Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 133


__ADS_3

Ada kalanya hati manusia condong kepada rasa sedih yang berkepanjangan, bimbang, resah, dan perasaan-perasaan negatif lainnya. Bahkan, peraaan-perasaan itu terkadang dapat muncul tanpa disertai dengan alasan yang pasti. Terlebih tubuh yang lelah dan hati yang kosong merupakan tempat yang rawan untuk dihinggapi perasaan-perasaan negatif tersebut.


Raihan sedang duduk termenung di balik jendela kamar asramanya. Sesekali memainkan penanya ke kanan dan kekiri. Masih memikirkan bagaimana masa depannya nanti. Jika ia harus keluar negri lagi, bagaimana dengan keluarganya di rumah. Papa dan Adiknya hanya tinggal berdua di kampung halaman.


"Wahai orang-orang yang beriman jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." Ucap Diaz memecah lamunan Raihan.


"Hati kita adalah milik Allah. Ia adalah satu-satunya yang berkuasa membolak-balikan, menghilangkan, serta mendatangkan sesuatu ke dalamnya. Maka, mintalah dengan segala kerendahan diri kepada-Nya agar dihilangkan semua perasaan-perasaan negatif di dalam hatimu termasuk perasaan galau tersebut dan digantikannya dengan perasaan yang menenangkan." sambungnya.


"Apa sih, nggak ada galau-galau an. Kau hanya sedikit bimbang aja." Jelas Raihan merapikan meja belajarnya.


"Diskusikan dulu aja sama keluarga. Kalau saranku sih, ambil saja. Lumayan kan bisa pertukaran pelajar di Jerman, jarang-jarang an loh ini kampusnya baik hati. Kamu orang terpilih Han!" Timpa Raditya.


"Opo sih! Aku ndak akan kemana-mana. Cukup disini saja sudah membuatku gerah polo (sakit kepala/otak/pikiran), lebih baik kita siap-siap sholat aja yuk." Raihan mencoba mengalihkan fikiran nya, agar tidak terlalu pusing memikirkan hal itu.

__ADS_1


Saat itu mereka hendak melaksanakan sholat maghrib. Kebetulan mereka bertiga memang tidak menunggu waktu sholat di masjid. Karena sepulangnya dari kampus, Raihan merasa tidak enak badan.


"Assallamu'alaikum, ya Raihan! Hal Kun Bikhaiyr? " tanya seorang teman kepada Raihan.


"Alhamdulillah, ana 'afdal halaan, (Alhamdulillah aku sudah mendingan) " jawab Raihan dengan menyentuh dadanya.


Disisi lain, Airy sudah bersiap-siap akan pulang. Kebetulan Rindi juga sudah kembali lagi setelah mengambil barang-barang milik Airy di rumah sakit. Di mobil, Airy ingin sekali menanyakan tentang foto yang ia lihat di ponsel Adam. Kemungkinan yang mengganjal dihati Airy.


"Kok diam saja sih sayang. Kenapa?" tanya Adam fokus menyetir.


"Alhamdulillah dong, ada apa sayang?" tanya Adam membelai kepala Airy.


"Aku tadi sengaja, penasaran dan bahkan sudah tingkat internasional pengen terbang gitu keluar negri, rasanya penasaran ku."

__ADS_1


"Foto itu, foto siapa? " tanya Airy.


"Hah?" kata Adam.


Airy mengambil ponsel Adam yang berada di sakunya. Ini kali pertama Airy membuka-buka ponsel Adam sebelum ada izin. Karena Airy merasa penasaran.


"Maaf ya Mas, aku salah udah buka-buka barang peribadi Mas Adam, tapi aku sungguh penasaran sama foto berenam ini!" kata Airy memperlihatkan foto dari ponsel Adam.


"Dan caption ini? Siapa meraka? Aku yakin yang ini kamu sama Ustad Zainal," timpa nya.


Melihat foto itu, Adam langsung mencari tempat untuk parkir sementara, agar ia bisa menjelaskan siapa saja yang ada di dalam foto itu. Setelah berhenti, Adam hanya tersenyum, lalu ia meminta ponselnya kembali.


"Ini diambil sekitar 10 tahun lalu, ada Mas, Mas Zainal, Mas Hafiz, Bela, Rindi dan Sari. Kami bertiga dulu hidup rukun, setelah beranjak dewasa dan mengenal perasaan kelawan jenis, kita nggak bisa seperti dulu. Aku......... "

__ADS_1


"Cukup! Aku rasa ini nggak perlu dibahas lagi. Biarlah menjadi masa lalu dan akan tetap menjadi masa lalu. Karena masa depan Mas Adam sekarang adalah aku. Aku tidak ingin membuka luka lama yang ada di hati suamiku ini!" potong Airy, seraya mengecup pipi Adam.


Airy memang tidak ingin tahu tentang masa lalu Adam yang mungkin akan membuka luka hatinya lagi. Karena dalam foto itu, 2 orang yaitu Sari dan Bella kisahnya selalu menyakiti perasaan Adam. Apalagi Sari, sejak dulu memang Ia sudah memiliki watak yang sombong dan tidak mau tahu. Apa yang ia inginkan harus selalu ia dapat juga. Tapi yang Airy herankan, kenapa harus Sari dan Rindi yang jatuh cinta kepada suaminya itu. Lalu bagaimana dengan Hafiz? Airy selalu merasa ada yang menjanggal setiap Adam membicarakan tentang Hafiz.


__ADS_2