
"Kalian jahat bener, itu mendinglah dari pada si Mayshita!" dendam Aminah. "Malah belum lama ini," imbuhnya dengan tatapan sinis.
"Min…."
Tentu saja Mayshita tidak ingin hal itu diketahui oleh saudara-saudaranya. KIsah konyol Mayshita saat berada di kantin sekolah beberapa waktu lalu. Ada seorang lelaki yang sifatnya sama dengan Mayshita, pendiam, tenang, cerdas dan kutu buku.
Cuaca dingin karena hujan memang cocok makan soto dengan kuah yang kental bagi pecinta soto seperti Mayshita dan lelaki itu. Aminah duduk menanti Mayshita datang membawakan sotonya, karena ia kebelet pipis, Aminah pergi tanpa memberitahukan Mayshita. Meja yang sudah ditandai oleh Aminah, dipakai duduk oleh lelaki duplikat Mayshita, ia juga minum teh botol yang sudah Aminah bukakan untuk Mayshita.
"Aku yang pakai sambal cabe, kamu sambal saos ya. Ini minumanku, 'kan?" tanya Mayshita tanpa melihat siapa yang ada di depannya.
Dasarnya lelaki pendiam, cowok itu hanya diam meminum teh yang sebelumnya memang milik Mayshita. Tanpa melihat juga, Mayshita menyeka pipi lelaki itu menggunakan tangannya. Karena mendengar bunyi air dari botol itu menciprat.
"May, ka-kamu nyentuh aku?" tanya cowok itu.
"Hah, Astaghfirullah. Kamu ngapain duduk di sini. Aminah mana?" Mayshita panik.
"Aku ada di sini," ucap Aminah berada di belakang Mayshita. "Heh, Izun, kamu ngapain duduk di situ? Minuman itu juga sudah di minum tadi olehnya," tunjuk Aminah.
"Wah, berarti kalian tak sengaja ciuman, dong. Cie, di tunggu kabar baiknya, ya...." sorak seorang siswa dari samping meja itu.
Intinya, di saat itu Mayshita mengeluarkan sifat aslinya dengan membuat cowok itu mengeluarkan darah dari hidung dan bibirnya. Karena cowok itu juga menghayal tengah ciuman dengan Mayshita.
"Dan Kakak-kakak perlu tahu, setelah kejadian itu... Mayshita dan cowok kuno itu sering ketemuan di perpustakaan, hahahaha," tawa Aminah membuat Raihan ingin sekali menyumpal mulutnya menggunakan tahu bakso di depannya.
Respon mereka berbeda ketika mendengar kisah Aminah yang hampir di sruduk kerbau. Adam dan yang lainnya turut menyesal apa yang di alami Mayshita waktu itu. Karena, Mayshita juga menjelaskan, pertemuan dengan cowok itu di perpustakaan hanya ingin meminta maf saja karena telah membuat cowok itu masuk klinik dan absen selama tiga hari.
"Lain kali, May harus lebih perhatikan lagi ya. Untung hanya itu, coba kalau Mau jatuh, terus ke tumpahan kuah sotonya?Kan jadi beda cerita. Sabar, sebentar lagi lulus, kok. Pasti mereka juga akan melupakan kejadian itu," ucap Gu mengusap bahu Mayshita.
"Makasih, oppa, Mas Adam, Bang Raihan. Kalian sudah mau menghiburku, tidak seperti Aminah yang terus mengejekku karena berkelahi dengan cowok," ungkap Mayshita.
__ADS_1
"Kalau begitu, Aminah harus menyusul Hamdan pergi cuci piring," usul Adam.
"Mas… nggak mau, ah!" tolak Aminah.
"Ok, kalau begitu, cerita Aminah kecil, kita publikasi ke teman-temannya juga. Bagaimana?" ancam Raihan dengan menahan tawanya.
"Jahat! Kalian semua bebek jahat, aku benci kalian!"
Tetap saja Aminah beranjak dari kursinya, menuju dapur membantu Hamdan cuci piring. Raihan merasa, tingkah Aminah ini sekilas mirip sekali dengan Airy saat kecil. Selalu membuat masalah yang diluar nalar.
_-_-_-_
Sore seperti biasa, Yusuf dan Hamdan mengajar mengaji. Tapi, mereka memberitahu orang tua muridnya untuk diundur baca maghrib mengajinya, karena mereka masih ada urusan dengan berkunjung ke toko buku untuk membeli komik kesukaannya.
"Gimana? Ibu-ibu sudah setuju kan untuk mengantar anaknya ba'da maghrib?" tanya Yusuf.
