Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 359


__ADS_3

"Kita berasa jahat nggak, sih, Kak? Hatiku kenapa sakit ya, saat melihat Ibunya Bang Raditya nangis begitu?" tanya Aminah. "Tapi aku lega, perjodohan itu batal. Aku merasa bahagia bisa bebas dengan masa depanku, tapi aku juga takut, kutukan Ibunya Bang...."


"Stt, Na'udzubillah himindzalik. Semua akan baik-baik saja, kita serahkan semuanya kepada Allah, oke? Yang penting, kamu bebas dari perjodohan itu," ucap Laila.


"Hatiku terasa sakit saja...." belum juga Aminah meneruskan omongannya. Raditya tiba-tiba datang dengan mengerem mobilnya hingga bunyi berdebat di bannya.


Kelihatan, jelas sekali jika Raditya sangat panik, ia mendengar Laila dan Aminah ke rumahnya dari Leah. Leah ternyata tidak tahu kalau Aminah menyembunyikan kunjungannya ke rumah Raditya.


"Kamu ngapain ke sini? Kamu nggak papa, 'kan? Ahh, pengen peluk tapi belum mahram, pengen genggam tangan juga biar akunya nggak sepanik ini, tapi kamu nggak papa, 'kan?" Raditya sangat gelisah.


"Haha, aku strong women. Jadi, jangan khawatirkan aku, kalau mau peluk, peluk saja tiang itu. Anggap saja itu diriku," ucap Aminah semangat.


Ibunya tiba-tiba keluar langsung melayangkan telapak tangannya ke pipi Raditya dengan sangat keras hingga membekas cap tangan.


"Astaghfirullah hal'adzim!" teriak Aminah dan Laila kaget.


"Halimah!" teriak Ayahnya Raditya.


Bukannya menghindar, Raditya malah pasrah ketika Ibunya memukulinya menggunakan gantungan baju. Sama seperti waktu ia kecil sering dipukul seperti itu. Raditya juga meminta semuanya, baik Aminah maupun Ayahnya untuk tidak menghentikan aksi Ibunya. Lalu, Ibunya pun pingsan, kemudian dibawa masuk lagi oleh Rasid.


"Bang Dit?"


Terlihat air mata Aminah berlinang. Namun, Raditya membalas dengan senyuman. Ibunya baru saja mengatakan jika perjodohan Rasid di gagalkan oleh Laila dan Ayahnya. Dan Raditya berterima kasih atas itu.


"Alhamdulillah, Wasyukurillah. Aku bahagia karena perjodohan ini batal. Tapi, aku juga sedih karena kalian berdua melihatku dalam keadaan seperti ini. Tolong, bisakah kalian pulang dulu? Aku akan selesaikan masalahku sendiri," tutur Raditya dengan lembut, meringis menahan perih di punggung dan tangannya.


Aminah dan Laila pamit sekali lagi, mereka pulang dengan bibir tertutup tanpa sepatah katapun yang keluar dari mulut mereka. Ketika di jalan pulang, Aminah mendapat pesan dari Rasid.


[Kamu baik-baik saja?]

__ADS_1


Akan tetapi, Aminah mengabaikan pesan itu. Kembali Rasid mengirim pesan.


[Tolong, kali ini balaslah pesanku. Aku khawatir dengan dirimu!]


Itu sama saja tidak merubah perasaan Aminah. Ia sama sekali tidak membukanya kali ini. Perasaannya sedang kacau, sedih, bahagia, gelisah dan bingung menjadi satu. Mungkin, karena tidak direspon dengan pesan, Rasid menelpon Aminah yang saat itu masih di dalam taksi.


"Apa lagi?" tanya Aminah sedikit kesal.


"Kamu marah sama aku? Kok, nada bicaranya begitu?" tanya Rasid kembali.


"Aku nggak papa, nggak usah berlebihan, deh. Lebih baik, kita tidak lagi berhubungan seperti ini, aku tidak ingin ada salah paham antara aku dan Bang Raditya. Assallamu'alaikum." Aminah memtuskan telponnya.


Aminah percaya dengan takdir allah, ia menghela nafas panjang, kemudian beristighfar dan terus menyebut nama Sang Pencipta. Berharap jika dirinya tak lagi memikirkan perjodohan itu, lalu melanjutkan hidup layaknya remaja lainnya.


"Bisa-bisa aku cepet tua kalau begini. Lupakan semua ini, dan main dengan ketiga keponakanku yang comel-comel," racau Aminah mengencangkan pipi wajahnya.


"Anda memang lebih pengalaman soal menunggu cinta. Haha, matus nuwun suhu…." lawak Aminah.


