Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 392


__ADS_3

Hamdan pulang sangat malam sekali, ia melihat Yusuf tertidur di sofa dan memegang liontin milik gadis bermata biru itu. Hamdan pun mendekati dan ingin melihat liontin apa itu. Namun, ketika Hamdan hendak meraih liontin itu, bel rumah berbunyi. Tentu saja Aminah yang datang.


"Assalamu'alaikum, Yusuf mana?" salam Aminah ketika Hamdan membuka pintunya.


"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh. Dia tertidur di sofa. Aku ingin membangunkannya, tapi aku gagal fokus karena dia menggenggam sebuah liontin, mau lihat?" jawab Hamdan dengan berbisik.


Mereka sangat berisik hanya karena ingin melihat liontin itu. Karena mereka terus saling menebak dan berbeda pendapat, akhirnya sampai membangunkan Yusuf yang saat itu terlelap dalam tidurnya.


"Kalian ngapain?" tanya Yusuf dengan suara berat karena bangun tidur. Namun, tidak menggerakkan tangannya, dan liontin itu masih ngegantung di tangannya.


"Oh, itu.. anu, itu... aku hanya ikuti Aminah saja. Kamu cari apa sampai menunduk begini?" tanya Kabir alasan.


"Heh, kenapa jadi aku?" elak Aminah.


"Ck, kalian pasti mau kepo tentang liontin ini, 'kan?" tebak Yusuf bangun dari sofa dan duduk dengan mendongakkan kepalanya.


Aminah dan Hamdan grusa-grusu mendekat ke Yusuf ingin tahu tentang liontin itu. Bahkan, mereka juga sampai mendengus-dengus di bahu Yusuf seperti anak kecil yang hendak minta jatah permen.


"Jangan dekat-dekat, dong!" ucap Yusuf merentangkan tangannya.


"Oh, oke!" jawab Hamdan.


"Sebenarnya, liontin ini... huaam, alhamdulillah, aku mau sambung tidur dulu ya, assalamu'alaikum... tata...." Yusuf pura-pura menguap dan langsung masuk ke kamarnya.


Aminah masih saja curiga dengan liontin itu, karena ia baru mengetahui jika liontin itu ada inisialnya. Itu membuat Hamdan menjadi ketularan Aminah yang suka menduga-duga.


"Berarti liontin itu bukan milik cewek yang tadi, terus siapa ya? Hish, aku tidak bisa dibuat penasaran begini!" gerutu Aminah.


"Cewek tadi? Cewek yang mana? Cewek siapa?" tanya Hamdan semakin pemasaran.


"Dia teman barunya si Yusuf. Katanya, namanya Emi (Mie)," jawab Aminah.


"Emi, namanya kek Jawa banget. Emang ada ya cewek Korea namanya Emi?" tanya Hamdan semakin jauh dari kata Eun Mi.


"Bukan Emi, tapi Emi (mie). Aku juga kurang dengar, keknya emang Emi deh," jelas Aminah.


"Mbuh-lah! Aku malah bingung ik, biarkan saja. Jikapun dia pacaran, dia yang tanggung dosanya, kok. Udah gede juga, 'kan? Dah sana kamu pulang, aku mau istirahat bobok ganteng," ucap Hamdan tak mau tau.

__ADS_1


Niat Aminah ingin curhat pun tertunda, ia kembali ke rumah Kabir. Langsung masuk ke kamar dan tarik selimut. Sementara di kamar, Yusuf masih belum bisa memejamkan mata karena masih pusing karena terbangun tiba-tiba.


Suara nada dering berbunyi dari ponsel Yusuf. Nomor dari Singapura, namun Yusuf tidak tahu itu siapa. Sekali panggilan Yusuf biarkan, tak selama berapa lama, nomor itu kembali memanggil.


"Hallo, Kakak. Ini aku, tolong jangan jawab aku ya... aku hanya ingin bicara hal yang penting, ini penting. Aku tahu kamu sekarang di mana, aku mengawasimu dari sini. Aku baik-baik saja, tapi tolong tunggulah aku lima sampai tujuh tahun lagi akan kembali kepadamu. Tolong, jaga liontin itu. Aku masih berusaha untuk hidup di sini. Jangan mencariku, doakan aku agar aku selalu baik-baik saja, ya. Terima kasih."


Telponnya terputus, Yusuf hanya diam terpaku saat gadis itu menelponya. Bahkan, ia sampai tak bisa menyela pembicaraan gadis itu karena merasa nyaman. Sayangnya, ketika Yusuf mencoba menelpon kembali, nomor itu sudah tidak aktif.


"Apa, sih, maksudnya?" gumam Yusuf.


Pesan masuk dari Clara, ia meminta Yusuf untuk membuka emailnya. Data gadis itu tidak bisa di cari, yang bisa Clara ketahui hanyalah gadis itu cucu dari Geng Naga Emas yang sangat terkenal diantara Negara Australia dan Singapura.


"Allahumma Sholli'ala Sayyidina Muhammad, aku hidup di jaman apa ini? Apakah aku hidup di kisah novel? Mafia? Kenapa aku harus berurusan dengan pekerjaan haram itu?" gerutu Yusuf.


Langsung Yusuf meraih laptopnya, ia mencari informasi tentang Mafia. Karena yang selama ini ia ketahui.. jika Mafia adalah kelompok atau geng kejahatan saja.


