Mata Biru itu.
Ketika membuka pintu kamarnya, Yusuf tak sengaja menabrak Aminah yang saat itu membawakan kopi untuknya. Yusuf terburu-buru sampai tidak menyentuh kopi itu. Ia juga segera mencari taksi agar lebih cepat sampai di cafe itu.
Setelah sekitar lima belas menit, Yusuf sampai di cafe yang Mata Biru itu kirimkan. Dia duduk sendirian di sana, dengan rambut yang sudah berwarna hitam dan tidak pirang lagi. Namun, matanya masih biru seperti sebelumnya.
"Kamu di sini?" sapa Yusuf.
"Kakak!"
Gadis itu memeluk Yusuf, tentu saja langsung di lepaskan oleh Yusuf. Baru beberapa bulan tidak bertemu saja, gadis itu sudah bertambah tinggi saja, meski usianya menginjak 11 tahun, tingginya sudah sebahu Yusuf dan berbadan langsing. Meski begitu, Mata Biru itu tak terlihat seperti gadis berusia 11 tahun.
"Lepaskan! Kamu ini sebenarnya siapa, sih? Jujur, usia kamu berapa tahun?" tanya Yusuf.
"Sebaiknya kita jangan bicara di sini, ayo ikut denganku!" bisik Mata Biru sambil menatap kesana-kemari seperti dirinya ini sedang melakukan kewaspadaan.
Yusuf menolak untuk di tarik, ia akan mengikuti Mata Biru kemana ia mau. Berjalan melewati beberapa toko dan masuk ke toko yang sudah tutup di sana. Anehnya, Mata Biru memiliki kunci toko itu. Yusuf semakin penasaran dengan gadis itu.
"Kamu... kamu sebenarnya siapa, usiamu berapa dan apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Yusuf.
"Kakak bawa liontin itu?" tanyanya kembali.
Yusuf merogoh sakunya, kemudian memberikan liontin itu kepada Maya Biru.
"Ambillah, dan segera pergi. Jangan ganggu aku lagi, masalah...." belum juga Yusuf menyelesaikan kekesalannya, Mata Biru itu membungkam bibir Yusuf menggunakan tangannya.
Ada sekitar tiga orang yang terus mondar-mandir di depan toko yang sengaja tidak dinyalakan lampung itu. Terlihat Mata Biru sangat waspada ketika tiga orang itu mondar-mandir di depan toko. Lalu, tak lama setelah itu mereka pergi. Yusuf tertarik kembali ketika kelopak mata gadis itu buka tutup memperlihatkan warna kornea matanya.
__ADS_1
"Tolong bawa lagi liontin ini, namaku Re, ah panggil saja aku sesuai yang Kakak mau. Akhir tahun aku berusia 11 tahun, ya anggap saja sekarang aku sudah berusia 11 tahun, aku ke sini hanya melakukan tugas dari keluargaku saja, senang bisa berjumpa denganmu," ucap gadis itu dengan bahasa Korea yang fasih.
Gadis itu berjinjit dan mencium bibir Yusuf kembali tentu saja membuat Yusuf semakin murka. "Kau melakukannya lagi? Aku tidak suka di sentuh wanita yang bukan mahramku! Hargai kepercayaanku!" bentak Yusuf membelakangi Mata Biru.
"Kakak,"
"Bisakah kau menolongku? Tanganku begitu kotor untuk menyentuhmu, jadi hanya dengan bibir saja aku mengucapkan terima kasih. Tolong bantu aku keluar dari dunia hitam ini, Kak. Aku mohon...." Mata Biru bahkan sampai berlutut dan menyatukan tangannya memohon kepada Yusuf untuk menolongnya.
Entah mengapa Yusuf bisa luluh begitu saja. Dulu, ketika Cindy juga memohon sampai mabuk saja dirinya sama sekali tidak luluh hatinya. Yusuf berbalik ke arah Mata Biru, memberikan tasbih digital yang selalu ia bawa kesana-kemari di tangannya.
