
“Aku kangen sama Zahra, Mas. Pengen peluk,” ucap Airy di pelukan suaminya.
“Memangnya, dia bersama siapa?” tanya Adam.
“Mbak Ifa dan Ustad Zainal. Kamu nggak ingat? Zahra juga anak kita, loh!” ungkap Airy.
“Anak kita? Terus kenapa bersama Mas Zainal dan,.. Siapa Ustdazah? Ustdazah Ifa?” tanya Adam, terkejut saat mengetahui jika kakaknya sudah menikah.
Hal itu belum Adam ketahui, lebih tepatnya belum ia ingat. Seingat Adam, ia masih tinggal di Kairo, belajar. Airy pun menceritakan tentang pernikahan kakak iparnya itu, kemudian tak lupa bercerita tentang siapa Zahra sebenarnya.
“Apa? Zahra anaknya, Sari? Terus?” tanya Adam.
“Sari sudah meninggal ketika melahirkan, Zahra. Dia juga berpesan agar kita merawat anaknya, yang kamu namai Zahra. Tapi, karena aku harus ke sini, Zahra di rawat oleh Mbak Ifa, karena dia tidak bisa mengandung.” Jelas Airy.
__ADS_1
Ia juga menjelaskan lebih detail kepada Adam tentang kehidupan lima bulan sebelum ini. Kenapa lima bulan? Karena Adam dirumah sakit hampir 1 bulan. Mendengar kenyataan dari istrinya, Adam sedikit-sedikit bisa mengingatnya. Namun, tentang Sari, dia tidak mengingat apapun, meskipun ia pernah di fitnah tidur dengan Sari.
“Oh, iya. Tentang nambah anak? Gimana kalau kita kembali ke kampung halaman. Tapi setelah kamu wisuda, tentunya.” Usul Adam.
“Siap, Pak Bos!” ucap Airy seraya memeluk suaimya dengan erat.
Tak sampai esok hari, ternyata Raihan dan Raditya sudah pulang. Mereka sangat rindu dengan Airy dan Rafa, makanya mereka pulang cepat. Apalagi, Raihan mendengar keluhan dari adik kesayangannya itu, tentang Hans.
“Assalamua’alaikum.” Salam Adam dan Raihan bersamaan.
Meskipun sudah dewasa dan memiliki suami, tetap saja, di depan Raihan, Airy masih bersikap seperti anak kecil. Ia bahkan memeluk dan mencium pipi Abangnya itu. Malah terkesan berebut dengan, Rafa. Hafiz dan Adam yang memang sedang duduk bersama di ruang tamu pun ikut senang.
“Airy! Kamu kan sudah bersuami, sudah tak sepantasnya dengan Abang begini. Berubah ah, jangan begini, ya.” Ujar Raihan melepaskan pelukan Airy.
__ADS_1
“Iya deh, maaf. Assalamau’alaikum , Mas Radit. Apa kabar.” Mudah sekali Airy mengalihkan perhatian.
Airy memang humble, banyak di sukai kaum lelaki, tapi malah sering di musuhi kaumnya sendiri. Raditya yang belum pernah bertemu dengan Rafa pun juga langsung akrab. Sifatnya sama dengan Airy, suka nangkring, berpetualang dan banyak tingkahnya.
“Ustad, sudah ingat denganku?” tanya Raditya, ia juga sudah tau musibah yang menimpa Airy dan Adam.
“Kamu?” ucap Adam.
“Ah, aku mung kembang tebu kabur kanginan. Hehehe, nanti kalau sudah ingat, hubungi aku lagi, ya hehehe,” canda Raditya.
Suasana semakin hangat karena kehadiran, Lulu. Sengaja di undang Airy karena diam-diam dia sedang dekat dengan Hafiz. Di belakang, Bi Nar dan Pak Dar merasa bahagia, sudah hampir 25 tahun rumah itu sangat sepi, sekarang ramai dan tambah nyaman dengan kehadiran kaluarga Aisyah, selaku anak dari Leah, sang Putri Mahkota di keluarga Handika.
“Alhamdulillah ya, Pak. Rumah ini sekarang ramai, di tambah Mbak Airy sama seperti Non Aisyah dulu, sangat ramah dan baik hati.” Ucap Bi Nar.
__ADS_1
“Kata tukang kebun, Almarhum Mang Rahum, Nyonya Leah dan Tuan Sandy juga sangat baik, makanya anak cucunya juga memiliki sifat yang demikian rupa.” Timpal Pak Dar.
Kedekatan Hafiz dan Lulu juga semata-mata karena menyangkut kesehatan dari, Adam. Ada hal lain yang sedang mereka rasakan, namun masih saling gengsi dan masih malu-malu. Cocokkah mereka bersatu menjadi pasangan?