Perfect Paradise

Perfect Paradise
Bab. 294


__ADS_3

Matahari tiba-tiba bersembunyi di balik awan kelabu. Seolah-olah memberi isyarat jika sore hari akan hujan. Aminah dan Raditya mempercepat jalannya, masih sekitar beberapa gang lagi yang harus mereka lewati. Sayang, hujan tidak menunggu mereka sampai ke rumah Adam. Hujan deras tiba-tiba mengguyur tanpa permisi.


"Yah, hujan. Gimana, dong?" ucap Aminah.


"Neduh dulu, lah!" reflek tangan Raditya menarik tangan Aminah untuk berteduh di warung yang kebetulan sedang tutup.


"Halah, segala pakai hujan. Mana nggak bawa Jaz hujan lagi," gerutu Aminah.


"Sini, barangnya. Kehujanan nggak?" Raditya meminta barang yang ia titipkan kepada Aminah.


"Yang dikhawatirin cuma barangnya, aku enggak?"


Pandangan mereka menjadi aneh, melihat Aminah membuat jantungnya berdegup kencang. Bahkan, sambatan petir pun di kalahkan oleh pandangan itu. Semakin sore, hujan tak kunjung reda malah semakin deras. Aminah tak membawa ponsel karena sedang ada ulangan. Ia terus saja menggerutu karena dirinya sudah kedinginan.


"Mana nggak bawa hp lagi, kayak gini mending tadi terima tawaran dari Malik," gerutunya.

__ADS_1


'"Siapa Malik? Pacar? Hayoo, dosa tau masih kecil pacaran," tegur Raditya.


"Terserah apa kata kau lah!" ketus Aminah.


Merasa berdosa meninggalkan sholat ashar, Raditya menelpon Adam untuk segera menjemputnya di warung mereka berteduh. Untung saja Adam masih berada di rumah, karena biasanya setiap sholat ia pergi ke masjid.


"Lah, kenapa nggak dari tadi sih telpon Mas Adam-nya? Kenapa setelah kita melewati tujuh purnama, tujuh lautan, tujuh gurun, baru Bang Radit telpon Mas Adam buat jemput kita?" protes Aminah.


"Ah, jangan-jangan, Bang Radit sengaja mau berduaan sama aku, ya? Hih, otak nya ngeres kali kau, Bang!" sambungnya.


"Ngomong apa, sih? 'Kan tadi nggak tau kalau hujannya mau tambah deres," kilah Raditya.


Raditya tak habis pikir dengan Aminah. Baru kali ini, dia menemui perempuan yang langka seperti Aminah. Raditya hanya tersenyum saja melihat tingkah Aminah yang menggemaskan. Malu? Tidak! Aminah kurang memiliki rasa malu jika berada di depan lelaki.


"Dengar, ya? Pokoknya, jangan cemburu kalau aku memiliki dambaan lain, karena aku tak bisa cuma fokus dengan satu lelaki, oke?" ujar Aminah mengibaskan jilbabnya.

__ADS_1


"Mau dipacari gitu?" tanya Raditya.


"Mana ada, aku nggak mau pacaran lah. Aku deket sama cowok, cuma buat referensi ajah," ungkapnya manja.


"Hahaha, referensi apa Rodiyah? Nggak usah bergaya dah, aku laporin nanti kamu ke Ustad Syakir hahaha, mau kamu?" goda Raditya.


"Astaghfirullah hal'adzim, kamu berdosa banget main adu mengadu, nggak asik ah!"


Canda tawa mereka membuat suasana hujan deras itu menjadi hangat. Hingga Adam sudah sampai menjemput mereka. Sebelum pulang, Adam mengantar Aminah terlebih dahulu, kemudian pulang bersama Raditya. Tak banyak yang Raditya katakan kepada Adam, dalam hatinya biarlah itu menjadi rahasia antara keduanya.


Sampai rumah, Balqis langsung memarahi Aminah karena bolos dari kegiatan sekolah. Beberapa waktu lalu memang Mayshita yang bilang jika Aminah pulang lebih dulu, namun tak sampai rumah tepat waktu.


"Bagus, nggak usah pulang sekalian!" belum juga Aminah masuk rumah mengucapkan salam, sudah di sambut hangat oleh Mama Balqis dengan berkacak pinggang di balik jendela.


"Kenapa sampai di antara pulang sama Mas Adam? Kemana aja?" imbuhnya.

__ADS_1


Aminah melirik ke arah Abi-nya, berharap ada pembelaan. Tapi, Syakir malah sengaja memalingkan wajahnya. Aminah pun menjelaskan apa yang terjadi secara perlahan.


Hayo, siapa yang dulu main sampai sore, di sambut dengan ucapan ajaib dari Ibu begini?


__ADS_2