Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 310


__ADS_3

"Kamu kenapa?" tanya Raihan memecah lamunan Laila.


Mereka sedang duduk berdampingan, Raihan membaca buku, sementara Laila sendiri sedang termenung memikirkan Mita yang tak kunjung pergi dari ingatannya.


"Sebenarnya, hubungan Abang sama Mita, dulu bagaimana, sih?" tanya Laila.


"Ck, kenapa di bahas lagi, sih? Aku ndak mau ingat-ingat masa lalu itu!" tegas Raihan. "Aku hanya penasaran saja, kenapa dia mengejarmu sampai sejauh ini, gitu." ujar Laila menunduk.


"Ya mungkin dia tidak tahan akan pesonaku," jawab Raihan.


"Oh, gitu? Tidak tahan.... " Laila mencubit pipi Raihan dengan kuat hingga membuat Raihan membalas dengan menggelitik-nya.


Kemesraan itu terganggu dengan kedatangan Rafa yang tengah membawakan makanan spesial untuk mereka berdua dari Airy. Laila menanyakan dengan siapa Rafa datang, ternyata Rafa sendirian, lalu menyuruhnya untuk segera masuk.


"Rafa bawa apa? Kok sendiri, sih? Tante Aminah atau Pak Lek Ucup (Yusuf) mana?" tanya Rafa.


"Orang gede biasa sibuk, Mama Laila. Jadi, Rafa ke sini sendiri aja, nih Mama buatkan Mama Laila dan Om Abang seblak, udah ada tulisannya, ya...." Rafa menyodorkan sebuah rantang bergambar doremon kepada Laila.


"Oh, yang pedes Om Abang, terus yang nggak pedes buat Mama Laila sama Rafa gitu?" tanya Laila.


Rafa mengangguk, sudah terbiasa Rafa memanggil Laila dengan sebutan Mama. Karena memang dulu pernah menjadi pengasuhnya ketika di Jakarta. Melihat istrinya begitu menyayangi Rafa, Raihan sangat bangga kepadanya. Raihan menyentuh pipi Laila dengan lembut.


"Ehem, jangan jadikan aku cepat besar Om, Rafa masih mau jadi anak kecil!" ketus Rafa. Ia sudah kebal dengan Mama dan Abi-nya yang sering bermesraan di depannya.


Suara jangkrik terdengar, Laila dan Raihan saling menjaga jarak di depan Rafa. Sesekali, tangan nakal Raihan juga tidak bisa diam menyentuh Laila, itu pun juga di ketahui Rafa.


"Rafa mau makan sambil nonton tv aja deh. Om Bang sama Mama Laila jahat!" Rafa pergi ke ruang tengah, lalu menyalakan tv.


-_-_-


Di sisi lain, Raditya tengah mengantar Aminah pulang. Di sepanjang jalan, Aminah terus saja mengoceh tiada henti. Semakin lama, Raditya sudah terbiasa dengan ocehan Aminah. Banyak yang di katakan oleh Aminah, termasuk beberapa bulan lalu yang mana dirinya di tembak oleh seorang lelaki.

__ADS_1


"Apa?" tanya Raditya.


"Kok biasa gitu sih kagetnya? Harusnya yang, wah… gitu dong, kek Mayshita misale," protes Aminah.


Raditya menghentikan motornya tepat di depan gapura pesantren. Ia menanyakan masalah Aminah dengan lelaki yang menyatakan cintanya itu.


"Bukan cowok yang tadi, 'kan?" tanya Raditya.


"Ya bukanlah, hehe aku memang banyak yang menyukai. Tapi tenang, aku masih belum tertarik untuk saling mencintai. Cita-citaku harus tergapai dulu sebelum memiliki cinta dari lelaki lain," jelas Aminah.


"Entah mengapa perasaanku sedikit lega. Tapi, dia masih kecil untuk di perjuangkan, Ya Allah, ada apa denganku ini?" lenguh Raditya dalam hati.


Aminah pun turun, ia berjalan kaki menuju rumahnya. Karena tidak ingin menimbulkan fitnah juga. Biarpun begitu, Aminah masih harus menjaga nama baik kedua orang tuanya. Karena sedikit salah saja, orang tuannya juga pasti kena masalahnya meski tidak melakukan.


Sementara itu, Yusuf juga sudah pulang dari perpustakaan. Ia sengaja pulang ke rumah Airy dulu sebelum ke pesantren. Mungkin dengan semua orang, dirinya bisa menyimpan rahasia, tapi tidak dengan kakaknya. Dengan Airy, ia sangat terbuka, bahkan semua yang terjadi dengannya, pasti Airy juga mengetahui.