"Iya, mereka setuju banget. Soalnya, ngajinya di rumah kita, bukan di masjid. Yah, kita nggak sholat berjama'ah dong?" jawab Hamdan melenguh.
"Kita bukan malaikat. Kita juga masih remaja yang ingin menikmati masa remaja, jadi semua ini hukum alam. Bukan salah kita, ayo segera membayar komik ini," yang dikatakan Hamdan memang ada benarnya. Mereka bukan malaikat maupun ustad, melainkan anak remaja yang masih ingin menikmati masa remajanya.
Ketika hendak membayar komik 1 volume, tak sengaja seorang anak berusia sekitar 10 tahun menabrak Hamdan dan menjatuhkan semua bukunya. Gadis cilik itu berambut pirang, dan berkulit putih yang kemungkinan orang tuanya bukan orang Jawa. Buku gadis itu juga jatuh, terutama buku diary-nya.
"Ya Allah, dek. Adek manis, cantik, kenapa nabrak-nabrak, sih? Rem nya kasih pelumas dong biar makan!" ucap Hamdan.
"Hust, anak kecil di gituin. Nangis nanti, lagian sepertinya dia anak bule, kau tanyalah pakai bahasa Inggris," desis Yusuf.
"What the hell are you doing here? Where are your parents? It's not right for you to go out on your own! You could be kidnapped later, wouldn't you?" tanya Hamdan.
(Apa yang kamu lakukan di sini? Dimana orang tuamu? Tidak baik jika kamu keluar rumah sendirian! Bisa-bisa, kamu di culik nanti, mau?)
__ADS_1
"Hey, leh mu ngomong loh, Dan. Bocah cilik, loh. Mbok sik alus sitik!" tegur Yusuf.
(Hey, caramu ngomong loh, Dan. Anak kecil, loh. Mbok yang halus sitik!).
"You bought the book? Wanna pay first? Come stand in front of me," pinta Yusuf.
"Aku bisa bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. Terima kasih kakak mau mengalah untukku, dan terima kasih membantuku merapikan buku ini. Suatu saat nanti, aku akan membantu kakak juga, tunggu aku besar ya, Kak." ucap gadis cilik itu.
"Wooo, paijo, kampret!" Lagi-lagi Hamdan mengumpat.
"Astaghfirullah hal'adzim, Hamdan!" seru Yusuf dengan sabar.
"Manis sekali, lain kali kalau beli buku atau pergi jauh dari rumah, harus ada orang dewasa yang menemani ya. Takutnya ada hal yang tidak diinginkan, oke?" Yusuf menasihatinya. "Nih, Kakak ada buku bagus buat kamu, anggap saja hadiah dari Kakak. Ayo segera bayar dan pulang," lanjutnya.
Selesai membayar, gadis cilik itu melambaikan tangannya kepada Yusuf dengan senyum manis. Akan tetapi, berbeda sambutan dengan Hamdan, gadis itu hanya memberi juluran lidah dan mengepalkan tangannya.
"Dih, anak kurang ajar!" umpatnya.
"Jangan gitu ah, namanya juga anak-anak," bisik Hamdan.
"Aku sumpahin jodohmu anak-anak! Sok baik banget, sih. Dia pasti anak nakal tuh!" Hamdan masih saja kesal.
Selesai membeli komik, mereka meneruskan membeli beberapa camilan untuk anak muridnya nanti. Sebagai permintaan maaf dan jamuan karena mau datang ke rumahnya. Jajan pasar memang sangat menggoda, tapi mereka tidak ke pasar, mereka hanya jajan yang ada di penjual kue di dekat toko buku itu.
"Hamdan!"
Seseorang memanggil nama Hamdan. Seorang perempuan yang menurut Yusuf memang cantik. Tapi, Hamdan malah menarik jangan Yusuf dan mengajaknya berlari menjauh dari perempuan itu.
"Kenapa lari, sih?" tanya Yusuf dengan nafas terengah-engah.
__ADS_1
"Dia bendahara kelas. Kamu lupa? Si Eni, bendahara yang paling kejam. Males ketemu dia, mana aku masih punya hutang dua puluh ribu lagi," jawaban Hamdan membuat Yusuf tertawa.
Ternyata seorang Hamdan memiliki hutang kepada bendahara kelas dan sampai di kejar-kejar karena belum melunasi hutangnya. Hamdan sengaja berhutang karena waktu itu, ia dihukum oleh Airy tidak dibekali dan tidak di beri uang jajan. Akhirnya dia berhutang kepada bendahara kelas untuk jajan makan siang dan istirahat kedua.