
Bagi orang yang baru sja menikah, malam pengantin terasa sangat cepat sekali. Untuk Raihan, ia sangat gugup akan melakukan apa di malam itu, sedangkan Laila hendak mengajaknya untuk main game bersama.
"ini, kamar lu?" tanya Laila, masih saja menggunakan bahasa gaulnya.
"Sebenarnya, dulu ini kamar Airy. Karena sudah tak terpakai lagi, ya udah aku rombak aja." jelas Raihan.
Laila duduk di ujung kasur, mengamati dengan detail setiap sudut kamar itu. Memang kamar itu tidak seluas kamar di rumahnya dulu, tapi terlihat rapi dan sangat bersih.
"Oh iya, aku belum sholat isyak. Kamu mau jama'ah atau sendiri-sendiri?" tanya Raihan.
"Bareng aja, ya. Ada mukena, 'kan?
Trik raihan mengajak Laila untuk sholat sunah setelah pernikahan. Masih biasa-biasa saja, tak ada ke uwu-an yang terjadi di antara mereka. Hingga setelah sholat, mereka menerima masing-masing pesan dari senior yang membuatnya geli.
"Jangan lupa berdoa dulu sebelum ena-ena," pesan dari Syakir untuk Raihan.
Airy dan Balqis juga menggoda Laila, "Apaan ini? Ih geli, ah!" seru Laila membuang ponselnya ke kasur.
Tak, tok, tak, tok....
Suara detik jam sampai terdengar karena kesunyian di kamar mereka. Sudah hampir satu jam mereka tidak melakukan apa-apa, hanya duduk di ujung kasur kanan dan kiri.
"Bosen nggak, sih?" tanya Laila.
__ADS_1
"Banget, mau tidur belum ngantuk,"
"Sebaiknya kita ..." belum juga Raihan mengutarakan isi hatinya, Laila sudah menyelimuti dirinya menggunakan selimut.
"Mau apa, lu?Jangan lakukan malam ini, aku belum siap!" pekik Laila.
"Su'udzon! Lha aku aja mau ngajak kamu ngaji bareng, kok."
"Alasan! Pokoknya jangan malam ini, mending kita main game, yuk!"
Raihan hanya geleng-geleng tak mengerti, di ajak kebaikan mengaji, malah tidak mau. Tertular virus laila, mereka pun menjadi main game sepak bola bersama.
Terdengar dari luar....
"Masuk, masukin Ya Allah! Masuk jangan kasih kendor! Woy! Ah elah!"
"Jangan keras-keras, dong. UDah malam ini, nggak baik kalau ada orang lewat dengar." tegur Raihan.
Sekitar ada tiga orang yang mendengarnya, bukan hanya salah dengar, mereka malah berniat untu mengintip dari celah jendela.
"Nggak kelihatan eh, lampu kamarnya di matiin!" seru orang itu.
"Yo wis, sebaiknya kita jangan ganggu mereka. Kayak nggak pernah melakukan malam pertama saja, ayo lanjut jalan!" seru bapak-bapak yang lain.
__ADS_1
Malam itu, mereka bermain game hingga larut malam, sampai ketiduran di atas karpet lantai berdua. Kini, posisi kepalanya saling menyender, tv juga masih menyala. Subuh terlewatkan oleh Raihan, mereka terbangun pukul 6 dan itupun karena di bangunkan oleh Aminah yang membawakan sarapan untuk mereka.
"Asyik ketemu pengantin baru. Malam pertama seperti apa, ya?" gumam Aminah.
"Assallamu'alaikum..."
Sudah sekian kali Aminah mengucapkan salam, tapi Raihan dan Laila tak kunjung keluar kamar juga. Akhirnya, ia pun nekat masuk rumah, karena pintunya tidak dikunci.
"Weh, mancing emosi ini. Pintu aja nggak di kunci, tapi ndak ada satu pun dari mereka yang keluar,"
Aminah main masuk saja, mungkin tidak lupa mengucapkan salam, tapi perbuatannya tidak bagus untuk di tiru. Melihat kamar Airy yang terbuka, ia pun membukanya.
"Astaghfirullah hal'adzim..."
Karena kaget dengan Aminah yang istighfar, Raihan dan Laila jadi terbangun. Mereka langsung merapikan diri dan meminta Aminah untuk menunggunya di luar.
Bergegas Raihan lari ke kamar mandi dan mandi. Sebelum itu, ia menengok jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 06.25, tertunduk lemas di kasur.
"Kenapa?" tanya Laila dengan wajah tanpa dosa.
"Nanti, peralatan game beserta tv nya akan aku buang. Gegara main game, kita jadi nggak sholat subuh, Mercon!"
"Eh, Tengil! Yang salah itu orangnya, kenapa yang di salahain tv sama ps-nya?"
__ADS_1
Keributan terjadi di antara mereka. Saling melempar bantal dan beberapa boneka Airy masa kecil yang masih di sana. Tidak lupa. mulut mereka juga saling beradu saling menyalahkan. Aminah yang mendengar itu pun langsung merekamnya.
"Asik, drakor versi live," ucapnya.