Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 244


__ADS_3

"Udah sana cari, dan 3 tahun juga 'kan berdoanya? Sekarang udah di jawab tuh sama Allah. Allah Maha baik, jangan sia-siakan kesempatan!" sindir Airy.


Raihan pun mencari Laila, yang katanya sedang melihat sekeliling pesantren. Sementara Resti, ia mengikutinya dari belakang.


"Kenapa, Mas Raihan sebaik itu harus sama Laila. Laila aja kalau pakai hijab harus di paksa, dia juga tidak mengaji, kurang cocok sama, Mas Raihan." gerutu Resti.


Resti ini sebenarnya gadis yang sangat baik. Namun, ia memiliki sedikit ganguan kejiwaan karena pernah di bully sangat keterlaluan dulu sewaktu kecil. Jadi, ia sering mendengarkan suara hatinya yang jahat, dan kadang juga sering bertengkar dengan dirinya sendiri.


Tapi, semua itu sudah tak lagi kumat, karena Resti tak lagi melakukan hal yang membuat dirinya merasa sakit hati.


"Assalamu'alaikum Warahmatullahi wabarakatuh," salam Raihan, dengan menyentuh dadanya. Karena ia merasa, ada gejolak dalam dirinya.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,"


Laila membalikkan badannya, bukan hanya jantung Raihan yang berdebar, Laila pun merasakan hal yang sama. Ia masih tidak menyangka, jika lelaki berbaju koko warna coklat itu adalah Raihan. Lelaki yang sama, yang pernah singgah di hatinya selama tiga tahun terakhir ini.


"Loh, Lu ngapain di sini? Ups, sorry! Maksud aku, ngapain kamu di sini?" tanya Laila kaget.

__ADS_1


Raihan hanya tersenyum, memandang langit-langit yang malam itu memang mendukung suasana hati mereka.


"Kenapa diam? Kalau orang nanya tuh jawab, Tengil!" seru Laila.


"Jadi, calon istriku ini adalah, Laila? Ya Allah, aku tidak tahu jika Engkau sudah menyiapkan semua ini, untukku." batin Raihan.


"Nih cowok, udah tengil, sekarang sok jual mahal lagi. Pakai acara senyum-senyum kagak jelas. Dih, cakep lu?" lanjut Laila.


"Ternyata, kamu masih belum berubah, ya. Masih sama dengan yang dulu, aku tidak menyangka kita bisa bertemu lagi seperti ini, mercon!" ucap Raihan dengan senyuman manisnya.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Maaf sebelumnya, bukan maksud aku mengganggu pertemuan kalian," Resti tiba-tiba datang dan mengacaukan semuanya.


Semua jadi tidak nyaman karena adanya Resti diantara mereka. Akan tetapi, apa yang dilakukan Resti itu ada benarnya juga. Raihan dan Laila belum mahramnya, jadi harus ada satu orang lagi untuk menemani mereka berdua.


"Kamu apa kabar?" tanya Raihan.


"Alhamdulillah, seperti yang kamu lihat. Maaf, aku belum terbiasa berhijab, jadi masih suka ngawur," jawab Laila.

__ADS_1


"Emm... " ucapan Raihan terpotong karena, Resti.


"Kamu 'kan baru belajar, pasti Mas Raihan memaklumi, kok. Benarkan, Mas?" sela Resti.


Raihan hanya tersenyum dan mengangguk. Ia tidak mempermasalahkan jika Resti ikut serta di sana. Tapi, dengan Resti menyela pembicaraannya, Raihan menjadi sedikit tidak nyaman. Raihan pun mengajak Laila masuk dan berkenalan dengan keluarga yang lain.


"Nah ini, bagaimana? Sudah ketemu? Mau 'kan di jodohin?" tanya Rifky.


"Assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,"


"Ila ngga mau kabur lagi?" goda Abi nya.


Mereka terlihat malu-malu. Awalnya, bersikeras tidak mau di jodohkan, sudah mengerti siapa yang akan di jodohkan dengannya, Laila seperti memberi kode, jika dirinya siap untuk menikah.


"Tapi jangan cepat-cepat, ya. Laila harus ngaji dulu di sini, maklum semuanya, dia belum bisa mengaji," ungkap Abi Laila.

__ADS_1


"Abi, jangan di ungkap dong, malu ah!" sahut Laila.


Jangankan mengaji, Laila ini meskipun anak. seorang Ustad, dia belum pernah belajar mengaji karena sejak kecil selalu bolos ngaji, dan kabur ke rumah neneknya. Itu kenapa Abi nya sering bersikap keras dengannya.


__ADS_2