"Aku akan menjaga liontin ini sampai urusanmu kembali." tegas Yusuf.
"Benarkah?" tanya Mata Biru dengan mata yang berbinar.
"Dengan satu syarat!" desis Yusuf.
"Ok!" gadis itu begitu yakin.
"Kau kembali kepadaku, 'kan? Aku ingin, saat kau kembali kepadaku, kau harus bisa mengahafal minimal surat pendek 1 juz di juz 30. Kau ingin bersamaku juga, 'kan? Jadi, kau harus berhenti di dunia hitam-mu ini setelah urusan terakhirmu selesai. Lalu, ikuti kepercayaanku, jika kamu kembali dengan syarat yang aku ajukan tadi... aku akan mempertimbangkanmu!" tegas Yusuf. Bukan maksud memaksa, itu karena Yusuf ingin gadis itu berubah.
Ia melepas jaketnya dan memakaikannya kepada gadis Mata Biru itu. Bukan hanya jaket dan tasbih kesayangannya yang ia berikan, bahkan syal yang baru saja ia beli untuk Airy saja ia berikan untuk menutupi kepala gadis itu. Lalu, ia pergi dengan senyuman meninggalkan gadis itu.
"Hatiku terasa berbeda, aku akan berusaha untuk memenuhi syarat itu. Aku akan merampungkan misi ini dan segera keluar dari geng ini," gumam Mata Biru.
"Hae Jun, kau di sini?" tanya Yusuf.
"Ya, Yusuf. Harusnya aku yang bertanya. Kenapa kau di sini? Ini dekat sekali dengan rumahku, jadi tidak heran jika aku berada di sekitar sini. Kau sendiri malah berkeliaran di sini? Ada keperluan apa?" tanya Hae Jun kembali.
Yusuf berasal bahwa dirinya baru saja keluar dari cafe yang besar di ujung jalan. Saat Hae Jun menawarkan untuk. mampir, Yusuf menolak dengan alasan dirinya sudah terlambat pergi bekerja. Dengan sedikit ragu, Hae Jun mengiyakan saja dan melanjutkan perjalanannya.
"Jelas-jelas dia berada di jalan yang salah, kenapa aku memberinya kesempatan? Ada apa denganku? Dia masih kecil, pasti ada orang dewasa yang mengajarinya berbuat hal negatif seperti itu,"
"Aku jelas menatap matanya. Dalam matanya banyak sekali kesedihan, dia minta tolong kepadaku untuk meraih tangannya dari kegelapan, apakah yang aku lakukan ini benar? Apakah dia akan baik-baik saja? Sebaiknya aku lihat dia kembali!"
Perasaan tak bisa tega meninggalkan gadis kecil sendirian meski gadis itu mampu ke Korea sendirian. Yusuf kembali ke toko kosong itu, dan melihat kejadian yang memilukan. Ia melihat gadis itu di siksa dengan menggenggam erat tasbih yang ia berikan kepadanya. Yusuf sedikit tidak mengerti obrolan mereka karena menggunakan bahasa Tiongkok.
Akan tetapi, melihat kaki gadis itu berlumuran darah, Yusuf merasa tidak tega. Hatinya begitu sakit melihat gadis itu terus meronta tubuhnya, meski bibirnya terus terkunci.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" batin Yusuf sudah gelisah.
Sekitar hampir setengah jam, mereka baru selesai dengan gadis itu. Setelah merasa aman, Yusuf menerobos masuk dan menggendong gadis itu keluar, tentu saja sebelumnya Yusuf sudah menghapus jejaknya agar tidak ketahuan. Tidak mungkin di bawa ke rumahnya, akhirnya Yusuf membawa gadis itu kerumah Senior O.
Senior O sangat kaget melihat kondisi kaki dan tangan gadis itu yang penuh luka cambukan. Karena stok obat di rumah habis, Senior O meminta Yusuf untuk menjaganya sebentar sampai ia kembali membeli obat.
