Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 207


__ADS_3

“Besok aku harus sudah mulai kerja,” ucap Adam.


“Lah? Ngapain kerja? Di rumah sajalah, lagian, Mas kan masih harus istirahat.” Ujar Airy.


“Kan aku masih terikat kontrak. Ya nggak boleh berhenti begitu saja, dong. Itu namanya tidak bertanggung jawab,” jelas Adam.


“Lagian jika terus di rumah seperti ini, aku bosan. Lebih baik ke kantor ketemu setiap saat dengan istriku, ini.” Imbuhnya.


Dengan lembut, Adam membelai wajah Airy. Ia pun mengangkat sedikit kepala istrinya itu. Memejamkan mata, kemudian meniup ubun-ubun Airy beserta doa. Di kecupnya kening Airy. Kecupan itu turun hingga ke bibir mungil Airy. Cumbuan yang awalnya biasa saja, kini semakin memanas. Perlahan, tubuh Airy di rebahkan, kaki Adam pun menarik selimut dan menutupi tubuh mereka berdua.


“Aity, bolehkah? Apa kita harus ijab qobul lagi dulu?” bisik Adam.


“Mengapa harus ijab qobul lagi? Mas Adam memang hilang ingatan, tapi kita hanya berpisah selama 4 bulan saja,” jawab Airy.


Adam kembali mencumbu istrinya yang bawel itu. Malam yang syahdu itu pun berlalu dengan indah. Pasangan saling mencintai itu, kini bisa bersatu lagi setelah empat bulan di pisahkan oleh musibah.


Sebelum subuh, Adam dan Airy mandi besar terlebih dahulu. Kemudian mereka pun turun kebawah untuk menunaikan sholat subuh berjama’ah. Semua orang sudah menunggunya di mushola rumah itu.


Sholat subuh………

__ADS_1


Usai sholat, Airy dan Adam menghampiri Rafa ke kamar Raihan. Ternyata Rafa masih tidur dengan lelap. Mereka pun melanjutkan aktivitasnya masing-masing.


Ketika sarapan…


“Kamu yakin sudah kuat bekerja, Dam?” tanya Hafiz.


“InsyaAllah kuat, Mas. Lagian aku nggak mungkin meninggalkan pekerjaan begitu saja.” Jawab Adam.


“Ya udah, manti kita berangkat sama-sama.” Sahut Raihan.


“Kalian bertiga saja. Hari ini aku ada tugas kampus dengan, Doni. Kak Ale nggak ada acara, ‘kan? Nitip jagain Rafa, ya?” pinta Airy.


“Beres deh.” Jawab Hafiz.


Bahkan Adam pun tidak keberatan, karena ia tahu kalau istrinya tidak mungkin akan macam-macam bersama Doni. Sementara Raihan, Raditya dan Adam berangkat bersama, Airy dan Doni juga segera ke kampus dengan mengendarai si pepi.


“Cepet dikit dong, Don! Kita telat ini.” Teriak Airy.


“Sabar, Bray. Jakarta kan memang terkenal macet. Kalau nggak mau macet-macetan, besok kita berangkat ba’da subuh. Mau?” Doni pun kesal karena Airy terus berteriak kepadanya.

__ADS_1


“Pala kau. Kenapa nggak ba’da isyak sekalian.” Ucap Airy.


“Sekalian bawa selimut sama bantal!” seru Doni.


Setelah macet-macetan, akhirnya mereka pun sampai ke kampus. Airy segera memberikan tugas-tugas yang sudah ia kerjakan. Ia juga banyak memiliki teman di sana, termasuk  Laila. Laila adalah gadis yang sama dengan gadis tempo hari yang menabrak Raihan dan Raditya.


“Dah selesai, Lu?” tanya Laila.


“Udah nih. Kamu pulang kapan dari rumah, kakekmu?” tanya Airy kembali.


“Kemarin,” jawab Laila santai.


“Oh iya, cariin atau kasih gue kerjaaan, dong. Ngurus anak lu misal.” Pinta Laila.


“Kamu anak orang berada juga, ‘kan? Buat apa kerja?” tanya Airy menyerutup teh nya.


“Tolong gue lah, ya? Ngurus anak lu aja gue mau dah,” desak Laila.


“Ya udah, besok ke rumahku. Alamat aku chat nanti, ya. Aku harus ngantor soalnya, Assallamu’alaikum.” Pamit Airy.

__ADS_1


"Wa’alaikum sallam sister! Enak bener dah kalau punya temen baik kek Airy.”


Laila tidak tahu jika Raihan dan Airy saudara kembar. Ketika di jalan, tidak sengaja Raihan bertemu dengan Laila lagi. Yang mereka ributkan kali ini, yakni kue putu di pinggir jalan. Bagaimana kisah selanjutnya?


__ADS_2