Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 278


__ADS_3

"Laila, buka!" teriak Raihan sambil menggedor pintunya.


"Laila bobok cantik!" sahut Laila.


"Mercon! Buka cepat, atau tambah hafalan surah?" ancaman baru Raihan.


Laila membuka pintu dengan mulut yang bisa dikuncir sepuluh, ia lebih memilih membukakan pintu dari pada menambah hafalan, karena merasa belum mampu. Raihan menatap dengan tatapan yang dalam, mendekat dan terus mendekat.


"Mau, apa?" ucap Laila sinis dengan menahan tubuh Raihan yang sudah semakin dekat dengannya.


Raihan terus mendekat, Laila semakin mundur, mundur dan mundur terus sampai di sudut tembok samping almari pakaian. Dengan gugup, Laila terus mendorong tubuh Raihan yang semakin dekat dengannya.


Tiba-tiba, "Huhu mesum! Aku nggak mau, aku belum siap! Sana, jangan deket gini, aku nggak mau!" Laila menangis ketakutan.


"Maunya nggak, laki-laki, sebaik apapun itu akan menjadi buas jika ada wanita yang memancingnya," bisik Raihan.


"Itukan untuk lelaki di luar sana, kamu kan pandai beragama, nggak mungkin akan memaksa. Jangan-jangan kamu bukan suamiku, bukan Raihan. Pasti gendruwo yang menyamar seperti di film film kolor ijo. Iya, 'kan? Ngaku!"


Sebenarnya, Raihan ingin tertawa sekaligus kesal karena di samakan dengan gendruwo, tapi ia tetap menggoda istrinya. Seolah-olah ia akan memakan Laila sore itu juga.

__ADS_1


"Udah dong, nggak lucu!" jerit Laila mendorong tubuh Raihan lagi.


Laila pun menangis, kali ini Laila menangis beneran. Air matanya keluar, berkali-kali ia menutupi wajahnya dari Raihan. Tak tega, Raihan memeluknya, membuat nyaman dalam pelukannya.


"Stt, udah, dong!" Raihan mulai menenangkannya.


"Maaf, cuma a bercanda tadi," sambungnya.


"Jangan gitu lagi, aku nggak suka," Laila masih menangis, dia berpikir kehormatannya akan di renggut saat itu juga. Padahal Raihan hanyalah menggodanya.


"Iya, maaf. Lain kali nggak diulangi lagi, deh. Jangan nangis dong, kan cuma bercanda," Raihan masih menepuk-nepuk punggung Laila.


Raihan melepaskan pelukannya, kemudian juga mengusap air mata Laila dengan lembut. Ia terus minta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi lagi. Raihan tidak menyangka jika Laila yang biasanya aktif dan sering mengajaknya bertengkar bisa menangis seperti itu, cuman karena tidak ingin ia sentuh. Di samping bangga dengan istrinya yang mampu menjaga diri, ia sedih jika Laila akan terus ketakutan seperti itu.


"Abang, mau ajak aku jalan?" tanya Laila semangat.


Raihan mengangguk.


"Nggak mau!"

__ADS_1


"Nyogok itu namanya, tadi udah bikin nangis, sekarang tiba-tiba baik ngajak jalan. Nggak, ada!" tolak Laila.


Mereka pun bertengkar lagi, hanya masalah sepele Laila tak memaafkannya, Raihan pun malah menjadi seperti anak kecil. Memang benar, Laila berdampak sangat banyak dari pada dampak Raihan kepada Laila.


Seminggu berjalan dengan sangat baik, meski belum ada cinta di antara mereka. Tapi, kini mereka sudah bisa saling menerima satu sama lain, jika mereka adalah pasangan suami istri sekarang.


Alih-alih Laila mengajak Raihan liburan, ia malah mendapat hukuman karena belum bisa naik ke juz 3. Laila sering mengeluh pusing jika mengaji lima kali dalam sehari. Meskipun begitu, Raihan tak pernah kecewa dengan Laila, ia tetap memberi semangat untuk istrinya bisa berubah dengan baik.


Hari itu, Laila, Airy dan Naira habis pulang dari muslimatan di desanya. Banyak hal yang masih Laila belum mengerti tentang cara berkeluarga. Semua ia tanyakan kepada Airy dan Naira. Tapi, apa yang terjadi....


"Masa nolak anu anu dosa, sih? Kan nggak boleh maksa? Heran aku!" keluhnya.


"Ya beda kalau maksa. Tapi, emang kita sebagai wanita, dosa kalau menolak di ajak anu-anu sama suami. Kamu udah anu anu berapa kali sama, Bang Rai?" eh Airy ini. Mengucapkan hal intim seperti itu tak melihat jika Naira ada di sampingnya.


"Ya Sallam, wahai ibu-ibu muslimatan, ane masih single ini. Kenapa bahas anu-anu sekarang, sih? Ntaran kalau ane udah jauh dari kalian! Asyem!" kesal Naira.


"Ya maap, tapi kan emang itu tadi yang di bahasa, Ra!" jawab Airy.


"Iya, lagian kamu ngapain ikutan, sih? Harusnya, kamu kuliah yang bener, terus cepet dapat jodoh, biar bisa anu-anu," timpal Laila.

__ADS_1


"Emang kamu pernah anu-anu? Aku yakin kalau kamu ini masih perawan, hahaha kasihan deh malam pertama ketunda," ejek Naira.


Terjadilah tawuran di antara Laila dan Naira. Airy bingung ingin memisah dua orang itu bagaimana. Karena dia juga sedang tidak enak badan. Untung saja, ada Aminah dan Mayshita yang baru saja pulang dari sekolah. Mereka berdua pun melerai perkelahian yang menggairahkan itu.


__ADS_2