Tak ada yang perlu dibahas lagi, Aminah akan fokus dengan pendidikannya dan segera terbang ke Singapura. Kisah Laila dan Raihan yang terpisah selama tiga tahun sangat menginspirasinya. Bukan hanya kisah mereka, ada pula kisah Aisyah yang dulu terpisah dengan Rifky selama hampir sembilan bulan, akhirnya bisa bersatu kembali. Jodoh, maut dan rezeki telah Allah yang mengatur dan menentukan, manusia hanya bisa berencana dan berusaha.


-------------------------------------oOo-------------------------------


Dua bulan berlalu, hubungan Raditya dan Aminah masih berjalan seperti biasa. Mereka berdua saling berkomunikasi dan bertemu ketika saling memiliki kepentingan saja. Raditya juga masih tinggal se rumah dengan Yusuf dan saudara yang lainnya, karena Ibunya masih saja keras kepala tidak merestui hubungan mereka.


Bagi Raditya dan Aminah, restu dari orang tua itu sangatlah penting, sambil menunggu Aminah lulus sekolah, mereka juga masih berusaha meluluhkan hati Ibunya. Bukan berarti mereka menyerah begitu saja, lebih mengesalkan lagi, Rasid, Kakak dari Raditya juga masih saja berusaha mengejar cinta Aminah.


Tentu saja bagi aminah, Raditya lah yang pantas diperjuangkan. Mengetahui kisah Nadia, cinta pertama dari Raditya juga direbut oleh Rasid, Aminah yakin jika Rasid itu tak sebaik dan tak semulia Raditya.


Beralih ke kisah Yusuf di sekolahnya. Hubungannya persahabatannya dengan Fatur dan Cindy juga semkin dekat. Kini, Falih kembali ke Jepang karena Mawar, sang adik sedang sakit dan dia harus ikut menemaninya karena Fatim dan Akbar sedang perjalan bisnis ke luar Kota. Sementara Hamdan, ia masih betah sekolah di sekolah lamanya, karena ia tak diperbolehkan pindah sekolah oleh Gu.

__ADS_1


_-_-_


Matahari begitu terik siang itu, ada kegiatan sekolah sebelum tes semester di sekolah Yusuf. Lomba antar kelas juga di adakan selama seminggu. Kebetulan siang itu, ada pertandingan basket untuk para siswi. Cindy ikut serta dalam lomba itu. fatur dan Yusuf menyaksikan pertandingan itu, karena Cindy dan team-nya mewakili kelasnya.


"Haha, mereka ini seperti ikan Lele ya… diberi satu bola saja, langsung kumpul di satu tempat!" seru Fatur sambil menyedot es teh manis di kantong plastik.


"Kamu juga begitu, 'kan? Kemarin tidak ingat, kah? Saat badminton, si Candra siswa dari kelas tetangga ju…." ungkapan Yusuf terpotong.


"Hush! Jangan bongkar aib, dong. Kamu kan temenku, bukan temen si sok ganteng Candra itu," potong Fatur, bicara dengan bibir manyunnya.


Ketika melihat lomba itu, tak sengaja Yusuf melihat jika ada noda merah di bagian belakang Cindy. Bukan sok tahu atau bagaimana, Yusuf langsung menebak jika itu adalah noda darah menstruasinya. Yusuf mulai tak nyaman dengan siswi dan siswa lain yang sepertinya membicarakan dan menertawakan teman wanitanya itu. Yusuf berjalan mendekati juri, ia meminta juri untuk menghentikan pertandingannya sebentar.


"Haha, cantik, sih. Tapi sayang, jorok!"


"Iyuh, jijik banget. Mana darahnya pekat banget lagi!"


"Kalau aku jadi dia, pasti malu dan tidak mau sekolah lagi,"


"Wuih, penasaran cara memakai pembalutnya…."


Desisan lain juga banyak dilontarkan oleh siswa siswi di sana. Cindy yang bingung malah semakin bingung. Sampai akhirnya Jihan sadar, jika anak-anak menertawakannya karena noda darah di paantat Cindy. Ketika ia hendak mendekati Cindy, Yusuf sudah lebih dulu mendekati Cindy dan melepas jaketnya, diikatkan melingkar ke pinggul Cindy.


"Uh, so sweet. Kenapa mesti dia, sih? Aku juga mau…." kata salah satu peserta lomba.


"Ada apa?" tanya Cindy masih bingung.


"Kamu ikut aku dulu, ada hal yang harus kamu ketahui," jawab Yusuf dengan senyuman ramahnya.


Bukan karena perasaan suka atau cinta, Yusuf melakukan itu karena memang itu bukanlah hal yang perlu ditertawakan. Sambil berjalan dan menarik lengan jaket yang diikatkan di pinggang Cindy. Yusuf terlihat begitu bersinar di sekolahnya, hingga membuat Candra semakin membencinya. Betapa GR nya Cindy, hahaha.

__ADS_1


__ADS_2