"Apa ini? Kenapa dunia seperti ini? Asli, siapa sebenarnya gadis ini? Kenapa Tante Clara nggak bisa dapatkan informasinya? Apakah semua geng beginian pada di umpetin identitas aslinya? Apakah itu alasan gadis ini menyimpan barang berharganya kepadaku? Wah, aku harus lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT,"


Yusuf tak hentinya bersholawat sampai ia tertidur. Sejak mengetahui latar belakang gadis itu, Yusuf jadi lebih suka membaca novel tentang Mafia. Padahal sebelumnya ia suka baca komik. Tentu saja agama adalah yang utama bagi Yusuf, meski sedang dilanda kebingungan, Yusuf tidak pernah meninggalkan kewajibannya sebagai umat muslim dengan sholat, dzikir, melantunkan ayat suci Al-Qur'an dan juga bersedekah.


_--_--_


"Buku apa yang kau baca?" tanya Hae Jun.


"Hey, Hae Jun. Apakah kau tidak mengenali temanmu ini? Dia tengah menggemari kisah Mafia sekarang, entah mengapa dia tertarik dengan dunia hitam seperti itu," sahut Eun Mi.


"Diamlah!"


"Aku sedang ada penilitian," alasan Yusuf.


Ya, semenjak Yusuf, Aminah dan Hamdan berbeda jurusan, mereka jadi jarang bersama lagi. Yusuf lebih sering menghabiskan waktu dengan Hae Jun dan Eun Mi teman barunya.


"Kau masuk di jurusan Teknologi Pangan. Untuk apa kisah Mafia itu?" tanya Hae Jun.


"Sudah kubilang, bukan? Aku sedang melakukan penyelidikan," jawab Yusuf.


Terdengar suara adzan dari ponsel Yusuf. Hae Jun dan Eun Mi mengganti pekerjaan Yusuf agar ia bisa sholat lebih dulu. Begitulah cara mereka bersahabat. Saling menghormati kepercayaannya masing-masing. Meski Hae Jun dan Eun Mi seorang agnostik.

__ADS_1


Diwaktu lain, Aminah juga tengah melakukan sholat ashar waktu setempat di ruang kosong sebelah ruang olahraga. Melintas-lah Lee Jeong Tae, ia terpesona ketika melihat Aminah memakai mukena dan sholat di ruangan yang tidak pernah terpakai itu.


Selama hampir enam menit Jeong Tae menunggu Aminah sampai dirinya selesai sholat. Ketika Aminah keluarga, tiba-tiba Jeong Tae memberinya jus dengan senyuman.


"Untukku?" tanya Aminah.


Jeong Tae mengangguk. Sudah selama sebulan mereka tidak pernah bertemu setelah pertemuannya di halte bus. Jeong Tae mengajak Aminah untuk keliling kampus dan mengajaknya jalan-jalan ke kota.


"Malam ini ada festival, di sana ada opera juga. Apa kau mau menonton denganku?" ajak Jeong Tae.


Karena merasa bosan di rumah terus, Aminah mengiyakan ajakan Jeong Tae untuk pergi ke festival. Sembari berjalan di area kampus, Jeong Tae juga banyak bertanya tentang Aminah. Kesukaan dan yang tidak Aminah sukai juga dipertanyakan oleh Jeong Tae.


"Apakah.. kau pernah jatuh cinta?" tanya Jeong Tae tiba-tiba.


"Em, pernah. Dan itu masih aku rasakan sampai sekarang," jawab Aminah polos.


Kekecewaan nampak terlukis di wajah Jeong Tae. Aminah menceritakan tentang siapa lelaki yang saat ini ia cintai, namun hanya memiliki hubungan yang belum kuat.


"Apa pekerjaannya?" tanya Jeong Tae.


"Dia pembisnis, dia manis, baik hati dan penyabar. Itu yang aku suka darinya," jawab Aminah.


"Apa dia tau bagaimana perasaanmu kepadanya?" tanya Jeong Tae lagi.


"Kami saling mengungkapkan perasaan kami di Namsan Tower, lalu mengikat janji kami di gembok cinta. Haha, aku tau itu sedikit kekanak-kanakan, itu yang dia ucapkan, tapi aku suka itu," jelas Aminah dengan bangga.


"Sial, bahkan mereka pernah ke tower Namsan itu. Kenapa juga wanita yang berilmu selalu ada orang yang memiliki?" batin Jeong Tae.


Lee Jeong Tae menawarkan diri untuk mengantar Aminah sampai di depan gedung tempat tinggalnya. Namun Aminah menolak, Jeong Tae terus mendesak dengan alasan bagaimana ia akan menjemput Aminah jika tidak mengetahui rumahnya.


"Baiklah, kamu boleh mengantarku!" seru Aminah. Ia tidak perlu khawatir karena dirinya menguasai ilmu bela diri.


Sejak kecil, keluarga besar Ruchan memang di latih ilmu bela diri untuk membantu orang maupun membela diri dari kejahatan.


"Bolehkan, aku memanggilmu, Minah? Itu terdengar gampang saat aku memanggilmu," izin Jeong Tae.


"Boleh, aku akan memanggilmu Senior, hehe. Ayo pulang?"

__ADS_1


Mereka akhirnya pulang bersama. Aminah tidak akan ragu menjalin pertemanan, sesuai dengan anjuran Airy. Aminah harus waspada di batin dan welcome di lahir. Agar tidak terkesan gampang dibodohi oleh orang ketika berada di luar negri. Selalu menyimpan nomor keluarga di kontak nomor atas. Dengan tengilnya Aminah juga langsung mempratikkan ilmu bahasa Koreanya.


__ADS_2