
Di tempat lain, Hafiz telah menemukan siapa dibalik matinya usaha Adam. Sari! Dialah dalang dari semua itu. Mendengar cerita tentang Sari, Hafiz menjadi naik pitam. Rindi juga banyak menceritakan hal yang tidak enak tentang Sari kepada Hafiz.
"Aku akan kerumah Sari, kenapa dia bisa seperti itu!!" pekik Hafiz.
"Aku sarankan, jika Mas Hafiz ingin melabrak Mbak Sari, Mas Hafiz harus ada bukti jelas. Dia pintar banget buat mem bolak-balikan fakta Mas." Saran Rindi.
"Hem, sepertinya kau tau betul dengan semua yang terjadi. Ada apa?" Hafiz sudah mulai curiga.
"Mas Hafiz jangan munafik, Mas tau betul kan aku mencintai adikmu itu. Jangan bahas ini lagi, aku hanya ingin menyarankan kepadamu, jangan terlalu gegabah menghadapi wanita ular itu. Assalamu'alaikum." Tukas Rindi.
"Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarokatuh," jawab Hafiz lirih.
Suasana hati Hafiz menjadi sedikit lega karena ternyata Rindi mampu merelakan cinta pertamanya untuk Airy. Namun, ia sendiri masih mengharap dengan Airy, meskipun ia sadar, jika hal itu tidak mungkin terjadi.
"Andai saja. Andai saja, Adam, Adam." Gumam Hafiz.
Di Jogja,
Adam dan Rifky masih saja ribut membahas Airy. Hingga tanpa mereka sadari, bahwa Yusuf sudah berada di belakang mereka.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum," salam Yusuf.
"Lagi bahas apa? Aku udah salam sampai tiga kali loh, nggak ada yang jawab." Sambungnya.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Eh Yusuf sudah pulang, ayo nak masuk. Kita makan siang yuk, Papa tadi beli bakso loh." Nada bicara Rifky sudah berubah begitu saja.
Rifky memberi tanda agar menyusul Airy ke kamar, dan meminta penjelasan soal CCTV itu.
"Assalamu'alaikum," salam Adam membuka pintu kamar.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Airy.
"Kok cemberut? Ada apa dengan bidadariku ini?" Goda Adam.
Adam memeluk tubuh Airy dengan mesra, ia juga mengucapkan beribu kata maaf kepada istrinya itu dengan sangat lembut. Berharap ia mengetahui apa alasan Airy melepas CCTV garasi.
"Mau tanya tentang CCTV kan? Nggak akan aku jawab, aku lelah. Mau bobok dulu, Mas Adam makan siang sama Papa dan Yusuf saja sana, aku masih ngambek sama Mas." Seru Airy.
"Udah sana!" Usir Airy.
__ADS_1
"Astaghfirullah, Mas diusir ini?" tanya Adam.
Airy hanya diam saja. Kemudian, ia menutupi seluruh tubuhnya menggunakan selimut. Karena tidak ingin merusak suasana hati Airy lebih dalam, Adam pun keluar dan bergabung dengan Rifky dan Yusuf di dapur.
"Gimana?" tanya Rifky.
"Nihil Pa." Jawab Adam.
"CCTV murah itu, kenapa juga di lepas sih!" Seru Rifky.
"Bawaan bayi mungkin, sudahlah Pa. Kita jangan ganggu susana hati Airy lagi. Takutnya malah bisa berdampak buruk dengan janinnya." Jelas Adam.
Malam setelah sholat isya', Airy mendapat telfon dari Hafiz. Jika semua kekacauan itu terjadi karena ulah Sari. Mendengar hal itu, ia pun sangat kesal. Namun, kedekatan Airy dan Hafiz ini akan membuat timbulnya rada cemburu di hati Adam kedepannya.
"Iya kah? Awas aja dia, aku akan beri pelajaran suatu saat nanti. Kenapa nggak kapok juga sih tuh nyawa satu!" kesal Airy tak tertahan.
"Aku juga nggak tau Ry. Dia dulu tidak begini, kamu jangan khawatir, aku akan tangani semuanya disini. Oh iya, uang yang kamu transfer sudah masuk ya, besok aku akan beli bibit lele nya seperti yang kamu mau." jawab Hafiz.
"Siap, pokoknya nanti kabari lagi ya Kak. Kirim bukti pembeliannya segera." Ucap Airy.
__ADS_1
Hanya kata 'kirim bukti pembeliannya segera' yang Adam dengar. Ia tidak ingin bertanya dengan siapa istrinya itu menelfon. Namun, hati Adam sudah mulai resah, karena suaranya terdengar suara laki-laki.
Ujian hati di mulai......