
Langit yang mendung, sangat mendukung hati Airy saat ini. Begitu juga dengan Raihan yang tengah gelisah dengan apa yang terjadi. Ia duduk sendirian di depan rumah, sambil memainkan ponselnya. Saat itu, ia melihat Laila yang tengah duduk sendirian juga di batu besar di samping pesantren.
"Kenapa tuh Si Mercon di sana sendirian? Mana mendung gini. Emang nggak takut hujan apa," gerutunya.
Raihan pun mendekatinya, ketika ia hendak menegur Laila, dengan spontan Laila menyemprotkan air minumnya ke arah wajah Raihan. Untung saja Raihan bisa menghindar dari semprotan itu.
Pruuttttt.....
"Astaghfirullah, Allahumma Sholli'ala Sayyidina Muhammad. Kau pikir aku ini, setan?" ucap Raihan dengan nada sedikit kesal.
"Heleh! Lu 'kan temennya," ejek Laila.
"Pakai lu gue lagi, nih?" tegur Raihan.
"Duduk, gih!" ucap Laila dengan menunjuk batu kecil yang ada di sebelah batu besar.
"Gue nggak bisa jadi orang lain. Mau pakai lu, gue lah, mau pakai aku, kamu lah, sama aja! Ujung-ujungnya nanti pakai lu, gue, lagi!" jelas Laila.
"Itu aja sama Si Resti juga begitu, tadi udah bisa aku, kamu, sekarang elu, gue lagi. Emang harus ,ya. Jadi istri lu, gue harus bisa seperti Airy atau Ami lu gitu?" tungkasnya.
"Kamu manggil kakakmu, dengan sebutan nama aja?" tanya Raihan.
Semua Laila ceritakan kepada Raihan, tentang kenapa dia memanggil Resti dengan namanya. Memang benar dia lebih tua dua bulan darinya, tapi di samping itu, mereka juga tidak pernah akrab sama sekali.
Ada beberapa hal yang masih belum bisa Laila ceritakan kepada Raihan. Kini, mereka berdua malah saling beradu tenggorokan karena perbedaan pendapat.
__ADS_1
"Kamu harusnya panggil dia, Kakak!" seru Raihan.
"Ogah, terserah gue dong mau panggil dia apa. Kenapa lu yang repot, Tengil !!" sahut Laila kesal.
"Dasar Mercon!" balas Raihan tidak mau kalah.
"Tengil, nyebelin, nyepetin, muak gue lama-lama sama.... "
Belum juga Laila merampungkan ejekan nya, tiba-tiba mereka berdua tersiram air bekas pel dari samping rumah tetangga. Dengan kesal Laila ngomel tiada ada henti.
Sebelum sang pemilik rumah keluar memarahi mereka. Raihan langsung menyeret lengan jaket Laila dengan cepat, mereka berlari secepat mungkin agar segera sampai ke rumah.
"Woy! Gue bukan kucing, kenapa di cengkiwing ngene, sih!" kesal Laila.
"Bisa gila lama-lama deket sama, elu, Tengil. Hah, gini mau jadi suami gue...... "
Laila berjalan meninggalkan Raihan di belakang. Ia terus saja mengomel tanpa sepasi titik koma. Sampai juga Laila di depan gerbang pesantren, ia juga meminta Raihan agar tidak bermimpi untuk menikahinya (canda).
"Siapa ya, yang tiga tahun lalu, minta jangan ninggalin dan bilang kalau suka sama aku. Ehem, lupa-lupa ingat aku ini," sindir Raihan.
"Emang dasarnya pikun," jawab Laila dengan ketus.
"Kalau berjumpa dan berpisah dengan seseorang itu, biasain ucapkan salam, Mercon!" tegur Raihan dengan halus.
"Assalamu'alaikum!" salam Laila, masuk ke batas santri putri.
__ADS_1
"Wa'alaikumsallam warahmatullahi wabarakatuh."
Raihan tersenyum, pipinya mulai memerah, tapi ia enggan untuk mengakui bahwa dirinya juga mulai menyukai Laila lagi. Bukan enggan, Raihan tahu jika rasanya saat ini belum di benarkan untuk Laila. Ketika Raihan senyum-senyum sendiri, datanglah ketiga adiknya yang rusuh menggodanya.
"Kuching Kuching Ko Tehe..... " ledek Falih.
"Ya, Oppa! Saranghae, sarang beo, sarang walet... " Imbuh Hamdan.
"Emm, ukhty Anna Uhibbuka Fillah.. " timpal Yusuf yang kini mulai bobrok karena Falih dan Hamdan.
Mereka bahkan juga tertawa terbahak-bahak setelah mengucapkan kata-kata aneh mereka dan saling menekuk tangannya satu sama lain. Raihan kesal mendengar ledekan dari ketiga adiknya itu, ia pun menarik telinga mereka masing-masing. Bahkan sampai telinga mereka memerah karena jeweran tersebut.
"Aw, sakit.. "
"Sakit, Bang!"
"Ampun Bang Rai. Ampun!"
Rengek mereka, masih dengan nada meledek.
"Kalian maunya apa? Di hukum sama Aminah atau di suruh menghafal sama Mayshita? Jawab!" kesal Raihan.
"Kaboor........ "
Mereka bertiga langsung lari terbirit-birit, begitu kesal di buat adik-adiknya yang rusuh, sampai-sampai sandal warna biru miliknya melayang ke arah mereka. Bukannya mengenai salah satu di antara mereka, sandal itu malah mengenai Adam yang saat itu melintas bersama salah satu Ustad di pesantren.
__ADS_1