
Suara adzan subuh kali ini, membuat seluruh tubuh Laila gemetar. Mengingat kata-kata Raihan yang ingin melakukan hal itu setelah sholat subuh, ia terus saja memandang wajah Raihan dengan seksama.
"MasyaAllah, lagi tidur aja dia kelihatan cakep! Apalagi di bayangin dia ada di atas aku?" hayalan gila Laila mulai mendarah daging.
Raihan terbangun, ia memergoki Laila yang terus saja memandangnya. Alih-alih merasa gugup, Raihan malah mengecup mesra kening Laila. Keringat dingin mulai berdesir di setiap kulit Laila. Jantungnya seperti di pompa terlalu cepat hingga mau meledak.
"Sholat dulu, yuk." ajak Raihan.
Memang sholat adalah kewajiban yang tidak harus di tinggalkan, Laila menyusulnya ke kamar mandi. Setelah itu, seperti biasa, Laila mandi dulu sebelum sholat subuh. Agar bisa sholat dengan khusuk. Ketika mandi, ia terus memikirkan bagaimana semua akan terjadi nanti. Ia menyentuh terus bagian tubuhnya, takut jika nanti dia salah dalam mengapresiasikan. Mengapresiasi 😌
Usai sholat subuh, Raihan meminta Laila untuk mengaji terlebih dulu. Karena bagaimanapun juga, ia masih harus mengaji, sebab masih di juz 2 belum khatam. Selesai ngaji, ini waktu yang di tunggu oleh Laila. Ia segera membereskan sajadah dan mukena, kemudian duduk di ujung kasur.
"Aku, ganti baju dulu, ya." ucap Raihan.
__ADS_1
Laila mengangguk, ternyata Raihan sama. Ia juga gugup ketika ingin melakukan itu. Di depan almari, sambil memakai kaosnya, ia menghela nafas panjang dengan tangan gemetar.
"Ya Allah, aku harus bagaimana?" batin Raihan.
"Aku bukan lagi aja deh, pesan dari Ustad Adam," imbuhnya.
Sebelumnya, memang Raihan sudah konsultasi dulu kepada adik iparnya sewaktu di luar kota. Adam memberikan banyak penjelasan yang ia berikan berupa pesan teks. Raihan membalikkan badannya, menghampiri Laila yang masih duduk di ujung kasur. Kemudian, Raihan duduk di sampingnya.
"Assalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh," salam Raihan kepada Lailasambil menundukkan kepalanya.
Raihan menghela nafas panjang. "Kamu udah yakin?" tanya Raihan dengan sedikit gugup.
"Itu sudah kewajibanku, untuk melayanimu dengan yakin, InsyaAllah aku siap!" ucap Laila mantap.
__ADS_1
Dengan sedikit gugup, Raihan memegang kedua bahu Laila, ia mengharapkan istrinya kepada dirinya. Kini, mereka sudah saling berhadapan, dengan pelan.... Raihan menyentuh kening Laila, serta mengucapkan, "Allahummaa innii as-aluka min khairihaa wa khairi maa jabaltahaa alaihi Wa audzubika min syarrihaa wa syarri maa fiihaa wa syarri maa jabaltahaa alaihi." Kemudian menghembuskan nafasnya di ubun-ubun Laila.
Entah mengapa, Laila menjadi merinding saat itu, sudah terbiasa jika dirinya di sentuh oleh sentuhan tangan Raihan, tapi pagi itu terasa berbeda. Supaya menghindari ketegangan, Raihan memberikan ucapan manis dan beberapa lelucon sewaktu dia kecil dulu, itu yang ingin ia lakukan sebelum melakukan jimak, agar tidak tegang dan canggung.
Kemudian, ia mencium pipi Laila dengan lembut, ciuman itu turun ke bibir. Kini, bibir mereka saling beradu, tangan Raihan mulai meraba tubuh Laila hingga terdengar desahan yang tertahan dari Laila. Mendengar itu, Raihan langsung memeluk istrinya.
Menidurkan tubuh Laila ke kasur, dan menyelimuti ke seluruh tubuh. Kini, mereka berdua tengah berada di balik selimut yang hangat itu.
"Lanjut...?" Raihan memastikan jika Laila benar-benar sudah siap.
Laila mengangguk pelan. Kemudian, si cumbunya Laila dengan bergairah, tangannya mulai menanggalkan busana yang mereka pakai, dengan doa, sedikit dorongan dan yakin, Raihan dan Laila bersatu dalam kenikmatan dunia yang Allah anjurkan bagi suami istri.
Detail amat yak😒
__ADS_1
​