
Di Jogja, keseruan juga terlihat jelas di depan mata Laila dan Raihan ketika Ruchan dan Leah bermesraan di hari tuanya. Bahkan, mengalahkan keuwuan anak dan cucunya.
"Itu Kakung sama Uti dari dulu emang begitu, kah?" tanya Laila.
"Ho'oh, mereka jarang bertengkar sejak dulu. Karena salah satu dari mereka ada yang lunak ketika sedang berantem," jawab Raihan.
"Pasti Kakung yang sering ngalah," tebak Laila sambil makan buah yang Raihan kupas.
"Hahaha, semua orang bisa menebak itu, Sayang!" jawab Raihan.
Di sisi Leah dan Ruchan, mereka malah sedang membicarakan makanan yang enak-enak yang sudah tidak bisa di konsumsi karena alasan kesehatan. Mengingat masa muda memang sangat indah, apalagi mengingat di saat Ruchan hilang ingatan sementara, itu membuat Leah kesal karena harus mengulang ke Singapura.
"Eh, siapa yang minta ke Singapura? Kan Mama sendiri... Abi mana minta ke sana, kan gak lupa sepenuhnya waktu itu!" Ruchan masih mengingat saja saat dirinya hilang ingatan.
"Abi mah gitu.. waktu Mama keguguran juga malah Abi nggak pernah meromantisakan diri ke Mama," sahut Leah nggak nyambung.
"Hih, apa itu meromantisakan diri? Mama kalau ngomong kamusnya suka lucu, sudah di artikan! Yang penting, Abi selalu sayang sama Mama, selalu bersama-sama sampai tua nanti," ucap Ruchan.
"Sampai tua? Abi lupa? Kita emang sudah sepuh, Abi. Ndak ingat kalau kita sudah punya cicit?" kata Leah menyandarkan kepalanya ke bahu Ruchan.
Mereka tertawa bersama, bergandengan tangan dengan ongkang-ongkang kaki yang saling beradu. Melihat keharmonisan Kakung dan Uti-nya, Raihan dan Laila meninggalkan mereka dan pindah ke dapur agar tidak mengganggu.
"Hihi, lucu ya mereka. Katanya langgeng sampai tua, padahal sekarang udah tua," bisik Laila.
"Hush, nanti mereka dengar. Sudahlah, ayo cepat makan buahnya. Biar dedek yang ada di perut kamu ini sehat, segera minum susunya juga, ya..." ucap Raihan sambil mengelus perut Laila.
Di samping itu, Adam dan Airy sedang asik berdua di ruang TV. Meski hamil, Airy menikmati kehamilannya keduanya dengan santai. Adam memang jauh lebih romantis dari pada Raihan, ia bukan hanya mengupas buah untuk Airy. Adam juga sering memijat kaki dan tangan Airy meski Airy sedang tidak hamil.
__ADS_1
"Kenapa, sih? Mas Adam tuh suka banget mijitin kaki dan tangan aku? Kan aku jadi enak di pijit gini, hahaha. Kalau bau gimana?" tanya Airy.
"Suka aja, kaki dan tanganmu itu comel. Hehe, empuk karena sekarang berlemak, hehe," jawab Adam.
"Um, kode keras nyuruh aku diet nih?" kesal Airy.
"Mana ada? Sejak melahirkan Rafa kan kamu memang sudah lucu begini kakinya, aku suka, kok. Dari pada kamu yang kurus dulu," ucap Adam.
"Oh, jadi aku gemuk? Meskipun aku gemuk, ya setidaknya jangan di terangin, dong!" Airy mengamuk.
"Lah, salah lagi. Iya deh maaf, istriku sangat istimewa, lain dari yang lain pokoknya," ucap Adam serata mencubit pipi Airy.
"Maksudnya lain dari yang lain apa? Aku langka, gitu?" Airy masih saja kesal.
"Astaghfirullah hal'adzim, La ilaha illallah Muhammadarr Rosulullah... kamu lapar nggak? Mau aku buatin mie campur telur?" bujuk Adam.
"Njih ndoro...." jawab Adam.
Rayuan menggunakan makanan selalu berhasil, itu jurus pamungkas Adam ketika Airy ngambek tak tergolong. Segera ia melaksanakan tugas negara bagi ibu negara. Agar ibu negara tak lagi ngambek tak tergolong.
-_-_-_-
Di Korea, Aminah dan Raditya sampai di rumah makan milik Jamil ndan Yoona. Aslinya itu cabang dari restoran dari Rifky, namun semua itu juga hasil kerja sama Rifky dan Yoona dulu waktu muda.
"Ini restorannya? Wah, ini mah seperti di Jogja. Masakan rumahan semua, pantas laris!" seru Aminah.
"Alhamdulillah dong kalau laris, ayo kita masuk." ajak Raihan sudah tidak sabar.
__ADS_1
Jamil dan Yoona masih saja ramah, mereka menyambut Aminah dan Raditya dengan baik. Mereka sendiri juga memberikan daftar menu, bahkan Jamil masih saja menggunakan bahasa Jawa beserta lelucon khasnya saat bercengkerama dengan Aminah dan Raditya.
"Assalamu'alaikum," salam Raditya dan Aminah bersamaan.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,"
"Alhamdulillah, akhirnya sampai juga. Tadi Yusuf dan yang lainnya sudah ke sini. Ayo sekarang kalian duduk dulu, mau makan apa? Ini menunya," ucap Yoona.
Aminah merasakan kehangatan seperti di rumah. Yoona dan Jamil juga seperti keluarga baginya. Meski tidak pernah bertemu, tapi yang namanya keluarga tetaplah keluarga yang pastinya memiliki ikatan batin yang kuat.
"Kamu yakin hanya pesan ramen sama bakso aja? Nggak ada pilihan lain?" tanya Yoona.
"Pengen banyak, tapi sepertinya nanti perutku tidak akan muat, Tante." Jawab Aminah.
"Ojo isin-isin, pesen wae kabeh sik menurutmu enak. Sik jarang di temokke neng kene, gratis wes!" sahut Jamil.
(Jangan malu-malu, pesan saja semua yang menurutmu enak. Yang jarang di temukan di sini, gratis!)
Biasanya Aminah tidak pernah sungkan kalau sudah menyangkut tentang makanan. Entah mengapa ketika bersama Raditya dan baru saat ini juga ia merasa jika makan banyak di depannya sungguh mempermalukan dirinya.
"Aku benci dengan kecanggungan dan kegengsian ini. Biasanya aku muat makan apapun juga, tapi sekarang...," batin Aminah.
"Om buatin aja makanan paling digemari di sini. Nanti kami tetap akan makan, kok. Iya kan Aminah? Bukankah kamu suka makan? Kita akan makan banyak hari ini, mumpung gratis… bener nggak, Om? Hahaha...." kata Raditya membuat Aminah malu karena menyebutnya suka makan banyak.
Sambil menunggu makanan datang, Aminah sedang sibuk dengan ponsel barunya. Ia mengirim beberapa foto kepada Mayshita yang tak bisa ikut bersamanya. Setelah menggeser foto lagi, ada foto dirinya bersama dengan Raditya ketika berada di gembok cinta beberapa jam lalu.
"Zina mata, zina hati dan zina pikiran. Sebaiknya aku hapus saja!" batin Aminah.
__ADS_1
Namun hal itu ia urungkan karena merasa sayang jika foto itu harus di hapus. Tak lama kemudian makanan pun tiba, dan mereka siap menikmati masakan dari tangan Jamil sendiri.