__ADS_1
"Kenapa kakak kembali? Aku bilang, saat ini jangan pedulikan aku, aku sudah menerima syaratnya, kok. Aku akan berusaha, tenang saja," racau gadis itu.
"Mata Biru, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa mereka menyiksamu seperti ini?" tanya Yusuf.
"Aku hanya menolak misi yang mereka berikan. Jadi, aku di hukum, ini juga tidak seberapa kok dari pada sebelumnya," gadis itu senyum dengan terpaksa.
"Maaf, tasbih ini jadi kotor dengan darahku," lanjutnya dengan memberikan tasbih itu kepada Yusuf lagi.
"Aku akan membersihkannya nanti. Atau aku bisa membelikan yang baru untukmu," jawab Yusuf.
Tapi gadis itu menolak, ia akan membersihkan sendiri dan tidak ingin yang baru. Gara-gara menjaga gadis itu, Yusuf jadi tidak bekerja malam harinya. Sampai Senior O datang dan segera merawat luka gadis itu.
"Sudah malam, sebaiknya kamu pulang. Biar paman yang merawatnya di sini," Senior O mengkhawatirkan Yusuf.
"Beri kami waktu, Paman. Ada yang ingin aku bicarakan dengannya," pinta Yusuf.
Senior O meninggalkan mereka. Yusuf menannyakan hal yang lebih jauh lagi dengan gadis itu. Gadis itu akan menceritakan kisah hidupnya sedikit sebelum ia pergi lagi.
"Jadi, aku putri tunggal keluarga kakekku si ketua Geng Emas. Ibuku sangat cantik dan baik, dia tidak pernah terjun dalam dunia ini, tapi dia meninggal saat melahirkanku. Sampai pada waktunya kakekku ikut meninggal. aku di cap sebagai anak pembawa sial jika aku tidak menggantikan posisi kakekku. Aku sudah menolaknya, tapi aku belum cukup umur untuk menolaknya," ungkap gadis itu.
"Sejak usiaku enam tahun, aku sudah diajari cara memegang pistol, belati dan juga panah yang benar. Sampai di tahun empat lalu ayahku memiliki seorang putra dari ibu tiriku dan ingin merebut harta warisan kakekku,"
"Ibu tiri yang waktu itu kamu membalut lukaku. Masih ingat, 'kan?" imbuhnya.
"Lalu, kenapa kau tidak melawan saat kamu di siksa tadi? Kau bahkan mengakhiri kehidupan 12 orang, da melakukan kejahatan lainnya. Kenapa kau tidak melawan?"
Gadis itu kaget ketika Yusuf mengetahui semuanya.
"Kau menyelidiki latar belakangku?" tanya gadis itu.
"Iya!"
"Kau tau semuanya?" tanya gadis itu lagi.
"Hanya itu," jawab Yusuf.
"Oke, aku ingin istirahat. Tapi, apakah aku bisa bertaubat dan mengikuti agamamu? aku sudah tertarik dengan agamamu sejak aku sekolah di Jogja," tanya gadis itu.
Yusuf mengangguk. Ia sudah tahu sebagian kisah hidup gadis itu. Ia tidak ingin tahu lebih dalam lagi. Akhirnya Yusuf memutuskan untuk pulang dan akan kembali esok hari sebelum dirinya berangkat kuliah.
Ketika hendak memejamkan mata, Yusuf malah menerima kabar dari Senior O jika gadis itu melarikan diri dan meninggalkan surat untuknya. Surat itu bertuliskan, jika dirinya ingin Yusuf menunggu sampai dirinya kembali dengan keadaan yang Yusuf inginkan. Ia juga meminta Yusuf untuk tidak mencari tahu tentangnya lagi.
Itu pertemuan singkat Yusuf dengan gadis itu sampai tujuh tahun ke depan. Yusuf menjadi sedikit lega jika memang gadis itu berniat hijrah.
__ADS_1
"Allah pasti menjagamu di sana, kau mendoakan yang terbaik untukmu, Mata Biru."