"Assallamu'alaikum," salam Yusuf.


"Wa'alaikumsallam," jawab Airy. "Baru pulang? Tumben minggu main? Biasanya juga ke pesantren seharian bersama Hamdan dan Falih?" tanya Airy yang sedang menghitung uang hasil panen.


"Kita cuma berdua, kenapa ada 3 bakso?" tanya Airy.


"Mas Adam?" tanya Yusuf.


"Ke luar kota dengan Gu," jawab Airy.


"Yah...." sesal Yusuf.


"Kalau begitu, simpanlah di kulkas. Nanti pas Rafa pulang, biar dia yang makan!" pinta Airy.


Yusuf pergi ke dapur. Tak selang waktu lama, ia keluar membawa baki yang berisikan dua mangkuk dan dua gelas. Mereka mulai menyantap bakso kesukaan Airy bersama.

__ADS_1


"Apa yang ingin kamu ceritakan?" tanya Airy.


"Kakak tau yang namanya Mita, nggak? Temen Abang di Jerman dulu?" Yusuf mulai menanyakan tentang Mita.


Airy mengangguk, sambil memakan baksonya, ia pun berkata, "Tau, kenapa?"


"Ternyata, kecelakaan yang di alami Bang Rai itu hal yang di sengaja. Aku mendapatkan bukti ini ketika aku hendak masuk ke rumah sakit. Dan ternyata, dialah Mita! Tak habis pikir aku sama orang yang buta cinta seperti dia," ungkap Yusuf memberikan rekaman Mita ketika menelfon orang yang di suruh mencelakai Raihan.


Tak di sangka, Airy juga sudah menduga hal itu ada kaitannya dengan Mita. Karena ia juga sempat bertemu dengannya malam itu juga. Airy pun menceritakan, jika Mita ini terus saja menyebut nama Raihan ketika di dalam telfon.


"Tapi, kakak nggak ngeh kalau Hansel yang dia maksud itu Bang Rai, Suf!" seru Airy.


"Nah, itu! Dia pakai nama Hansel," sahut Yusuf.


"Terus? Terus?" tanya Airy dengan mendekat ke wajah Yusuf.


"Nyemprot, Kak! Pedes ah!" kesal Yusuf.


"Ya maaf, saking penasarannya kakak ini," kata Airy mengelap wajah adiknya.


"Nggak papa, aku baik-baik saja." ucap Yusuf menepis lembut tangan Airy. "Terus, aku tadi sengaja ngikuti dia, Kak. Dan emang dia udah ada niat jahat lagi. Aku yakin dia ini sakit mental. Jadi aku bawa dia kerumah sakit jiwa lah!" sambungnya.


"Bagus! Daebak! Itu baru adikku, semoga lama di rumah sakit jiwa hahaha rasain! Hahaha!" terdengar tawa jahat dari mulut Airy.


"Psycho, hahaha. Tapi, nanti aku tetap akan memintanya mengakui kesalahannya, biar dia kapok, tanggung jawab gitu," lanjut Yusuf.


Yusuf juga menceritakan caranya bisa membawa Mita ke rumah sakit jiwa, dan merekam semua pembicaraan soal nembak Mita di bawah pohon rindang. Mendengar kata cinta yang terlontar dari bibir Yusuf, Airy tidak menyangka jika adiknya bisa se seram itu berani mengungkapkan perasaan ke lawan jenis.


"Amit-amit, astaghfirullah. Aku nggak ada rasa apapun dengannya. Dengar ya kak, aku hanya akan menyukai wanita yang akan menjadi istriku kelak. Aku tidak mau ketulah, hanya saja aku tidak ingin menikah dengan wanita yang pernah menyakiti keluargaku, sekalipun dia sudah berubah menjadi baik!" tegas Yusuf.


"Alhamdulillah, aamiin. Semoga saja, adikku yang tampan ini selalu dalam lindungan Allah. Tapi, harusnya kamu bikin baper dulu dia, biar makin takut, hahaha...." Airy masih saja belum puas dengan apa yang di lakukan Yusuf.

__ADS_1


"Ingat, sedang hamil. Jangan lanjutin ghibah ini, lebih baik kita dengar kabar selanjutnya nanti dari Tante Clara," tutur Yusuf.


Sore itu, baik Yusuf maupun Airy banyak menceritakan hal yang membuat mereka tertawa. Hingga lupa untuk menjemput Rafa di rumah Raihan.


__ADS_2