
Setengah jam sebelum buka puasa, seluruh santri putra dan putri yang tidak piket sedang tadarus di mushola lama khusus santri putra, dan santri putri ada di aula. Raihan dan Raditya sedang mencari jejak atas insiden lampu gantung itu. Setelah sekian menit mereka di sana, akhirnya menemukan jejak, yakni ada Zahra yang baru saja keluar dari belakang masjid.
"Itu Zahra kan? Kenapa dia keluar dari belakang masjid?" tanya Raihan.
"Kamu ikuti Zahra, aku akan kebalakang masjid, oke? Cepat Raihan!" Kata Raditya bergegas kebelakang masjid.
Ternyata benar dugaan Raditya, Zahra baru saja membuang obeng dan baru bertemu dengan Soni, salah satu santri putra yang super bandel disana. Raditya langsung mengabari Ustad Zainal dan menceritakan semuannya. Mereka akan membongkar kejahatan Soni dan Zahra secara diam-diam, agar mereka tidak kabur duluan sebelum di tangkap.
Sementara itu, Raihan mengikuti Zahra sampai di kebun belakang, pinggir empang milik Adam. Raihan terkejut, ternyata di balik masalah itu, lagi-lagi adalah Sari. Ini kesempatan Raihan untuk menjebloskan Sari kedalam penjara, ia mendekat dan menguping pembicaran Zahra dan Sari.
"Ck, nggak kedengeran lagi, kalau mendekat nanti ketahuan dong." Kata Raihan dalam hati.
Ia mendapatkan ide, dengan rekaman suara, ponselnya ia ikat dengan ranting yang panjang, dan di dekatkan secara perlahan dari jauh. Lalu, Raihan meninggalkan mereka beserta ponselnya.
__ADS_1
Sekitar 10 menitan, Zahra dan Sari keluar, kembali kepesantren, karena waktu sudah saatnya untuk.berbuka puasa. Raihan mengendap-endap ke samping empang dan mengambil ponselnya.
"Alhamdulillah, nggak mati kenapa-kenapa ini ponsel. Jika sesuatu terjadi pada ponsel ini, Airy pasti ngamuk dan marah besar, ini kan hadiah dari dia." Ucap Raihan.
"Darrrr, Assallamu'alaikum warohmatullahi wabborakatuh!" Salam Raditya mengagetkan Raihan.
"Allahumma sholli'ala sayyidina muhammad, Ya Allah Ya Rabb, Dit!" Raihan menendang Raditya sampai Raditya terjebur keempang.
Byurrrrr..
"Hahahaha, semua salahmu dewek, lapo mbok kagetke aku Dit, sepurane ya, ndene aku tarik." Sahut Raihan mengulurkan tangannya.
Raihan belum akan memberitahukan kebenaran Sari kepada Airy, karena waktunya belum tepat untuk Airy mengetahui hal itu. Raihan akan lebih awal mengirimkan rekaman dan bukti yang Raditya temukan kepada Clara.
__ADS_1
Di rumah sakit, keluarga Airy langsung berpamitan karena Yusuf dan Aminah harus masih sekolah esoknya. Berbeda dengan Airy yang sudah ujian langsung menikah. Berat meninggalkan seorang anak yang baru saja menikah, tetapi memang itu yang ia inginkan.
"Gak buka bersama ini? Aku di tinggal sendiri dong?" tanya Airy dengan memanyunkan bibirnya.
"Maaf sayangku, tapi mau bagaimana lagi, kami nanti buka di jalan saja. Kamu berbaktinya kepada suami, ingat! Keburukanmu dulu yang kamu katakan, buat dia mengerti keburukanmu dulu, jangan sok jadi wanita solihah, ok?" tutur Aisyah.
"Buat apa aku menjadi orang lain, Ustad Adam juga taulah sifat burukku. Ami kan tau aku, aku nggak suka.berpura-pura, itu hanya akan menyakiti diri sendiri, dosa juga lah." Kata Airy.
"Nak, sampaikan salam kami ke Adam ya, maaf nggak pamit, karena dia juga baru tidur. Usut sampai tuntas, Papa yakin lampu itu suatu kesengajaan, ada hal apapun, katakan kepada Abang, hubungi kami, minta pendapat dengan Tante Clara juga ya." Nasihat Rifky.
"Ingat Airy, jangan gegabah, kurangi sifat badungnya, sekarang setatus kamu sudah berganti!" Sahut Syakir.
"Cucu Kakung nggak usah di kasih banyak tugas gitu dong, dia tau apa yang harus ia lakukan. Bener nggak sayangku?" Tanya Ruchan memeluk Airy.
__ADS_1
"Ini baru lelakiku, aahh sayang Kakung deh, bearti aku boleh dong jenguk kalian sewaktu-waktu?" tanya Airy gembira.
Berbagai nasihat dan saran dari Tante-tante tercintanya juga Airy dengarkan. Bahkan ciuman manis dari sang adik Aminah juga ia dapatkan, hanya saja Yusuf yang saat itu paling sedih berpisah dengan Airy. Pasalnya, kini ia tidak bisa bermain sepuasnya lagi bersama kakaknya itu, karena pasti Airy akan sibuk dengan dunia barunya.