
Sampai di rumah Adam.
"Raka, kamu kenapa, sih? Sejak kemarin, kamu memandangku seperti itu! Kamu tahu 'kan, aku sudah bersuami, dan aku risih kamu pandang seperti itu!" tegas Airy.
"Aku, Aku masih mencintaimu, Airy." ucap Raka.
"Cinta?"
"Kita ini udah dewasa, Ka! Buat apa bahas cinta, lebih baik, kamu tatap masa depan, banyak gadis di luar sana yang masih single, lebih berhak juga atas cintamu!" tutur Airy dengan nada halus.
"Tapi, hati ini berkata, kalau aku hanya bisa mencintaimu, Airy. Bagaimana?" batin Raka.
Raka dan Rindi sedang asyik bersama Rafa dan Ustadzah Ifa. Sementara, Maureen dan Airy sedang berbicara di teras, ada hal yang selalu ingin Maureen bahas dengan Airy. Kebetulan, hari itu waktu yang tepat untuk berbicara dengannya.
"Airy," lirih Maureen.
"Iya, ada apa?" jawab Airy.
__ADS_1
"Raka, masih memikirkanmu? Aku... "
"Aku, biasa saja." potong Airy.
"Apakah, aku harus lebih berusaha, lagi? Agar, Raka bisa melirikku?" tanya Maureen.
"Apakah kau rela menjadi budak cinta atas nama ketulusan. Sementara kau kewalahan merapikan kepingan hatimu sendiri yang hancur berantakan?" tanya Airy.
Maureen hanya terdiam.
"Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk membahagiakan diri sendiri. Dan bukankah kamu tahu bahwa cinta tak harus memiliki?" sambung Airy.
"Buat apa? Kamu masih muda, perjuangkan cita-citamu dulu. Jika, kalian berjodoh, nanti juga pasti akan bertemu. Iya, 'kan?" ucap Airy sambil menyentuh bahu Maureen.
Ucapan Airy juga di dengar oleh, Raka. Benar. Cinta itu tidak memiliki. Jika seseorang berniat merusak hubungan orang lain, dia bukan memperjuangkan cintanya. Melainkan egonya sendiri. Jika orang itu tak berjodoh, maka berhentilah mencintainya, walaupun sulit untuk di lakukan.
Sejak saat itu, Maureen, Raka dan Airy saling menjauh. Setiap mereka bertemu, hanya ada sapa dan senyum saja. Tak lagi seperti dulu. Itu yang memang seharusnya terjadi. Begitu juga dengan Airy dan Vando, mereka juga bertemu seperlunya saja. Airy, menyadari jika dirinya bukan lagi, wanita bebas seperti tahun lalu.
__ADS_1
Sembilan bulan berlalu, Airy dan Adam memutuskan untuk pergi keluar negri. Karena, baru saja mendapat kabar, bahwa Sari sudah akan melahirkan. Kini, Maureen, Raka dan Airy lost kontak. Rindi pun juga kuliah di luar negri, menyusul ibunya di sana.
"Aku nggak tega ninggalin, Rafa. Kenapa juga kita harus nungguin Sari lahiran, Mas? Sudah cukup dia buat kita menderita, cobaan apa lagi ini?" keluh Airy.
"Jika kamu merasa bebanmu lebih berat daripada yang lain, itu karena Allah melihatmu lebih kuat daripada yang lain." ucap Adam.
"Aku kuat, kok. Baiklah. Tapi, setelah ini kita langsung pulang, ya? Waktu aku bersama dengan Rafa kan nggak banyak. Aku harus nerusin keluar negri juga kan kuliahnya?" sahut Airy dengan mulut di manyunkan.
Sampai di negri Jiran, mereka langsung menuju ke rumah sakit yang sudah Hafiz kirimkan, alamat nya. Setelah bertemu di sana, terlihat Hafiz sedang duduk menunggu di depan ruang operasi.
"Assalamu'alaikum, Kak Ale? Bagaimana keadaan, Sari?" nampak ke khawatiran di wajah Airy.
"Wa'alaikumsalam, masih di dalam, Ry. Dam." jawab Hafiz.
Dokter keluar, memanggil salah satu dari mereka. Akhirnya, Airy lah yang masuk memenuhi panggilan, Dokter. Entah apa yang terjadi dengan, Sari. Banyak selang dan peralatan rumah sakit di tubuhnya.
"Airy," panggil Sari lirih.
__ADS_1